akidah (2) jelajah medan dakwah (4) kajian (21) kajian 911 (1) khutbah jum'at (3) nasehat ulama (47) pustaka (2) sekilas info (38)
sampaikanlah walau satu ayat
Tampilkan postingan dengan label nasehat ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasehat ulama. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Oktober 2010

Rahasia Hidayah

dakwatuna.com – Hidayah artinya petunjuk. Dan Allah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk, Allah berfirman di pembukaan surah Al Baqarah: dzaalikal kitaabu laa raiba fiih, hudal lilmuttaqiin ( inilah al kitab – Al Qur’an- yang tiada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa). Dari ayat ini kita paham bahwa untuk mendapatkan hidayah Al Qur’an secara utuh, syaratnya harus bertaqwa. Bahwa banyak orang yang mengaku beriman kepada Al Qur’an, tetapi belum mendapatkan hidayahnya. Bahwa tidak semua orang Islam patuh kepada tuntunan Al Qur’an. Perhatikan berapa banyak dari umat ini yang melanggar dengan sengaja apa yang diharamkan dalam Al Qur’an. Berapa banyak yang dengan tanpa merasa berdosa, mereka berani membuka aurat, berzina, korupsi, makan harta riba, padahal mereka secara ritual menegakkan shalat, pergi haji, dan melaksanakan puasa Ramadhan.

Lebih jauh, banyak dari para anak yang berani kepada orang tuanya, menyakiti hati ibunya, padahal tuntunan mencintai orang tua dan mengabdi kepada mereka, adalah tuntunan yang sudah lama Allah turunkan. Semua nabi yang Allah utus diperintahkan untuk menyampaikan hal tersebut. Al Qur’an sangat jelas menceritakan syariah ini. Tidak ada keraguan di dalamnya bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua adalah sebuah keniscayaan. Tetapi sayang syariah ini telah banyak diabaikan. Berapa banyak orang tua yang terlantar atau sengaja ditelantarkan dengan alasan mengejar harta. Kesibukan telah membuat para anak mencari alasan untuk menghindar dari kewajiban membantu orang tua. Lebih parah, bahwa seringkali orang tua disakiti hatinya, ditunggu harta warisannya, dan dipercepat kematiannya. Padahal para anak itu secara ritual rajin shalat dan rajin melaksanakan ibadah-ibadah lainnya. Di manakah hidayah dalam hatinya.

Banyak juga dari orang tua yang hanya sibuk mendidik anak-anak mereka untuk urusan mencari makan. Sementara untuk urusan agamanya diabaikan. Akibatnya banyak anak muda yang kini berhasil secara duniawi, sementara mereka secara akhirat, sangat minim bekalnya. Mereka tidak tahu cara mengisi waktunya. Shalat ditegakkan secara formalitas, sementara di saat yang sama mereka bergaul bebas, dengan tanpa merasa berdosa. Tidak sedikit dari mereka yang terbiasa berzina. Dan itu dianggap sah-sah saja. Pun sudah banyak buktinya dari mereka yang hamil dan punya anak di luar nikah. Para orang tua mereka di saat yang sama orang-orang yang taat beribadah. Dalam kondisi seperti ini, kita bertanya, di manakah peran hidayah Al Qur’an yang mereka yakini? Apa arti pengakuan beriman kepada Al Qur’an, bila ternyata secara terang-terangan ajaran Al Qur’an di abaikan? Apakah cukup hidayah Al Qur’an, diartikan sebatas kepatuhan ritual saja, sementara secara moral sangat bejat?

Bila dilacak lebih jauh, ternyata banyak dari para koruptor, adalah orang-orang yang mengaku beriman kepada Al Qur’an. Demikian juga tidak sedikit dari para pelacur yang memakai jilbab dan mengaku sebagai seorang muslim. Ketika ditegur, mereka menjawab: inilah jalan yang bisa dilakukan untuk hidup. Bukan hanya itu, sogok-menyogok juga dianggap jalan halal untuk mendapatkan penghasilan. Lebih parah lagi, perampokan, pencurian, melakukan sistem riba dan lain sebagainya, sengaja mereka lakukan demi untuk mendapatkan tambahan income. Dan ini semua dianggap lumrah dan boleh-boleh saja. Padahal di dalam Al Qur’an dan As sunnah itu semua jelas diharamkan.

Bandingkan dengan kondisi para sahabat ketika mereka mengambil hidayah ini. Seketika mereka langsung mengambilnya secara utuh. Mereka menerima Al Qur’an secara maksimal, tidak main tebang pilih. Ketika datang perintah shalat mereka langsung menegakkannya secara maksimal. Ketika turun larangan minum khamer, mereka seketika segera meninggalkannya. Sampai dikatakan bahwa pada saat itu kota Madinah banjir khamer. Karenanya mereka berkah, sebagaimana berkahnya Al Qur’an. Mengapa? Karena mereka benar-benar mengambil Al Qur’an secara lengkap, tidak sebagian-sebagian. Dari sini jelas bahwa tidak akan berkah suatu umat yang hanya mengambil Al Qur’an sepenggal-sepenggal. Perhatikan apa yang telah dicapai para sahabat, sebagai bukti keberkahan. Mereka telah berhasil membangun peradaban yang indah dan menyelamatkan kemanusiaan, belum pernah sebelum atau sesudahnya ada kaum yang bisa membangun peradaban yang sama. Padahal jumlah mereka sangat sedikit, dibanding dengan jumlah umat Islam saat ini.

Kini kita sangat butuh cara mengambil hidayah Allah seperti apa yang telah diperbuat oleh para sahabat. Hidayah yang mengantarkan agar manusia benar-benar kenal siapa Tuhan mereka. Hidayah agar orang-orang beriman tidak menjadi umat yang pasif, melainkan umat yang bergerak dengan penuh keseimbangan (tawazun): seimbang antara ritual dan sosial, pun seimbang antara dunia dan akhirat. Hidayah agar umat ini benar-benar mengambil ajaran Allah secara utuh dan maksimal bukan sepenggal-sepenggal. Sungguh rahasia keberkahan umat ini adalah ketika mereka mengambil hidayah Allah secara komprehensif. Inilah langkah yang harus kita buktikan. Wallahu a’lam bish shawab. (dakwatuna,

Minggu, 10 Oktober 2010

Sumber-Sumber Dosa Manusia?

oleh Mashadi

Manusia modern dikelilingi dengan dosa. Hakikatnya manusia modern sama dengan manusia di zaman jahiliyah. Mereka melakukan dosa dan maksiat dengan sengaja dan sadar. Mereka tidak takut dengan perbuatan mereka lakukan itu. Berbuat dosa seperti menjadi pilihan hidup mereka.

Mereka berbuat dosa, karena itu menjadi kenikmatan hidup mereka. Berzina, minum minuman keras, memakan makanan haram, dan perbuatan keji lainnya, semuanya mereka nikmati. Karena kemaksiatan sesuai dengan nafsu mereka.

Sesungguhnya dosa dan maksiat itu bertingkat-tingkat, dan kerusakan dan hukumannya berbeda pula. Namun, akar dan asal-usul dosa itu ada dua hal, pertama, meninggalkan perintah Allah, dan kedua melanggar larangan Allah. Maka, hakikatnya orang-orang mukmin yang muttaqin, ialah mereka yang dengan ikhlas melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Inilah bentuk ketundukan, kepatuhan, dan berserah diri secara total kepada Allah Azza Wa Jalla.

Kemudian, dosa ini dibagi dalam empat kategori, yang masing-masing mempunyai pengaruh dalam kehidupan seseorang. Diantaranya :

Dosa mulkiyah, adalah perbuatan atau sifat makhluk yang mengadopsi sifat-sifat Allah. Seperti merasa suci, kultus, kesombongan, kesemena-menaan, merasa tinggi, kezaliman, menjajah, dan memperbudak manusia. Perbuatan ini masuk dalam katagori syirik (menyekutukan) Allah.

Karena, yang sering menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan syirik, merasa suci, berlaku sombong dengan kekuasaan dan harta yang dimilikinya. Para penguasa, pemimpin gerakan, jamaah, partai, bisa berlaku sombong, disebabkan kekuasaan yang dimilikinya. Bisa mengatur, menentukan, memerintah, dan bahkan bertindak sewenang-wenang, dan tidak ada lagi yang berani mengingatkannya.

Dirinya bisa berlaku sebagai orang suci, yang kemudian dikultuskan pengikutnya, atau menciptakan tata-cara yang membuat para pengikutnya melakukan kultus, dan pemimpin itu seolah-olah berubah menjadi seorang tuhan, yang kemudian dapat menentukan nasib seseorang. Seseorang menjadi bergantung hidupnya kepada mereka yang memiliki kuasa. Entah itu para penguasa, pemimpin gerakan, jamaah, partai dan organisasi, jika tidak ada lagi yang dapat mengingatkan bisa berubah menjadi ‘tuhan’.

Barangsiapa yang menjadi pelaku jenis dosa ini, mak ia telah merampas ketuhanan dan kerajaan (kedaulatan) Allah dan menjadi tandingan bagi-Nya. Ini adalah dosa yang paling besar disisi Allah dan amal perbuatan yang baik tidak gunanya.

Betapa banyak manusia yang sekarang telah berlaku dan berubah dirinya menjadi tuhan, karena hanya sedikit memiliki kekuasaan, kekayaan, dan kesempatan (waktu), dan kemudian mereka mengubah sifat-sifat dasar mereka, dan mereka berubah menjadi ‘tuhan-tuhan’ yang sejatinya tidak layak.

Dosa syaithoniyah adalah dosa di mana palakunya menyerupai perilaku dan sifat setan, seperti melampui batas, penipuan, dengki, memakan harta yang haram, makar, memerintahkan perbuatan maksiat kepada Allah, menghiasi kemaksiatan dengan kebaikan, melarang melakukan ketaatan kepada Allah, melakukan bid’ah, serta mendakwahkan bid’ah dan kesesatan. Ini dosa yang akan menjerumuskan para pelakuknya ke dalam neraka jahanam.

Betapa banyak manusia yang berwujud manusia, tetapi perbuatan mereka seperti setan, dan menjadi hamba setan. Perbuatannya selalu durhaka dan melawan kepada Allah. Tidak mau bertahkim (berhukunm) dengan hukum Allah, dan hanya mengikuti hwa nafsunya, yang akhirnya menjerumuskan diri mereka ke dalam kesesatan yang nyata. Tetapi, mereka masih berani mengatakan yang mereka kerjakan adalah kebajikan. Inilah orang-orang yang sudah menjadi pengikut setan.

Dosa bahimiyah adalah binatang, yang menampakkan pelakunya berbuat kejam dan biadab, seperti menumpahkan darah, melakukan peperangan, menindas kaum yang lemah, dan menghancurkan kehidupan mereka. Dengan tanpa merasa menyesal atas perbuatan mereka.

Manusia berubah menjadi binatang buas, hanya mengikuti syahwat perut dan seksual. Dari sini lahir perzinahan, pencurian, memakan harta yang haram, memakan harta anak yatim, bakhil, pelit, penakut, keluh-kesah, yang menyebabkan manusisa sudah tidak lagi memiliki landasan hidup yang benar.

Manusia telah terjatuh ke dalam bentuk baru, sebagai binatang. Karena menjadi bahimiyah, dan menjauhkan dari perintah dan larangan dari Allah Ta’ala. Wallahu’alam

http://www.eramuslim.com

HATI-HATILAH KALIAN DARI ULAMA SU’

Segala puji hanya untuk Allah yang memuliakan islam dengan pertolonganNya, dan menghinakan kesyirikan dengan dengan kekuasaan-Nya. Ialah yang mengurus segala urusan dan memberi tangguh bagi orang-orang kafir dengan rencana-Nya. Shalawat dan salam kepada nabi junjungan Muhammad sallallahu alaihiwasallam yang telah menerangi islam dengan qur’an dan pedangnya.

Sesungguhnya para ulama adalah seperti bintang dilangit. Lewat tangan merekalah manusia mendapat petunjuk. Merekalah yang menjelaskan kepada ummat ini jalan petunjuk dan keistiqomahan di atas pentunjuk tersebut. Dengan merekalah ummat paham tentang jalan kejelekan dan cara menjauhinya. Mereka ibarat hujan yang turun pada tanah gersang sehingga menumbuhkan berbagai tumbuhan yang bermanfaat.

Akan tetapi setelah menyebarnya berbagai fitnah dan merebaknya racun-racun mematikan pada ummat, muncullah para ulama’ su’ yang menjual dinnya untuk dunianya. Kadang mereka lebih fasih dan lebih mudah untuk diterima penjelasannya. Bahkan metodenyapun juga berfariasi sehingga ummat banyak yang tertarik terhadap mereka. Ketertarikan itulah yang kemudian menjadikan mereka komitmen terhadap para ulama’ su’ tersebut padahal mereka pada hakekatnya di atas kesesatan. Tentang mereka ini, Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ رِجَالٌ يَخْتَلُونَ الدُّنْيَا بِالدِّينِ يَلْبَسُونَ لِلنَّاسِ جُلُودَ الضَّأْنِ مِنْ اللِّينِ أَلْسِنَتُهُمْ أَحْلَى مِنْ السُّكَّرِ وَقُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الذِّئَابِ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَبِي يَغْتَرُّونَ أَمْ عَلَيَّ يَجْتَرِئُونَ فَبِي حَلَفْتُ لَأَبْعَثَنَّ عَلَى أُولَئِكَ مِنْهُمْ فِتْنَةً تَدَعُ الْحَلِيمَ مِنْهُمْ حَيْرَانًا

“Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan). Alloh berfirman, “Apakah dengan-Ku (kasih dan kesempatan yang Kuberikan) kalian tertipu ataukah kalian berani kepada-Ku. Demi Diriku, Aku bersumpah. Aku akan mengirim bencana dari antara mereka sendiri yang menjadikan orang-orang santun menjadi kebingungan (apalagi selain mereka) sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri darinya.” (HR: Tirmidzi)

Ulama su’ adalah peringkat ulama yang paling rendah, paling buruk dan paling merugi. Semua itu dikarenakan ia mengajak kepada kejahatan dan kesesatan. Ia menyuguhkan keburukan dalam bentuk kebaikan. Ia menggambarkan kebatilan dengan gambar sebuah kebenaran. Ada kalanya, karena menjilat para penguasa dan orang-orang dzalim lainnya untuk mendapatkan kedudukan, pangkat, pengaruh, penghargaan atau apa saja dari perhiasan dunia yang ada di tangan mereka. Atau ada juga yang melakukan itu karena sengaja menentang Alloh Subahanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya demi menciptakan kerusakan di muka bumi ini. Mereka tidak lain adalah para khalifah syetan dan para wakil Dajjal.

Apa perbedaannya ?
Sebenarnya tidaklah sulit untuk membedakan antara ulama’ yang jujur dengan ulama su’ para pengekor penguasa. Ulama’ yang baik, entah mereka berada di tempat yang terpencil, atau di dalam penjara taghut dan tempat-tempat yang lain, kalian akan melihat mereka senantiasa komitmen terhadap diin ini. Tapi sebaliknya, kalian melihat para ulama’ su’ selalu menjual kehidupan akhirat untuk mendapatkan sedikit dari kehidupan dunia. Mereka nentiasa berada di pintu-pintu penguasa taghut. Sebagaimana perkataan hudzaifah radhiyallahu ‘anhu :

إِذَا رَأَيْتُمُ الْعَالِمَ بِبَابِ الْسُلْطَانِ فَاتَّهَمُوْا دِيْنَهُ، فَإِنَّهُمْ لاَ يَأْخُذُوْنَ مِنْ دُنْيَاهُمْ شَيْئاً أَخَذُوا مِنْ دِيْنِهِمْ ضِعْفَهُ

Jika kalian melihat seorang ‘alim berada di pintu penguasa, maka tertuduhlah dinnya. Maka tidaklah mereka [para ulama’] mengambil sebagian dari dunia mereka [penguasa], kecuali pera penguasa tersebut akan mengambil dari din mereka [ ulama’] secara sebanding.

Bagaimana kita tidak bisa membedakan antara seorang ulama’ yang sudah terbukti pengorbananya berupa kesempitan dan menghabiskan waktunya untuk berdakwah di jalan Allah Ta’ala; dengan seorang ulama’ yang dipenuhi dengan kenikmatan dan belum pernah diuji dengan berbagai kesempitan ?. Sungguh jauh berbeda.
Bagaimana kita bisa tsiqqoh pada mereka padahal mereka belum merasakan penjara, belum merasakan ketakutan karena dikejar oleh orang-orang kafir, dan mereka belum mendapatkan beban-beban berat dalam perjungan ?. padahal kita belum pernah mendapatkan para pengusung dakwah ini hidup nikmat, bahkan jalan ini dipenuhi dengan bau darah para pengusungnya.

Apakah kita pura-pura bodoh dengan kondisi imam Ahmad yang kehidupannya dipenuhi dengan ujian dan bala’ ?. padahal beliau bisa mengambil ruhshah untuk mengikuti penguasa dengan mengatakan bahwa alqur’an adalah makhluq. Akan tetapi beliau lebih senang mendapat ujian karena itu akan meningkatkan derajat di hadapan Allah Ta’ala.

Marilah kita merenungkan perkataan Imam Ibnu Taimiyah ketika beliau sedang diuji. Agar menjadi jelas bagi kita jalan para ulama’ yang sholih :
مَا يَفْعَلُ أَعْدَائِي بِي؟ أَنَا سِجْنِي خَلْوَةً، وَنَفْيِي سِيَاحَةً، وَقَتْلِي شَهَادَةً
Apa yang diperbuat musuh kepadaku, jika aku dipenjara, itu sebagai kholwah bagiku, jika aku diusir, itu sebagai plesir bagiku. Dan jika aku dibunuh, itu sebagai sahid.

Lihatlah wahai ihwah tentang sayyid qutub ketika beliau dipaksa untuk mencabut perkataannya dan permusuhannya dengan taghut ketika itu !. beliau berkata :

إِنَّ إِصْبَعُ السَبَابَةِ الذِي يَشْهَدُ لِلَّهِ بِالْوَحْدَانِيَةِ فِي الصَّلاَةِ لَيُرَفَّضَ أَنْ يَكْتُبَ حَرْفاً يُقِرُّ فِيْهِ حُكْمَ طَاغِيَةٍ

Sesungguhnya jari tulunjuk yang bersaksi pada Allah dengan mentauhidkan-Nyadalam shalat, tidaka akan mau untuk menulis satu hurufpun yang mengakui hokum taghut.

Inilah jalan para ulama’ yang jujur. Inilah jalan jalannya para nabi dan para penegak diin ini. Tidak ada jalan lain, kecuali jalan orang-orang yang jauh dari tuntunan nabinya.

Sikap kita
Sikap yang harus kita ambil sebagi pejuang Islam adalah sebagaimana yang disampaikan syaikh Abu Mus’ab as Syuri dalam da’wah al muqoowamah al islamiyah al ‘alamiyah, secara ringkas :

Pertama : mendukung penuh terhadap para ualam’ dan pemimpin jihad yang membela kebenaran dan membela berbagai kepentingan ummat.

Kedua : Merangkul orang-orang yang takut dan ada kemungkinan menjadi pendukung perjuangan ini dengan cara yang hikmah. Disamping itu juga berusaha untuk meluruskan ummat yang bengkok selama kebengkokan itu tidaklah menjadi manhaj mereka.

Ketiga : Menjauhi para ulama’ penguasa yang telah terjangkiti sifat kemunafikan dan menjadi pengkhianat din ini dengan tegas. Tentunya harus dengan hujjah yang kuat dan penjelasan yang tak terbantahkan.

Kita berdo’a pada Allah Ta’ala untuk mentsabatkan kita, ulama’ ulama’ kita dan para pejuang islam ini dalam menapaki jalan ini. Walaupun berat dan penuh dengan aral dan duri, tapi kita yakin bahwa kemenangan pasti ditangan Islam. Allah tidak mungkin membiarkan hambanya yang mukhlis dalam kekalahan. [ Amru ]

http://annajahsolo.wordpress.com

Bersabarlah Atas Beban Dakwah
| email | print | share
oleh : Mashadi

Mengapa mereka menempel di baju penguasa? Mereka memuja-muji panguasa? Tidak ada lagi nahyu munkar yang mereka tegakkan. Mereka menjadi kelompok atau golongan yang menyanyikan : “Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang”.

Mereka memasuk
i semua relung kehidupan. Tidak ada lagi pembatas (hijab) atas diri mereka. Tidak ada lagi kata, ‘la’ (tidak), dan yang ada hanya ‘nikmati dan boleh’. Sehingga, kehidupan mereka bercampur dengan kebathilan.

Semua dalil mereka gunakan. Tujuannya hanya untuk membenarkan apa yang hendak mereka inginkan. Kata ‘ijtihad’ menjadi resep mujarab, dan semuanya mengangguk. Tidak ada
yang menyangkal. Semuanya mengamininya. Tanda setuju dengan segala ‘ijtihad’ yang mereka lakukan. Terkadang saking fanatiknya dengan ‘ijtihad’ yang disuguhkan itu, tentu yang berada dalam barisan kumpulan dan golongan itu, yang sudah tersihir dengan kehidupan dunia, tak bakal menerima pendapat dari yang lainnya.

Al-Qur’an dan As-Sunnah tak lagi menjadi ukuran dan pembeda. Barangkali Al-Qur’an dan As-Sunnah menjadi tak lagi penting bagi kehidupan mereka. Karena tuntutan sekarang berbeda. Harus ada rumus dan ijtihad baru yang lebih sesuai dengan kehidupan dan perkembangan zaman. Tidak harus kaku dan fanatik dengan prinsip-prinsip yang bersumber dari wahyu Ilahi. Semua prinsip dapat ditukar dan diganti, sesuai dengan perkembangan zaman. Semua prinsip dalam Al-Qur'an dan As-Sunah menjadi 'mutaghoyyirrot' (dapat berubah).

Rumus baru dalam kehidupan modern sekarang, tak lain, sebuah kepentingan. Prinsip-prinsip dapat diubah dan disesuaikan dengan kepentingan. Bila nilai-nilai yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, bertabrakan dengan kepentingan yang lebih besar, harus dikalahkan nilai-nilai dan prinsip dari Al-Qur’an dan As-Sunnah itu. Tidak perlu takut. Tidak perlu kawatir. Karena yang dikejar adalah sebuah kepentingan yang lebih besar. Kekuasaan. Tidak bisa Al-Qur’an dan As-Sunnah itu dipaksakan. Apalagi dalam sebuah negara yang masyarakatnya majemuk (pluralis), maka harus ada rumus baru, khususnya dalam bermuamalah yang lebih terbuka alias inklusif. Sehingga, golongan diluar Islam dapat menerimanya.

Tidak mungkin menerapkan prinsip sabar. Sabar dalam mengamalkan isi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena itu, terlalu lama dan panjang. Sedangkan umur ini sangatlah terbatas. Target-target dan capaian dunia harus diwujudkan. Diujung perjalanan ini harus ini harus ada, kisah tentang, ‘the success story’, yang akan menjadi ‘ther corner stone’ bagi generasi berikutnya. Kebanggaan sebagai sebuah maha karya, yang dituntaskan seumurnya.

Karena itu, langkah-langkah ekselarasi yang harus dilakukan, betapa itu terasa menjadi naif dan tidak logis. Semuanya harus berjalan, sesuai dengan skenario. Tidak penting banyak yang tidak setuju. Tetapi semuanya harus berjalan, dan yang penting segala target dan keinginan dapat terwujud. Inilah sebuah kenikmatan yang tanpa batas, saat mereka menikmati pujian dan sanjungan yang tak henti-henti dari para pengikutnya dan orang-orang yang terdekatnya.

Kilauan harta, kekuasaan, jabatan, kekuatan, wibawa, dan sanjungan, serta tabiat mereka yang ingin selalu dekat dengan penguasa itu, ternyata sudah menjadi karakter di awalnya.

Itulah mengapa Islam hari ini tidak memiliki izzah (kemuliaan) dihadapan manusia dan Allah Azza Wa Jalla. Karena para du’atnya diantaranya banyak yang tidak lagi komitment terhadap Allah, Rasul-Nya, dan Kitab-Nya. Mereka menjadi hamba-hamba dunia. Mereka menuhankan dan beribadah kepada yang memberi materi, jabatan, kekuasaan, dan bahkan ada diantara mereka yang menukar Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan harga yang murah. Mereka lupa dan melupakan atas arahan dan perintah-Nya.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut”, kemudian diantara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah ada pula yang tetap dalam kesesatan”. (QS : An-Nahl : 36)

Karakter seorang du’at, yang digambarkan oleh Al-Qur’an, hanyalah mengajak manusia untuk semata-mata menyembah kepada Allah, dan menjauhkan segala hal yang melampui batas dan dilarang oleh Allah (thogut), dan ini harus menjadi misi kehidupannya.

Tetapi, kenyataannya hari ini, sangatlah berbeda dengan seperti yang diinginkan oleh Allah Ta’ala, yang hakekatnya, ketika mengutus para Rasul, tak lain hanyalah untuk mengajak menyembah kepada Allah Azza Wa Jalla semata, bukan menyekutukan Allah dengan melakukan sesembahan terhadap ‘ilah-ilah’ lainnya. Pembalikan yang sekarang terjadi tak lain, karena mereka sudah kehilangan sikap tsabat (teguh), dan shabar terhadap keyakinan yang mereka miliki.

Shahabat Ali bin Abi Thalib RA, menyatakan sikap shabar itu, seperti pedang yang tidak pernah tumpul, dan seperti cahaya yang tidak pernah redup.

Dengan hilangnya sikap shabar para du’at yang hanya mengejar kehidupan dunia itu, maka mereka menjadi tumpul hati nuraninya, dan wajah mereka tidak lagi memancarkan cahaya iman, karena sudah terbalut dengan hitam pekatnya dunia.

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

".. Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam pertempuran. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa". (QS : Al-Baqarah : 177)

Allah Azza Wa Jalla menuntut para du'at untuk tetap bershabar dan membela dan menegakkan agama Allah, dan tidak kemudian menanggalkan keyakinan dan komitmentnya terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan lari dari komitmentnya terhadap Islam, hanya demi kenikmatan dunia. Wallahu’alam.(eramuslim/7-10-2010)

Selasa, 17 Agustus 2010

Mengembalikan Citra Muslimah


Orang-orang kafir terus-menerus melancarkan serangannya melawan Islam dan kaum Muslimin, juga mengadopsi strategi baru yang didisain untuk menghancurkan pemikiran wanita Muslimah dengan tujuan untuk menghancurkannya dan keluarganya. Rasulullah SAW menginformasikan kepada kita bahwa wanita Muslimah adalah tulang punggung Ummat, namun orang-orang kafir terus menyusupi pemikiran wanita Muslimah dan telah mengubah pandangan mereka dari yang seharusnya selalu bersandar kepada perintah dan larangan Allah SWT.

Ada banyak musuh-musuh kaum Muslimah yang mengikuti syetan sampai Yahudi, Nasrani, Musyrikin dan kaum sekularis, yang membawa tujuan yang sama yaitu meracuni pemikirannya dengan kotoran dan propaganda bahwa mereka harus seperti wanita Barat pada hari ini. Di bawah embel-embel kebebasan, wanita Muslimah dimangsa oleh media dan berbagai institut pendidikan seperti halnya kurikulum nasional. Dengan ini, beberapa strategi dan alat digunakan sebagai konspirasi untuk meracuni pemikirannya dengan begitu dia tidak lagi senang dengan tugas utamanya, sebagai seorang ibu atau ibu rumah tangga; tetapi dia ingin menjadi korban penghinaan, pelecehan, dan keburukan di masyarakat sekarang dimana dia tinggal.

Konspirasi Melawan Wanita Muslimah

Majalah baru telah diperkenalkan dengan tujuan mengganti model (idola) yang sholehah, seperti Shahaabiyat (para sahabat wanita) dengan bintang pop dan model cat walk saat ini. Majalah-majalah yang sama juga mempromosikan industri kosmetik dan ide-ide seperti kecantikan, fashion dan ‘kesuksesan wanita karir’, dan membawa ide-ide yang bertolak belakang dengan Islam.

Mereka bertujuan untuk menghancurkan gambaran dari suami Muslim dan membandingkannya dengan orang-orang Barat. Mereka mempromosikan suami Muslim sebagai salah satu orang yang membolehkan suaminya untuk mempunyai sebuah ‘kehidupan’ dan menganggapnya kuno dan ketinggalan zaman, menyatakan bahwa pemikiran dan pandangannya sudah tidak mempunyai nilai sosial di kehidupan sekarang. Sedikit yang menyadari bahwa wanita Muslimah sesungguhnya telah benar-benar memahami hadits yang berbunyi:

‘Istri yang diridhoi olehNya adalah ketika dia mati bisa ke surga melalui semua pintu yang dia inginkan.’

Orang-orang kafir telah mendisain program untuk menjadikan wanita Muslimah masuk ke dalam tendensi pendidikan, sebuah edukasi yang fokus pada “kebaratan” dan jalan untuk mengadopsi kebudayaan-kebudayaannya terhubung langsung dengan keimanannya; selanjutnya, identitasnya bisa menjadi sama dengan orang-orang atau wanita kafir, dan jika itu terjadi, maka dia jelas menunjukkan kelemahan imannya. Rasulullah SAW menginformasikan kepada kita bahwa,

‘Dia bukan golongan kami yang mengikuti Kuffar (Orang-orang kafir).’

Mereka menggunakan sabun untuk mengaburkan pemikiran wanita Muslimah dengan tujuan untuk menjadikan dia seorang yang materialistis. Mereka bahkan memperpanjang untuk mengartikan sabun ini ke dalam bahasa yang wanita Muslimah mengerti dalam bagian dunia yang berbeda.

Ibu rumah tangga ditawarkan alternatif yang lebih baik seperti pendidikan dan entertaimen dan dijamin bahwa entertaimen ini tidak berdasarkan syari’ah. Sebagai contoh pergaulan bebas yang lazim pada saat alternatif itu ditawarkan. Muslimah selanjutnya, akan memahami perkataan Nabi SAW ketika beliau berkata,

“Wahai kaum laki-laki dan perempuan, pisahkan diri kalian; tidak diperbolehkan bagi kalian berada di tempat yang sama.

Wanita Muslimah diinformasikan tentang hak mereka di Barat dan mengatakan bagaimana mereka menjadi wanita bebas dan mereka seharusnya tidak seperti budak. Namun, bagaimana ini bisa menjadi mungkin ketika Muslim, mengabaikan apakah mereka pria dan wanita, adalah seorang ‘hamba’ Allah?

Muslimah didorong untuk menyerukan persamaan dengan laki-laki dan dia sering mengatakan bahwa agama yang mengajarkannya. Namun, Muwahhidah (seorang wanita dengan tauhid yang lurus) sejati akan mengetahui bahwa jika Penciptanya telah memutuskan sesuatu maka dia akan menaati dengan ikhlas sebagaimana yang dia pahami dari Al-Qur’an Surah 33, ayat 36:

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.’

Mereka melukiskan gambaran ibu rumah tangga menjadi rendah dan menyoroti wanita Barat modern. Mereka juga mencoba untuk menanamkan dalam benak mereka bahwa dia tidak membutuhkan perlidungan dari laki-laki manapun dan bahwa ayah atau suaminya bukanlah amir (pemimpin) nya tetapi seseorang yang sama seperti dirinya.

Mereka berkata kepada Muslimah bahwa Muslim laki-laki sangat menindas dan akhirnya Islam menyalahkan perbuatannya menurut kepercayaannya. Mereka gagal membedakan anatara kultur, tradisi dan Dien, dan mempromosikan Islam sebagai sebuah penindasan jalan hidup yang didisain untuk menekan kebutuhan wanita dengan menaikkan derajat pria.

Wanita diajarkan untuk masuk ke dalam pusat kebugaran dan gimnasium kemudian menceritakan bahwa tubuh yang ramping itu menarik selanjutnya menghalangi mereka dari kebutuhan anak karena mereka menjadi lebih tertarik memelihara jari-jari mereka. Namun, Muslimah sejati akan mengetahui bahwa Rasulullah SAW telah berkata kepada kita bahwa Dia SAW merasa bangga kepada wanita yang pada hari pengadilan yang menikah dan merawat anak-anak mereka, dan dia masih bisa merawat tubuhnya walaupun melakukan ini!

Walaupun hanya sedikit contoh yang telah disoroti di atas, itu menjadi bukti bahwa orang-orang kafir telah mempersiapkan untuk berbuat apa saja untuk mempengaruhi pemikiran Muslimah dengan konspirasi mereka juga agenda busuk yang terus dilancarkan. Namun Muslimah sejati akan berpandangan lurus melewati kebohongan dan pandangan yang salah ini selanjutnya akan memahami realitas bahwa tidak ada ideologi di muka bumi ini dan tidak ada sekolah saat ini yang menghormati wanita Muslimah seperti Islam melakukannya.

Dia akan memahami dan dengan kuat yakin bahwa Syari’ah melindunginya seperti seorang Ibu, anak perempuan, istri, bibi dan sebagainya dan Allah SWT telah memuliakannya dan meberikannya kedudukan yang tinggi di dunia. Dia tidak akan kalah terhadap keinginan-keinginan non-Muslim dan akan terus taat kepada Allah SWT di semua aspek kehidupannya, menjadi seperti ini baik dalam kehidupan pribadinya maupun kehidupan sosialnya, dan akan terus meninggikan Kalimah Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda tentang seorang wanita Muslimah,

‘Seluruh dunia adalah perhiasaan, dan sebaik-baik perhiasan di dunia adalah wanita yang sholeh.’

Wallahu’alam bis Showab!

(al muhajirun, 18 april 2010)

Ramadhan: Bulan Perjuangan Mewujudkan Kemerdekaan Hakiki

Oleh M. Fachry




Tidak terasa sudah 65 tahun lalu, tepatnya 17 Agustus 1945, negeri ini merdeka dari penjajahan fisik yang dilakukan oleh negara-negara kolonialis. Umat Islam, yang merupakan mayoritas di negeri ini, tentu patut bersyukur atas anugerah kemerdekaan ini. Namun demikian, sangat disayangkan, kemerdekaan seolah dipahami oleh bangsa ini semata-mata sebagai keterbebasan negeri ini dari penjajahan secara fisik.

Akibatnya, penjajahan non-fisik (yakni penjajahan pemikiran/ideologi, politik, ekonomi, sistem sosial dan budaya) yang berakar pada kapitalisme global sering tidak disadari sebagai bentuk penjajahan. Padahal penjajahan non fisik dalam wujud dominasi kapitalisme global ini jauh lebih berbahaya daripada penjajahan fisik. Penjajahan non fisik dalam wujud dominasi kapitalisme global ini juga telah menimbulkan penderitaan yang luar biasa bagi bangsa ini khususnya dan umat manusia di dunia umumnya; selain memakan korban jiwa yang terbunuh secara pelan-pelan.


Ramadhan di Tengah Penjajahan Non-Fisik

Saat ini mayoritas negeri-negeri muslim merasa sudah merdeka, dalam arti, lepas dari penjajahan dan cengkeraman asing dan bisa menentukan nasib sendiri. Faktanya, tidak ada satu pun negeri muslim yang dapat lepas dari cengkeraman asing. Disadari atau tidak ternyata asing hanya mengubah gaya penjajahannya dari penjajahan secara fisik ke penjajahan secara non fisik. Pada Ramadhan saat ini kita masih menyaksikan potret kehidupan masyarakat Indonesia yang hidup di negeri agraris yang penuh dengan keprihatinan yang luar biasa akibat penjajahan non fisik.

Hasil sensus BPS tahun 2010 menunjukkan bahwa dari jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta, yang masuk kategori miskin sekitar 13% lebih atau (sekitar 30 juta lebih). Itu pun jika menggunakan standar yang tidak manusiawi, yakni kemiskinan diukur dengan pendapatan per orang sekitar Rp 9 ribu/hari. Kalau menggunakan standar Bank Dunia, yakni sekitar Rp 18 ribu/hari tentu kita akan menemukan angka lebih dari 100 juta penduduk miskin di Indonesia. Ironisnya, meski penduduknya banyak yang miskin, negeri ini termasuk negeri terkorup, hal ini dibuktikan adanya riset PERC (Political & Economic Risk Consultancy) yang berbasis di Hongkong yang merilis bahwa Indonesia memiliki indek korupsi hampir "sempurna"; 9,07 dari angka maksimal 10. Padahal sumber APBN negeri ini 70%-nya dari pajak rakyat. Artinya, para koruptor di negeri ini banyak mengkorupsi uang rakyat.

Di negeri penghasil beras ini, meski sudah 65 tahun merdeka, faktanya masih ada penduduk Indonesia yang kelaparan akibat kekurangan pangan. Menurut sumber World Development Indicator 2007, jumlah penduduk di Indonesia yang dinyatakan rawan pangan mencapai 13.8 juta jiwa (6%). Data ini diperkuat dengan kasus kelaparan di beberapa tempat, bahkan ada yang sampai meninggal akibat gizi buruk dan ada juga masyarakat yang terpaksa makan nasi aking dll. Tentu itu semua baru sebagian kecil yang terekspos oleh media.

Belum lagi jika kemerdekaan diukur dengan kemandirian bangsa ini terhadap campur tangan dan intervensi asing dalam berbagai bidang. Di antaranya:

Pertama, bidang hukum. Hukum yang berlaku di Indonesia 80% masih hukum Belanda. Penjajah Belanda diusir, namun hukumnya tetap dipakai dan dilestarikan. Kedua, bidang ekonomi. Beban utang Indonesia yang terus bertambah. Menurut data Kementrian Keuangan, jumlah utang Indonesia saat ini Rp 1.600 triliun dan terus meningkat dari sebelumnya berjumlah Rp 1.200 triliun pada tahun 2004 (metrotvnews, 19/4/2010). Bahkan para pejabat Indonesia terus menyerahkan leher Indonesia dijerat utang luar negeri. Ketiga, bidang perundang-undangan. Pembuatan perundang-undangan tidak lepas dari campur tangan asing. Tengoklah nuansa campur tangan asing dalam UU Sumberdaya Air, UU Migas, UU Penanaman Modal, dll. Keempat, Bidang Keamanan, adanya kasus terorisme yang menampilkan sikap arogan aparat dengan menumpahkan darah rakyat begitu saja hanya bersandarkan pada dugaan atau baru diduga teroris. Langkah kontra terorisme tersebut tampak sarat dengan pelanggaran HAM dan tercium kuat aroma "pesanan" dari negara penjajah AS dengan proyek "perang melawan terorisme". Adanya informasi bahwa Densus 88 didanai AS sangat sulit dibantah. Dana AS yang mengalir kepada Polri untuk mendirikan Densus 88 sangat besar dan setiap tahunnya mengalami peningkatan. (Eramuslim, FUI: AS danai densus 88, 26/06/2007 ).

Dalam situs Wikipedia tentang Densus 88, dinyatakan dengan tegas bahwa "Pasukan khusus ini dibiayai oleh pemerintah Amerika Serikat melalui bagian Jasa Keamanan Diplomatik (Diplomatic Security Service) Departemen Negara AS dan dilatih langsung oleh instruktur dari CIA, FBI, dan U.S. Secret Service. Kebanyakan staf pengajarnya adalah bekas anggota pasukan khusus AS. Pusat pelatihannya terletak di Megamendung, 50 kilometer selatan kota Jakarta." (wikipedia.org , 10 Agustus 2009). Semua ini menunjukkan bahwa bangsa ini tidak mandiri, belum bebas dari campur tangan asing dan tentu belum merdeka secara hakiki.


Ramadhan: Saatnya Terapkan Al-Quran Untuk Kemerdekaan Hakiki

Kemakmuran dan kemandirian jelas merupakan dua hal di antara ciri bangsa yang merdeka. Kedua hal ini hanya mungkin diwujudkan dengan kembali pada Al-quran (syariah Islam). Secara i'tiqadi, kita wajib meyakini bahwa syariah Islam tidak hanya sanggup mewujudkan kemerdekaan hakiki, tetapi bahkan mewujudkan rahmat bagi semesta alam. Lebih dari itu, syariah Islamlah yang akan sanggup membebaskan manusia dari segenap belenggu penjajahan sekaligus dari penghambaan manusia kepada manusia lain menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT semata. Itulah sebenarnya kemerdekaan yang hakiki, yang pernah berhasil diwujudkan oleh Rasulullah saw dalam wujud Daulah Khilafah Islamiyah.

Puasa Ramadhan yang telah mengajari kita ketundukan dan ketaatan kepada Allah SWT haruslah semakin menyadarkan kita untuk semakin tunduk dan taat pada al-Quran, wahyu yang telah Allah turunkan sebagai petunjuk bagi kita. Bulan Ramadhan yang merupakan bulan turunnya Al-quran seharusnya kita gunakan untuk merenung dan mengintrospeksi diri: sudah sejauh mana kita menjadikan al-Quran sebagai petunjuk hidup kita; sejauh mana kita mengadopsi ketentuan halal-haramnya serta hudud dan hukum-hukum di dalamnya. Karena itu, hendaknya kita menjadikan al-Quran sebagai tolok-ukur untuk mengukur baik-buruknya kehidupan kita.

Ringkasnya, bulan Ramadhan adalah bulan penerapan al-quran untuk menggapai rahmat dengan cara mewujudkan ketakwaan personal maupun kolektif/sosial atau dalam konteks negara. Allah menurunkan al-Quran tiada lain agar diambil, diikuti dan dijadikan petunjuk oleh manusia dalam menjalani hidup dan mengelola kehidupan ini. Sebagaimana firman Allah:

"Al-Quran adalah Kitab yang telah Kami turunkan yang diberkati. Karena itu, ikutilah dia agar kalian dirahmati." (QS al-An'am [6]: 155)

Allah SWT juga memerintahkan agar kita berpegang teguh dengan al-Quran:

"Berpegang teguhlah kamu dengan apa yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus." (QS az-Zukhruf [43]: 43).

Dengan demikian, pada bulan ini sejatinya terjadi peningkatan keberpihakan umat Islam pada penegakkan syariah Islam secara kaffah dalam naungan khilafah sekaligus upaya memperjuangkan penerapannya untuk mewujudkan kemerdekaan yang hakiki. Bulan Ramadhan hendaknya menjadi momentum untuk semakin membersihkan pikiran dan mensucikan hati hingga memiliki daya pembeda antara haq dan yang batil sekaligus mengikuti kebenaran Islam dan menjauhi ajakan setan, baik yang berwujud jin maupun manusia. Akhirnya di Bulan Ramadhan ini sudah saatnya bersama-sama kita perjuangkan penerapan hukum Al-quran (syariah Islam) secara kaffah dalam bingkai khilafah demi terwujudnya kemerdekaan yang hakiki.

Bulan Ramadhan itu, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (yang haq dari yang batil). (QS al-Baqarah [2]: 185).


Andi Perdana Gumilang, S.Pi

Staf LPS DD

Email: andi.sangpenakluk@gmail.com

www.pertaniansehat.or.id

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...


(arrahmah.com/

pada Selasa 17 Agustus 2010, 12:43 PM

)