sampaikanlah walau satu ayat

Senin, 29 Maret 2010

YANG GAGAL MENJADI MUJAHID

Dalam mengomentari berbagai peristiwa yang terjadi pada tahun 270 Hijriyah, Ibnul Jauzi menyebutkan adanya seorang lelaki murtad yang bernama Abdullah bin Abdurrahim. Orang yang sengsara ini merupakan salah seorang mantan mujahid yang pernah berjihad bersama kaum muslimin dalam memerangi bangsa Romawi.

Dalam sebuah peperangan, ketika kaum muslimin sedang mengepung salah satu perkampungan milik Romawi, tiba-tiba pandangan Abdullah bin Abdurrahim tertuju kepada seorang perempuan Romawi yang berada dalam benteng pertahanan mereka. Akhirnya dia sangat bernafsu ingin memilikinya.

Dia lupa, tak seorangpun terjamin untuk tidak su-ul khatimah (akhir hayat yang buruk). Dia lupa bahwa maksiat menjadi duta pada kekufuran dan pandangan haram penghantar kepada zina, sementara wanita tetaplah fitnah terberat bagi kaum Adam. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ.

"Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita." (Muttafaq ‘alaihi)

Selanjutnya dia mengirimkan sepucuk surat cinta kepada perempuan yang telah menambat hatinya. Isi suratnya menanyakan, "bagaimana caranya supaya saya bisa sampai ke pangkuanmu?"

Perempuan itu membalas, "kamu harus masuk agama Nashrani dulu, baru kamu bisa naik menjumpaiku?"

Si murtad itu memenuhi permintaannya. Dia memeluk agama Nashrani dan meninggalkan agamanya, lalu dia naik ke atas bentengnya dan menikahinya.

Kaum muslimin sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Mereka sangat terguncang, seakan-akan keadaan berkata, "bagaimana mungkin hati yang sudah memahami Al Qur'an, sekarang menjadi hamba salib dan meningalkan Allah?"

Beberapa waktu kemudian, ketika kaum muslimin melintas di hadapannya ketika dia bersama perempuan kafir pujaannya dalam benteng miliknya, mereka bertanya, "Wahai Ibnu Abdirrahman, apa yang dilakukan oleh AlQur'an, kitabmu?"

"Wahai Ibnu Abdirrahman, apa yang telah dilakukan ilmumu?"

"Wahai Ibnu Abdirrahman, apa yang telah dilakukan shalat, puasa, dan jihadmu?"

Maka dia menjawab, "adapun Al Qur'an, sungguh saya telah dijadikan lupa padanya, dan hanya dua ayat saja yang masih teringat hingga sekarang. Seakan-akan Allah membuat saya tetap mengingat keduanya. Yaitu firman Allah Ta'ala,

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

"Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)." (QS. Al Hijr: 2-3)

"Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. . . ." al Ayat

Kemudian dia berkata kepada kaum muslimin, "sesungguhnya saya telah memiliki anak dan harta yang melimpah ruah bersama mereka!"

Maksudnya, dia tidak dapat lagi kembali meninggalkan mereka dan kembali ke pangkuan agama Islam. Aِِِِkhirnya lelaki murtad mantan mujahid itu berada dalam kerugian nyata dan larut dalam kekufuran. Cahaya iman dalam hatinya telah padam, padahal cahaya itu sebelumnya menjadi pelita dalam sanubarinya.

Aِِِِkhirnya lelaki murtad mantan mujahid itu berada dalam kerugian nyata dan larut dalam kekufuran. Cahaya iman dalam hatinya telah padam, padahal cahaya itu sebelumnya menjadi pelita dalam sanubarinya.

Untuk itu janganlah sekali-kali tertipu dengan jihah yang telah kita lakukan. Seharusnya kita senantiasa memanjakan doa,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ , يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu. Wahai Dzat yang mengendalikan hati, arahkan hati kami untuk mentaati-Mu."

(PurWD/voa-islam)

*Sumber: DI Bawah Kilatan Pedang (101 Kisah Heroik Mujahidin), karya DR. Hamid Ath-Thahir.

JIHAD ADALAH RIHLAH SEUMUR HIDUP

Jihad bukan sekedar rihlah (perjalanan) sementara yang akan berakhir di suatu negeri. Jihad bukan tujuan jangka pendek. Maka harus benar-benar ditanamkan dalam diri seorang mujahid bahwa jihad bukan keuntungan yang didapat dengan mudah dan juga bukan perjalanan yang yang pendek. Namun, jihad adalah perjalanan seumur hidup yang selalu mengiringi kehidupan. Jihad tidak akan berakhir selama urat nadi masih mengalirkan darah.

Jihad tidak hanya untuk membebaskan negeri Afghanistan, Palestina, atau Iraq semata. Tapi jihad adalah kewajiban yang terus-menerus ada dan ibadah yang harus dibiasakan di setiap pundak seorang muslim selama ia masih menginjakkan kaki di atas tanah dan masih memanggul senjata.

Sesungguhnya jihadnya seorang muslim bukan hanya untuk membebaskan sepetak tanah. Peperangan yang dilakukannya bukan peperangan kesukuan atau kebangsaan, tetapi cakupannya adalah seluruh negeri dan sepanjang zaman, serta tujuannya untuk menghapuskan kekufuran dan kesyirikan, sehingga dienullah benar-benar eksis dan tinggi di atas agama yang lain.

Allah Ta'ala berfirman,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

"Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." (QS. Al Anfal: 39)

(PurWD/voa-islam)
JIHAD : KEWAJIBAN YANG HILANG

Jihad fi Sabilillah merupakan kewajiban agung yang dicintai oleh hati setiap mukmin, walaupun banyak kesulitannya. Karena jihad akan membimbingnya di dunia dan akhirat. Jihad akan mengeluarkannya dari lembah kekerdilan ke puncak kejayaan, dari kehinaan kepada kemuliaan, dan dari kekalahan kepada kemenangan dengan izin Allah.

Jihad akan membimbing seorang mukmin kelak di akhirat sehingga dia memasuki surga. "Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali Imran: 185)

Dalam sebuah hadits disebutkan:

وَلَا يَجْتَمِعُ عَلَى عَبْدٍ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ

"Tidak akan berkumpul pada seorang hamba; debu pada jalan Allah dan asap jahannam." (HR. Ahmad)

مَنْ قَاتَلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فُوَاقَ نَاقَةٍ فَقَدْ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

"Barangsiapa yang berperang di jalan Allah walaupun hanya sesaat, wajib baginya mendapat surga." (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ahmad)

مَنْ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

"Barangsiapa berdebu kedua kakinya di jalan Allah, maka Allah haramkannya masuk neraka." (HR. Al Bukhari)

Karena itu, para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menangis ketika mereka tidak mampu berparisipasi dalam jihad. Maka, "mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan." (QS. At-Taubah: 92)

..Para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menangis ketika mereka tidak mampu berparisipasi dalam jihad...

Itulah kewajiban yang dijauhi oleh kebanyakan kaum muslimin pada zaman kita sekarang ini. Sungguh tepat orang yang menyebutnya sebagai "kewajiban yang hilang".

Kiranya, inilah perbedaan yang mencolok antara kita (generasi akhir umat ini) dengan para sahabat sebagai generasi awalnya. Ini juga yang menjadi kejelasan, kenapa Allah Ta'ala memuliakan mereka dan membiarkan kita dalam kehinaan dan kenistaan di bawah kuasa musuh-musuh Islam. sungguh tepat sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَ أَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِاالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاَّ لاَ يَنْزَعُهُ عَنْكُمْ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Jika kamu telah berjual beli dengan sistem “baiiul ‘innah” memegang ekor sapi dan ridlo dengan pekerjaan bertani serta meninggalkan jihad (dijalan Allah), niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kamu, Dia tidak akan mencabutnya dari kalian, hingga kalian kembali kepada agamamu.” (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat Silsilah al-Ahadiits ash-Shahiihah, jilid I hal.42 No.11)

. . . serta meninggalkan jihad (dijalan Allah), niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kamu, . .

Apa yang diberitakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ini sudah terbukti. Umat Islam begitu kikir menyumbangkan jiwa dan hartanya kepada Allah, padahal Allah sudah membelinya dari mereka dengan harga yang mahal, padahal Allah lah sebenarnya pencipta dan pemilik mereka. "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka."

..Apa yang diberitakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ini sudah terbukti.

Umat Islam begitu pelit menyumbangkan jiwa dan hartanya kepada Allah, padahal Allah sudah membelinya dari mereka dengan harga yang mahal...

Selanjutnya Allah menunjukkan pasar tempat diselenggarakannya perdagangan yang menguntungkan ini, "mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh."

Allah yang Maha Agung dan Maha Tinggi, sebagai pembeli, memberikan janji dengan penandatanganan perjanjian, "sebagai janji yang benar atas dirinya." Kemudian Dia meletakkan janji-Nya dalam semulia-mulia kitab yang diturunkan kepada para rasul-Nya, "dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an." Lalu Allah meyakinkan kembali para penjual yang akan menyerahkan harta dan jiwanya itu, bahwa Dia tidak pernah berdusta dan ingkar janji, "Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?."

Karenanya, Dia memerintahkan agar bergembira sebelum dilaksanakan perdagangan ini, "Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu." Sebab, sebenarnya dagangan itu betul-betul meraih keuntungan besar, "Dan itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah: 111)

Benar ini adalah keuntungan yang besar, si hamba menyerahkan dagangan yang dirinya tidak memiliki dan menguasainya. Si hamba menyerahkannya sebagai harga untuk mendapatkan surga yang seluas langit dan bumi, yang tak seorangpun dapat memasukinya dengan mengandalkan amalnya semata. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalnya." Para sahabat bertanya, "tidak juga engkau wahai Rasulullah?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "tidak juga aku hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya Allah sangat bermurah hati kepada siapa yang menyambut ajakan jual-beli ini, Dia mengembalikan dagangan yang telah dibelinya itu kepada penjualnya dan tetap membayar harga beli yang telah dijanjikan-Nya.

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki." (QS. Ali Imran: 169)

Dalam sebuah hadits disebutkan, "Sesungguhnya arwah para syuhada itu berada dalam tembolok burung hijau yang berkeliaran di surga ke mana dia suka. Kemudian ia hinggap pada lampu-lampu yang bergelantungan di bawah 'Arasy." (HR. Muslim)

..Namun demikian, kaum muslimin di zaman sekarang banyak meninggalkan kewajiban yang agung ini dan tidak menginginkan keuntungan yang besar itu...

Allah mengembalikan ruh-ruh mereka dan mengalirkan rizki kepada mereka sebagai manifestasi dari kemurahan dan kebaikan-Nya kepada siapa yang menerima dan rela melakukan perdagangan ini.

Namun demikian, kaum muslimin di zaman sekarang banyak meninggalkan kewajiban yang agung ini dan tidak menginginkan keuntungan yang besar itu. Kemauan mereka lemah untuk menapak kepada puncak kemuliaan agama ini, padahal "dan puncak kemegahan ajaran Islam adalah jihad."

Maha Benar Allah yang menerangkan dalam firman-Nya:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)

Nafsu benar-benar membencinya, lalu meninggalkannya. Bahkan untuk membicarakannya saja mereka antipati. Semua ini disebabkan karena kebodohan mereka akan hakikat jihad dan kecintaan mereka kepada dunia yang berlebih.

..Pembicaraan jihad semakin berat bagi seseorang karena nafsu ikut berbicara, dunia menarik kerah bajunya, syetan menghalangi dan menakut-nakutinya, sifat pengecut mengguncang jiwa dan membelenggu anggota tubuhnya...

Pembicaraan jihad semakin berat bagi seseorang karena nafsu ikut berbicara, dunia menarik kerah bajunya, syetan menghalangi dan menakut-nakutinya, sifat pengecut mengguncang jiwa dan membelenggu anggota tubuhnya, kesenangan dunia membentang di depannya sebagai tabir penghalang, sedangkan nafsu amat senang jika ada jalan untuk melarikan diri darinya.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?." (QS. An-Nisa': 77)

Dan datanglah penjelasan yang sangat indah, "Katakanlah: 'Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun'." (QS. An-Nisa': 77)

"Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun."

Mari kita tingggalkan dunia dan kesenangannya yang sedikit itu di belakang punggung kita. Mari kita tampil menggapai akhirat yang lebih baik bagi orang bertakwa, dengan mencintai dan merindukan jihad. "sesungguhnya surga itu berada di bawah kilatan pedang." (HR. Bukhari dan Muslim). [PurWD/voa-islam]

MISI JIHAD FI SABILILLAH

Sesungguhnya Islam datang untuk memasukkan seluruh manusia ke dalam agama dan syariat Allah Ta'ala.

"Katakanlah: 'Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia." (QS. Al A'raf: 158)

Islam juga datang untuk menghapus segala bentuk kesyirikan di atas bumi, "sehingga Allah saja yang diibadahi, tiada sekutu bagi-Nya," -al hadits-.

Untuk mewujudkan itu maka dakwah yang diemban Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di makkah adalah: "Ucapkan La Ilaha Illallah." (HR. Ahmad)

إِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ

"Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian sebelum (menghadapi) adzab yang keras."

Dalam rangka mewujudkan misi menghambakan seluruh manusia kepada Allah semata, pasukan kaum muslimin bertolak dari Madinah ke seluruh penjuru Arab kemudian ke negeri Persia dan Romawi. Ekspedisi pasukan itu dikirim dari ibukota kekhalifahan yang berpindah-pindah selama tiga belas abad dari Madinah ke Damsyiq, ke Baghdad, kemudian ke Kairo dan terakhir ke Konstantinopel dengan membawa bendera Islam ke seluruh penjuru bumi.

Sasaran kaum muslimin dalam pengembaraan jihad ini adalah satu yaitu agar manusia mentauhidkan Allah yang tiada sekutu bagi-Nya.

Sasaran kaum muslimin dalam pengembaraan jihad ini adalah satu yaitu agar manusia mentauhidkan Allah yang tiada sekutu bagi-Nya.

Dengan ungkapan lain yang disampaikan oleh Rub'i bin Amir, seorang prajurit kavaleri muslim, ketika ditanya oleh Rustum, panglima besar Persia, "apa yang mendorong kalian datang ke sini?"

Rub'i menjawab, "Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dari kezhaliman agama-agama kepada keadilan Al-Islam. Maka Dia mengutus kami dengan agama-Nya untuk kami seru mereka kepadanya. Maka barangsiapa yang menerima hal tersebut, kami akan menerimanya dan pulang meninggalkannya. Tetapi barangsiapa yang enggan, kami akan memeranginya selama-lamanya hingga kami berhasil memperoleh apa yang dijanjikan Allah.”

"Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, . . .

Rub'i bin 'Amir

Ini yang menjadi sasaran Rasulullah dan para sahabatnya, dan di antara yang telah mempelajarinya adalah Rub'i bin Amir. Sasaran itu tidak berubah sama sekali, yang berubah hanyalah jalan dan sarana untuk mewujudkannya sesuai dengan medan dakwah dengan perintah dari Allah. Semua perubahan itu berdasarkan wahyu, pengarahan yang jelas, dan perintah yang tegas dari Allah kepada Rasul-Nya. Maka beliau memulai perjuangannya dengan dakwah sirriyah (secara rahasi), beliau tidak berdakwah kecuali kepada siapa yang beliau pandang memiliki kecerdasan dan mempunyai hubungan kuat dengan beliau melalui kekerabatan atau perkenalan.

Tiga tahun kemudian beliau diperintah agar berdakwah dengan terang-terangan. Maka beliau pun berdakwah secara terbuka di Makkah dan di tempat lainnya.

Tahapan ini berlangsung selama sepuluh tahun. Selama itu, Rasul diperintah agar tabah menghadapi gangguan. Begitu pula para sahabat beliau, diperintah agar bersabar. Mereka belum diperintah berperang walau untuk melawan kekejaman yang ditimpakan kepada beliau atau para sahabatnya. Lebih dari itu, karena beliau belum diperintah untuk memulai perang kepada siapapun. Karena itu, beliau menolak merestui orang-orang yang berbai'at di Aqabah kedua ketika mereka meminta izin untuk memerangi kaum musyrikin di Mina. Beliau menjawab: "kita belum diperintahkan untuk itu."

Kemudian secara berturut-turut beliau diperintahkan agar hijrah ke Madinah. Lalu diizinkan memerangi siapa yang memerangi beliau dan menahan diri dari orang yang tidak memeranginya. Dalam tahap ini, terjadi perang Badar, uhud, Ahzab, dan diikuti dengan beberapa ekspedisi dan delegasi.

Dengan terusirnya tentara sekutu yang mengepung Madinah, tibalah tahap akhir dalam hukum-hukum jihad. Sewaktu kembali dari perang Ahzab beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersbada:

الْآنَ نَغْزُوهُمْ وَلَا يَغْزُونَنَا نَحْنُ نَسِيرُ إِلَيْهِمْ

"Sekarang kita yang memerangi mereka dan bukan mereka yang memerengi kita; kita yang akan menyerang mereka." (HR. al Bukhari)

Kemudian turun surat At Taubah menjelaskan hukum-hukum jihad yang baku, yang berlaku hingga hari kiamat, yaitu perintah untuk memerangi kaum musyrikin. Jihad dilaksanakan untuk menyebarkan agama Allah serta untuk meninggikan kalimat dan syariat-Nya.

بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي

"Sesungguhnya aku diutus menjelang kedatangan kiamat dengan pedang sehingga Allah saja yang disembah, tiada sekutu bagi-Nya. Rizkiku dijadikan di bawah kilatan tombak dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi orang menyelisihi urusanku." (HR. Ahmad)

Berangkatlah tentara Islam dengan membawa mushaf dan pedang, menyeru segenap bangsa, kerajaan, kekaisaran, dan kabilah-kabilah kepada Allah semata. Barangsiapa beriman, dibebaskan dan hidup nyaman. Barangsiapa yang enggan beriman, harus membayar jizyah dan hidup hina dina. Namun siapa yang menolak dan menyombongkan diri, maka pedanglah yang berbicara.

Sasaran itu tidak berubah sama sekalimaka, dakwah, gerakan dan jihad yang dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para pengikut beliau tetap berkisar pada satu poros yang diungkapkan oleh Rub'i bin Amir dengan ucapannya, "untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah."
Sebelumnya Nabi kita telah menyebutkan dalam sabda beliau, "sehingga Allah sendiri yang disembah, tiada sekutu bagi-Nya." (HR. Ahmad)

Al Qur'an juga mengemukakan dengan ungkapan yang lebih agung, lebih sempurna dan lebih indah: "Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." (QS. Al Anfal: 39)

Tabligh dan penjelasan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah dakwah dan ajakan agar melepaskan selendang kemusyrikan dan membebaskan diri dari setiap tuhan yang disembah selain Allah.

Penghancuran patung-patung pada waktu penaklukan Makkah adalah penghapusan tuhan-tuhan yang disembah selain Allah.

Pengiriman tentara untuk berperang adalah dakwah kepada tauhid dan penghancuran kemusyrikan.

Pengiriman tentara untuk berperang adalah dakwah kepada tauhid dan penghancuran kemusyrikan.

Memang perang adalah dakwah kepada tauhid berdasarkan nash-nash hadits Rasulillah shallallahu 'alaihi wasallam:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ

"Aku diperintakan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi tiada ilah yang berhaq disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusanNya, menegakkan sholat dan menunaikan zakat." (HR. Bukhari dan Muslim dari jalan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma)

Pengiriman pasukan perang adalah dakwah kepada tauhid karena kekaisaran dan kerajaan yang memiliki kekuatan dan kekuasaan enggan mengizinkan dakwah tauhid dan para juru dakwahnya untuk menembus seluruh permukaan bumi Allah, dengan alasan ini adalah tanah kekuasaan dan rakyat mereka. Padahal langit dan bumi serta apa saja yang ada di dalamnya adalah kepunyaan Allah semata. Ketika kondisi seperti ini maka harus ada pedang untuk menjawabnya.

Perang adalah untuk menghapus kemusyrikan dengan menghapus taghut-taghut yang berkuasa atas masyarakat. Mereka berperan sebagai pemerintah yang memerintah dan melarang serta menetapkan undang-undang yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah lalu menyuruh masyarakat untuk mentaatinya, suka ataupun tidak.

Perang harus dilaksanakan untuk menghapuskan kekuasaan yang ditaati selain Allah. Perang juga dilaksanakan untuk menghadapi penguasa yang menghalangi dakwah Islam dan melarang diterapkannya syariat Islam.

Perang harus dilaksanakan untuk menghapuskan fitnah, melenyapkan kemusyrikan, dan meninggikan syariat Allah.

Perang harus dilaksanakan untuk menghapuskan fitnah, melenyapkan kemusyrikan, dan meninggikan syariat Allah. "Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." (QS. Al Anfal: 39)

Sesungguhnya tidak ada selain Allah yang menciptakan dan tak seorang pun yang mencipta bersama Allah. Karena itu tidak seorangpun yang berhak membuat undang-undang selain dengan hukum-hukum Allah.

Ibnu Taimiyyah berkata:

لَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَحْكُمَ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ خَلْقِ اللهِ، لاَ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ الْكُفَّارِ إِلاَّ بِحُكْمِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ

"Tidak ada hak bagi seseorang untuk menetapkan hukum bagi orang lain, baik antara kaum muslimin dan kafir, kecuali dengan hukum Allah."

Sesungguhnya manusia tidak menciptakan diri mereka sendiri serta tidak menciptakan bumi tempat mereka hidup dan tempat masyarakat berada. Karena itu bukan hak mereka mengatur dan bukan hak sebagian mereka untuk mengatur, membuat syariat, membuat hukum, memerintah dan melarang, dengan selain syariat Allah.

Kaum muslimin diperintahkan agar menegakkan kedaulatan syariat Allah di muka bumi Allah dan atas makhluk-Nya.

Kaum muslimin diperintahkan agar menegakkan kedaulatan syariat Allah di muka bumi Allah dan atas makhluk-Nya.

Kaum muslimin diperintahkan agar tidak membiarkan ada satu kelompok manusia di muka bumi ini yang memerintah manusia dengan selain syariat Allah. Barangsiapa yang enggan menggunakan hukum Allah dan menolak untuk patuh, maka akan diperangi.

* Sumber: Mitsaqul Amal Islami, karya DR. Najih Ibrahim, 'Ashim Abdul Majid, dan 'Ishamuddin Darbalah..

HARUS ADA NIAT UNTUK BERJIHAD
Oleh : Purnomo

Segala puji bagi Allah yang telah mewajibkan ibadah jihad. Dengannya, Allah menjanjikan bagi mujahidin memperoleh kekuasaan di muka bumi dan kemenangan atas orang-orang kafir. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad. Manusia terbaik. Dia telah berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad hingga ajal menjemputnya. Semoga shalawat dan salam juga terlimpah kepada keluarganya, para sahabat, dan umatnya yang berpegang dengan sunnah-sunnahnya.

Zaman kita ini adalah zaman ujian dan fitnah terhadap Islam yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah. Dunia tanpa terkecuali mengumumkan perang terhadap terorisme, maksudnya terhadap jihad. Dunia menolak terorisme dengan segala bentuknya, namun hanya ditujukan kepada kaum muslimin. Akhirnya Islam dan kaum muslimin menjadi pihak tertuduh.

Di manapun engkau melihat Islam di suatu negeri

Engkau akan dapati, ia laksana burung yang patah kedua sayapnya

Kelompok Islam yang teguh memerangi kesyirikan dan kekufuran berikut para pemeluknya karena kedzaliman mereka, menjadi terget utama. Bangsa-bangsa kafir dan para sekutunya mengerumuni mereka dari berbagai penjuru. Namun, Allah memberikan keteguhan sehingga mereka tetap eksis di atas jalan jihad. Tidak akan membahayakan mereka, baik oleh orang-orang yang menelantarkan mereka dari kalangan umat Islam yang enggan berjihad, penakut, atau tenggelam dalam kehidupan dunia yang hina. Demikian juga, tidak akan membahayakan mereka orang-orang kafir, murtad, dan para pelaku bid'ah sesat yang senantiasa menyelisihi dan menentang jalan mereka. Kelompok itu adalah Thaifah Manshurah, seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

"Akan senantiasa ada sekelompok kecil dari umatku yang tampil di atas kebenaran. Tidak akan membawa madharat bagi mereka orang-orang yang menelantarkan mereka dan tidak pula orang-orang yang menyelisihi mereka sehingga datang urusan Allah . ." (HR. Muslim dan Ahmad). Dan salah satu ciri utama mereka adalah senantiasa berjihad di jalan Allah.

Jihad adalah satu-satunya alternatif bagi umat Islam untuk melawan agresor kaum kafir yang telah menguasai negeri-negeri kaum muslimin pada hari ini. Allah Ta'ala berfirman:


وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup." (QS. Al Baqarah: 217)

Di dalam jihad terdapat kebaikan dunia dan akhirat. Sebaliknya meninggalkan jihad terdapat kerugian dunia dan akhriat. Allah Ta'ala berfirman,

قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ

"Katakanlah: 'tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. . . " (QS. Al Taubah: 52)

Yaitu, bisa jadi kemenangan dan kekuasaan serta boleh jadi kesyahidan (mati syahid) dan surga. Mujahid yang masih hidup akan meraih kemuliaan di dunia dan memperoleh pahala di dunia dan pahala akhirat. Mujahid yang gugur maka dia masuk surga. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

يُعْطَى الشَّهِيدُ سِتَّ خِصَالٍ عِنْدَ أَوَّلِ قَطْرَةٍ مِنْ دَمِهِ يُكَفَّرُ عَنْهُ كُلُّ خَطِيئَةٍ وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَيُزَوَّجُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ وَيُؤَمَّنُ مِنْ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ

"Orang yang mati syahid akan diberikan padanya enam bagian: Dia diampuni semenjak tetesan pertama darahnya, diperlihatkan tempatnya di surga, dikenakan pakaian iman, dinikahkan dengan 72 bidadari surga, dijaga dari fitnah kubur, dan aman dari guncangan akbar (pada hari kiamat)." (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan lainnya) dan keutamaan-keutamaan lainnya masih sangat banyak.

Meniatkan diri untuk berjihad

Seorang muslim yang menyadari kondisi zamannya dan memahami janji Allah dalam ibadah jihad akan bertekad memenuhi panggilan jihad kapan saja panggilan itu datang. Ia senantiasa bersiap diri dan berjanji untuk segera berjihad jika diminta berangkat atau diminta pertolongan oleh rekan-rekannya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "apabila kalian diminta untuk berangkat maka berangkatlah." (HR. al Bukhari dalam Shahihnya)

Apabila seseorang telah meniatkan diri berjihad, kemudian tertinggal dari jihad atau tidak mampu berangkat jihad, pasti dia bersedih. Allah telah menceritakan kisah tentang kaum 'Asy'ariyin –yaitu para sahabat yang tidak mampu membekali diri untuk berangkat jihad–; "Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu", lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan." (QS. Al Taubah: 92)

Termasuk bukti keseriusan nita seseorang untuk berjihad adalah bersedih dan menyesal ketika dia tertinggal dari jihad di jalan Allah, lalu keadaannya seperti yang diungkap dalam sebuah sya'ir:

Tatkala disebutkan perang dan syahadah

Berkobarlah kerinduanku kepada jannah

Tatkala singa Allah meraung di medan perang

Menyalalah kerinduan kepada jihad dengan terang

Aduhai diriku yang berjihad pun tak lagi mampu

Betapa sedih saat ini karena menyesali masa yang telah lalu

Adapun orang yang mengatakan, "Al Hamdulillah, Allah tidak membutuhkan bantuan kita," ketika tertutup jalan atau tidak bisa berjihad. Maka orang semacam ini tergolong orang yang membenci jihad dan tidak punya tekad berjihad. Orang seperti ini serupa dengan kaum munafikin yang membenci jihad, tidak mau keluar berjihad kecuali karena terpaksa. Kalaupun mereka keluar ke medan jihad, mereka hanya melemahkan semangat jihad kaum muslimin dan berlari ketika bertemu musuh.

Sungguh sangat jauh berbeda antara orang yang menangis dan bersedih tatkala tertinggal jihad dengan orang yang menyembunyikan rasa senang dalam hatinya karena mendapatkan udzur (alasan) untuk tidak berjihad. Allah Mahatahu rahasia di dalam hati. Meniatkan diri untuk berjihad akan melenyapkan penyakit nifak dari diri seseorang.

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ, وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِهِ, مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

"Barangsiapa meninggal dunia sementara dia belum pernah berperang atau meniatkan diri untuk berperang, maka dia mati di atas satu cabang dari kemunafikan."

Imam an Nawawi rahimahullah berkata dalam al Minhaj, "maknanya siapa yang melakukan ini, maka dia mirip dengan orang-orang munafik yang tertinggal dari jihad dalam sifat ini. Sebab meninggalkan jihad adalah satu cabang kemunafikan." (Al Minhaj: 13/50)

Syaikhul Islam mengatakan dalam al Fatawa, "yang dimaksud dengan nifak kecil adalah nifak dalam amal dan yang serupa, seperti berbohong ketika bicara, ingkar ketika berjanji, berhianat ketika diberi amanat, atau berlebihan ketika bertengkar. Termasuk dalam masalah ini adalah berpaling dari jihad. Sikap ini termasuk karakter orang-orang munafik. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "barangsiapa meninggal dunia sementara dia belum pernah berperang atau meniatkan diri untuk berperang, maka dia meninggal di atas satu cabang kenifakan." (HR. Muslim)

Allah menurunkan surat Al Bara-ah (At Taubah) yang juga disebut Al Fadhihah (penyingkap) karena surat ini menyingkap orang-orang munafik. Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Ibnu 'Abbas radliyallah 'anhu berkata, "surat al Fadhihah ini turun dengan selalu menyebut 'dan mereka dan di antara mereka' hingga para sahabat pun menyangka tidak tersisa seorang pun kecuali disebutkan dalam surat ini."

Surat al Taubah ini turun di akhir peperangan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu perang Tabuk tahun 9 Hijriyah. Pada saat itu Islam mendapatkan kemenangan. Maka, Allah menyingkap keadaan orang-orang munafik dan menyifati mereka sebagai pengecut dan meninggalkan jihad. Allah juga menyifati mereka sebagai orang bakhil dalam berinfak di jalan Allah dan pelit terhadap hartanya. Inilah dua penyakit besar: pengecut dan bakhil. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ

"Seburuk-buruk sesuatu yang terdapat pada seseorang adalah kikir lagi suka berkeluh kesah dan pengecut lagi lemah." (HR Abu Dawud)

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. Al Hujuraat: 15)

Dalam ayat di atas, Allah membatasi orang mukmin pada orang yang beriman dan berjihad. Sebaliknya, Allah mengabarkan orang yang menjauhi jihad bukan orang beriman. Allah berfirman (artinya); "Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya." (QS. Al Taubah: 45)

Allah memberitahukan bahwa orang beriman tidak akan meminta izin meninggalkan jihad. Dan orang-orang yang meminta izin adalah orang yang tidak beriman. Lalu bagaimana dengan orang yang meninggalkan jihad tanpa izin?" (Majmu' Fatawa: 28/436)

Berhati-hatilah Anda, wahai saudaraku, agar tidak menyerupai orang munafik dan tidak meninggal dunia dengan menyimpan satu cabang dari kenifakan. Adapun orang yang mencela mujahidin dan mencela jihad dengan berbagai cara dan sebutan, seperti tergesa-gesa, tidak bermusyawarah dulu, maka seperti yang diungkapkan dalam sebuah sya'i:

Wahai kalian yang mencela pemuda kami karena jihadnya

Berhentilah mengecam dan mencela

Pantaskah dicela orang yang merindukan surga dan semerbak aromanya

Dia selalu menempuh jalan para penghuninya

Pantaskah dicela orang yang meninggalkan dunia dan permainannya

Dia bergegas menuju medan jihad dengan tekad bebas mulia

Pantaskan dicela orang dibeli Allah jiwanya

Dia berharap surga Firdaus yang kekal tiada fana

Janganlah kalian mencela jihad dan pembelanya

Karena itu tanda kemunafikan, maka hati-hatilah dan waspada

Siapa yang belum pernah meniatkan diri untuk berjihad atau juga

Belum pernah berjihad lalu meninggal dunia, maka dia meninggal dunia secara buruk lagi hina

Sesungguhnya jihad adalah jalan kemuliaan kita

Meninggalkannya menjadikan hidup kita hina dan menderita

KETIKA KITA MALAS MENULIS

Menulis dalam Islam adalah “kewajiban” kedua setelah perintah untuk “membaca”. Menulis berarti menyimpan apa yang telah kita baca dalam sebuah media yang bisa diakses oleh siapa saja. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dengan tulisan, kita bisa berdakwah(menyebarkan kebenaran), mengajari, menyebarkan ide dan pemikiran, melontarkan gagasan, menyampaikan kritikan atau hanya sekedar memberi tanggapan. Sebaliknya, dengan tulisan seseorang bisa juga menyebarkan kebatilan, merusak moral, mem-provokasi, menghina, menghasut, memfitnah, dan berbagai propaganda yang akan membawa kepada kehancuran lainnya.

Dengan tulisan, seseorang bisa mencoba merancang dan merumuskan bentuk peradaban dan masa depan impian atau kehidupan ideal yang didambakan. Banyak bukti sejarah yang membenarkan asumsi ini. Misalnya; bagaimana dahsyatnya kekuatan novel ”Ayat-ayat Cinta” dan ”Ketika Cinta Bertasbih” karya Habiburrahman El-Shirazy sanggup membius ribuan remaja Muslim Indonesia, putra dan putri dengan berbagai pesan Islamnya, sehingga banyak sekali diantara mereka yang bermimpi dan berjuang menjadi jelmaan(reinkarnasi) tokoh-tokoh yang digambarkan dalam novel tersebut, seperti Fahri, Azam dan sebagainya. Dalam novel tersebut mereka digambarkan sebagai aktor yang benar-benar mengaktualisasikan nilai-nilai Islam ke dalam realita kehidupan sesungguhnya. Pribadi mereka diungkapkan bak seorang aulia yang memilki akhlak paripurna.

Hasan Al-Banna pendiri organsisasi ”Ikhwanul Muslimin” di Mesir juga pernah menulis berbagai wasiatnya kepada umat Islam. Tulisan-tulisan yang pada akhirnya dibukukan itu sanggup membangkitkan semangat dan gelora pergerakan Islam(Harakah Islamiah) diberbagai belahan penjuru dunia untuk bangkit mengejar ketertinggalan dengan tanpa melepaskan nilai-nilai Islam sebagai prinsip hidup yang konsepsional dan fundamental. Kita tahu, bahwa kumpulan tulisan Hasan Al-Banna dalam bentuk surat wasiat yang kemudian diberi nama ”Majmu’ Rasail” itu, ternyata sanggup membangkitkan kembali semangat jihad umat Islam melawan berbagai bentuk penjajahan. Saat ini, hampir semua pergerakan Islam di dunia lahir karena terinspirasi dari kekuatan perjuangan, teladan dan surat wasiat Hasan Al-Banna tersebut.

Begitu juga buku-buku yang dikarang oleh penulis berkaliber dunia lainnya, seperti; Yusuf Al-Qardhawy yang mengupas berbagai persoalan kekinian umat Islam. Buku-buku beliau tersebut kita ketahui saat ini telah dijadikan sebagai referensi(buku pegangan) wajib maupun sekedar buku pendukung materi kuliah oleh para mahasiswa di berbagai perguruan tinggi Islam di hampir seluruh dunia. Buku-buku tersebut memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dalam rangka merintis berbagai transformasi sosial dunia Islam ke arah yang lebih maju. Pun demikian dengan tulisan atau opini-opini yang dimuat di berbagai media lokal di Aceh yang diyakini juga memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam membawa umat ke arah perubahan menuju Aceh Darussalam yang diimpikan.

Contoh lainnya adalah; Samuel Huntington yang menulis ”disertasi” doktoralnya tentang ”Benturan Peradaban”, antara peradaban Barat(Kristen, Yahudi dan sebagainya) dengan peradaban Dunia Timur(Islam). Disertasi tersebut pada akhirnya kita ketahui menjadi rujukan Dunia Barat dalam menilai dan menyikapi kebangkitan dunia Islam(as-shahwah Islamiah). Huntington meyakini dan menulis angan-angannya bahwa setelah Amerika memenangkan Perang Dunia II, maka lawan mereka berikutnya yang akan dan harus dihadapi adalah ”umat Islam”. Efek besar dari tulisan (disertasi) Huntingtin tersebut kini menjadi aksi nyata eksistensi dunia barat yang dirasa oleh hampir semua umat Islam diseluruh bagian dunia. Hampir disemua lini dan segmentasi tatanan kehidupan negara-negara Islam berada dibawah cengkeraman Amerika-Barat.

Bahkan, selain negera-negara Islam yang terjajah secara pendidikan, ekonomi, akhlak-moral dan politik, teori dan pemikiran Huntington tersebut juga terwujud nyata dalam penjajahan sungguhan negara Barat terhadap dunia Islam. Misalnya; penjajahan Amerika dan sekutunya di Afghanistan, Irak dan sebagainya. Kekuatan sebuah tulisan kadangkala juga bisa bernada fitnah atau propokasi sehingga bisa mengajak kepada pertumpahan darah dan kehancuran. Misalnya; ”Ayat-Ayat Setan” karya Salman Rushdi, seorang penulis keturunan Pakistan yang bermukim di Inggris. Tulisannya pernah memancing kemarahan umat Islam di seluruh dunia, penyebabnya adalah karena dalam bukunya tersebut ia menghina Muhammad Saw sang Rasul umat Islam. Begitu juga Freddy S, seorang novelis yang menulis berbagai novel seksual dan vulgar di nusantara yang banyak mengumbar nafsu syaithani. Novel-novelnya tersebut sangat ampuh untuk menghancurkan moral dan akhlak generasi Islam dan putra putri bangsa Indonesia secara umum.

Inilah sekilas gambaran singkat dahsyatnya kekuatan sebuah tulisan. Ia bisa membawa kepada kebangkitan sebuah peradaban, atau sebaliknya kepada kehancuran moral dan semua tatanan kehidupan umat manusia lainnya. Ketika tulisan-tulisan yang mengajak kepada kebenaran menjadi minim maka tulisan-tulisan kehancuran akan bertaburan dan menghancurkan.

Kekuatan ”Menulis” dalam Sejarah Islam

Menulis memiliki peran yang sangat urgen dalam sejarah kejayaan umat Islam beberapa abad silam. Semua ulama yang menjadi arsitek peradaban dan kejayaan Islam masa lalu adalah para penulis ulung yang telah menghasilkan berbagai buah karya mereka yang sampai saat ini masih menjadi rujukan umat Islam sedunia dalam berbagai disiplin keilmuan. Bahkan, Barat yang kemajuannya hari ini telah jauh meninggalkan dunia Islam ternyata pernah mengekor pada kemajuan umat Islam masa silam.

Dalam sejarah Islam, akan kita dapati pakar-pakar keilmauan mayoritas adalah para ulama. Kedokteran, geografi, oftik, kartografi, farmasi, kimia, astronomi, matematika, dan yang lainnya. Patut untuk di banggakan, ketika Eropa di abad pertengahan hanya memiliki seorang jenius bernama Leonardo da Vinci yang mumpuni dalam beberapa bidang keilmuan, ternyata umat Islam memiliki puluhan tokoh yang memiliki multiple intelligence. Sebagai contoh, kejeniusan Ibnu Sina dibidang kedokteran menghasilkan karya menumental Al-Qanun Fi Ath-Thibbi, Asy-Syifa dan yang lainnya. Ibnu Rusyd yang faham dengan sangat baik filsafat Yunani, sehingga mampu memberikan koreksi dan catatan kaki atas kekeliruan yang ada didalam buku mereka ternyata juga seorang faqih yang dari tangannya lahir Bidayah-Al-Mujtahid, sebuah rujukan perbandingan madzhab dalam ilmu fiqih yang sampai sekarang tetap diperhitungkan. Belum lagi Al-Khawarizmi pencipta Al-Jabar (ilmu ukur/Matematika) yang fenomenal, Al-Haitsam Bapak ”optik” sekaligus penemu Kamera Analog. Al-Idrisi bapak kartografi dari pulau Sisilia. Al-Biruni, Ibnu Khaldun, dan tokoh-tokoh Islam lainnya.

Galileo yang terkenal dengan teleskopnya ternyata kalah awal oleh ulama-ulama di Baghdad yang telah lebih dahulu menciptakan observatorium untuk mengamati pergerakan dan fenomena bintang- bintang. Al-kohol, al-kalin, sinus, kosinus, tangent, azimuth, natir dan istilah-istilah lain dalam berbagai disiplin ilmu lahir dari rahim keilmuan kaum muslimin. Begitu pula dibidang Fiqih, Hadits, Tafsir, Ilmu Kalam, dan sebagainya. Semua itu hadir karena mereka memegang teguh tradisi keilmuan, yaitu menulis disamping tradisi membaca pada sisi yang lain.

Dan berbagai kemunduran umat Islam dewasa ini bisa dipastikan karena tradisi menulis setelah membaca yang pernah dipopulerkan oleh para ulama masa lalu telah ditinggalkan. Umat Islam malas ”membaca dan menulis”. Melalui tulisan diyakini peradaban impian akan bisa diraih. Melalui tulisan fakta mengatakan sebuah kemajuan akan bisa dicapai. Melalui tulisan jelas kebenaran akan mudah tersampaikan.

Sampai disini, kita bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya kekuatan sebuah tulisan. Ia bisa menjadi senjata melawan kezaliman ketika meriam telah dihancurkan, ketika senapan dan mesiu telah tenggelam dalam lautan. Maka, adalah wajar jika di era ”Orde Baru” Soeharto yang mantan presiden kita itu begitu gencar memberangus dan mengejar-ngejar para penulis. Sebab, Soeharto meyakini kekuatan pena lebih dahsyat daripada senapan, lebih tajam daripada ujung pedang. Maka, ketika kita ”malas menulis” yang akan terjadi adalah berbagai ketimpangan dan bahkan penjajahan. Wallahu a’lam bisshawab.[Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, sekretaris redaktur Tabloid Peunawa Lembaga Kajian Agama dan Sosial(LKAS), 17/03/2010]

BENTUK KENIKMATAN DUNIA ?

Oleh : Mashadi

Betapa banyak manusia menjadi lupa. Betapa banyak manusia menjadi ingkar. Betapa banyak manusia tidak dapat bersyukur. Betapa banyak manusia menjadi durhaka dan berkhianat. Mereka melupakan tujuan hidupnya dan hanya mengejar kenikmatan dunia. Dunia yang akan berakhir. Tempat manusia hidup. Tempat manusia memuja kenikmatan. Semuanya menjadi sia-sia belaka.

Dalam kehidupan ini ada bertingkat-tingkat tentang kenikmatan dunia. Manusia berlomba mengejar, hingga kepayahan, dan umurnya habis, dan hidupnya tersungkur, hanya diarahkan mengejar kenikmatan dunia. Tak ada kenikmatan yang sejati. Kenikmatan yang diinginkan manusia dalam kehidupan itu hanyalah kenikmatan yang semu. Ilusi. Khayalan dari manusia yang sudah orientasi hidupnya hanya untuk kenikmatan dan kemegahan.

Ketahuilah, sesungguhnya kenikmatan yang teragung dan terbesar, yaitu kenikmatan yang mengantarkan pada kenikmatan akhirat. Kenikmatan akhirat itulah yang akan membawa hamba kepada kemuliaan yang kekal. Karena itu, hakekatnya seorang mukmin, tidak mengejar kenikmatan dunia, yang tidak memiliki arti apa-apa, dibandingkan dengan kenikmatan berupa kemuliaan disisi Allah Azza Wa Jalla. Tidak ada artinya kenikmatan dan kelezatan dunia seisinya, yang banyak membuat manusia menjadi lupa dan mabuk, sehingga terlena dengan kehidupan dunia. Kehidupan manusia yang sudah mabuk dunia itu, menjadi sujud, rukuk, dan ibadahnya hanya untuk memenuhi rasa kenikmatan dunia.

Hanyalah orang-orang mukmin, yang layak mendapatkan kenikmatan, yang sejati, karena pahala Allah Rabbul alamin, selalu mengalir, ketika mereka makan, minum, berpakaian, tidur, terjaga, dan dalam pernikahannya, dan semua amal mereka semata hanya diarahkan untuk mendapatkan ridho-Nya. Tidak mencari ridho selain-Nya. Apalagi, hanya ingin mendapatkan ridho kepada manusia lainnya, yang dapat memberinya kenikmatan dunia. Itu bukan sifat mukmin yang hakiki.

Orang-orang mukmin kerinduan hanya pada kenikmatan atas keimanannya, ibadahnya, kerinduannya hanya kepada Allah Azza Wa Jalla.

Ketahuilah, sesungguhnya kenikmatan dunia itu, selalu akan menghalangi seseorang memperoleh kenikmatan akhirat dan bahkan mengantarkan kepada siksa. Manusia yang orientasinya kepada kenikmatan dunia, akhirnya menjadikan benda-benda, jabatan, kekuasaan, dan makhluk-makhluk, serta berbagai bentuk berhala-hala, yang menyerupai tuhan, menjadi arah dan tujuan hidup mereka. Seakan semua yang ada itu, mampu memberikan kenikmatan kepada manusia yang bersifat kekal. Karena itu, ketika diakhirat mereka saling mencerca dan menyalahkan.

“ .. Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, ‘Ya Tuhan kami sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami, ‘Allah berfirman, ‘Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain). ‘Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan”. (al-An’aam : 128-129).

Kelezatan dan kenikmatan orang yang berbuat zalim dan keji merupakan istidraj (tangga tahapan pengahancuran),yang diberikan Allah agar mereka merasakan siksa yang lebih berat dan mereka akan terlarang untuk merasakan kenikmatan yang paling agung. Seperti orang yang menyodorkan makan yang enak dan dibubuhi racur agar orang yang memakannya mati secara peralahan-lahan.

Allah berfirman:

“ .. Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) ari arah yang tidak mereka ketahui. Dan, Aku memberi tangguh, kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh”. (al-Qalam : 44-45).

Sebagian salaf menafsirkan inna kaidi matin (rencana-Ku amat tangguh), maksudnya adalah setiap kali mereka melakukan dosa, maka Kami akan memberikan nikmat mereka. Itulah bagi orang-orang yang hidupnya hanya mengejar kenikmatan dunia.

Sebaliknya, seorang yang sangat takut dengan kehidupan dunia, dan hidupnya zuhud dan wara’, ketika meninggal rombongan Malaikat suci, hamba-hamba Allah yang sangat dekat kepada-Nya, datang menjemputnya menuju tempat, yang abadi kekal, selamanya, surga Allah taman Firdausi. Itulah akhir kehidupan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Kebahagiaan di kampung akhirat itu Kami sediakan hanya bagi mereka yang tidak suka menyombongkan diri dan melakukan kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang taqwa”. (al-Qashas : 83). Wallahu’alam.(Kamis, 25/02/2010)