sampaikanlah walau satu ayat
Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Oktober 2010

Untuk Apa Gereja Didirikan?

“Indonesia merupakan ladang yang sedang menguning, yang besar tuaiannya,” demikian tujuan misi Kristen. Baca CAP Adian ke-295!

Oleh: Dr. Adian Husaini*

KASUS penyegelan rumah milik jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Ciketing Bekasi, Jawa Barat, akhirnya berbuntut panjang. Jemaat HKBP tidak terima dengan keputusan pemerintah dan melakukan berbagai aksi demonstratif, yang akhirnya berujung pada insiden bentrokan jemaat HKBP dengan warga Muslim Bekasi. Sebagian kalangan kemudian mengangkat dan membesar-besarkan kasus ini sampai ke dunia internasional, sehingga memberikan citra negatif terhadap Indonesia.

Citra buruk yang tampaknya ingin dibentuk adalah bahwa seolah-olah negeri Muslim terbesar di dunia ini merupakan satu bangsa yang tidak beradab yang tidak menghargai kebebasan beragama; seolah-olah, kaum Kristen di Indonesia merupakan kaum yang tertindas. Sejumlah aktivis Kristen di Indonesia tergolong rajin memanfaatkan momentum kasus-kasus konflik soal pendirian gereja, menjadi komoditi yang berharga untuk membentuk citra buruk bangsa Indonesia, khususnya kaum Muslim.

Ujung-ujungnya, muncul tekanan dari berbagai Negara atau kelompok di luar negeri, agar Indonesia memberikan ruang kebebasan beragama yang lebih besar kepada golongan minoritas Kristen. Pada 12 Februari 2010 lalu, Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) mengeluarkan data, yang menurut mereka, dalam tahun 2007 ada 100 buah gereja yang diganggu atau dipaksa untuk ditutup. Tahun 2008, ada 40 buah gereja yang mendapat gangguan. Tahun 2009 sampai Januari 2010, ada 19 buah gereja yang diganggu atau dibakar di Bekasi, Depok, Parung, Purwakarta, Cianjur, Tangerang, Jakarta, Temanggung, dan Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas (Sumatera Utara).

Menurut data FFKJ tersebut, selama masa pemerintahan Presiden Sukarno (1945 - 1966) hanya ada 2 buah gereja yang dibakar. Pada era pemerintahan Presiden Suharto (1966 - 1998) ada 456 gereja yang dirusak atau dibakar. Pada periode 1965-1974, kata FKKJ, "hanya" 46 buah gereja yang dirusak atau dibakar. Sedangkan dari tahun 1975 atau masa setelah diberlakukannya SKB 2 Menteri tahun 1969 hingga saat lengsernya Suharto tahun 1998, angka gereja yang dirusak atau dibakar sebanyak 410 buah.

Jadi, menurut catatan FKKJ hingga awal tahun 2010, telah ada hampir sekitar 1200 buah gereja yang dirusak dan ditutup. “Jadi kita menemukan angka perusakan gereja untuk masa reformasi paska Suharto sebanyak 740 buah,” tulis siaran pers FKKJ yang ditandatangani oleh Theophilus Bela dan Gustav Dupe.

Mungkin banyak pihak yang tercengang melihat besarnya angka perusakan gereja di Indonesia. Sangat fantastis. Sayangnya, pihak FKKJ tidak menyajikan analisis yang komprehensif tentang data tersebut. Benarkah yang dirusak itu memang gereja? Mengapa hal itu terjadi? Umat Islam bisa saja membuat data, berapa ribu masjid dan mushola yang dirusak dan digusur oleh developer Kristen! Juga, mestinya ada analisis, mengapa sudah begitu banyak gereja yang dirusak, tetapi pertumbuhan gereja di Indonesia juga sangat fantastis?

Analisis yang komprehensif sangat diperlukan jika kita ingin menyelesaikan masalah secara mendasar, bukan sekedar memanfaatkan kasus-kasus untuk tujuan tertentu. Apalagi, dalam siaran pers FKKJ itu juga disebutkan, seolah-olah biang keladi semua itu adalah adanya SKB dua menteri tahun 1969 yang mengatur pendirian rumah ibadah. Pihak Kristen. Khususnya kelomok-kelompok evangelis, tidak mau terbuka, bahwa sebenarnya pendirian Gereja bukanlah sekedar persoalan tempat ibadah belaka, tetapi terkait dengan misi mereka untuk mengkristenkan Indonesia. Keterbukaan dan dialog ini sangat penting, sebab kedudukan dan fungsi Gereja bagi kaum Kristen berbeda dengan kedudukan dan fungsi masjid bagi umat Islam.

Kaum Muslim mendirikan masjid karena dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Aturan-aturan tentang kemasjidan sangat jelas dalam Kitab Suci umat Islam dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Bagi kaum Muslim, Masjid digunakan shalat lima waktu dalam sehari. Kaum Muslim juga bisa shalat di masjid mana saja, selama bukan masjid aliran sesat. Sementara kaum Kristen tidak bisa sembahyang di Gereja sekte apa saja, karena beda tata cara ritual. Perbedaan-perbedaan semacam itu seyogyanya dipahami, agar dapat dicarikan solusi yang komprehensif.

Misi Gereja

Apa sebenarnya misi dan tujuan suatu gereja didirikan?

Tahun 1964, tokoh Kristen Batak, Dr. Walter Bonar Sidjabat, menerbitkan buku berjudul Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1964). Melalui bukunya ini, Dr. Sidjabat menegaskan misi sejati kehadiran Kristen dan Gereja-gereja mereka di seluruh pelosok Indonesia.

Dalam pengantar bukunya, ia menulis:

“Kita terpanggil untuk mengikrarkan iman kita di daerah-daerah berpenduduk berambut keriting, berombak-ombak dan lurus-lurus, di tengah penduduk berkulit coklat, coklat tua, kuning langsat dan sebagainya. Guna penuaian panggilan inilah gereja-gereja kita berserak-serak di seluruh penjuru Nusantara agar rakyat yang “bhineka tunggal ika”, yang terdiri dari penganut berbagai agama dan ideologi dapat mengenal dan mengikuti Yesus Kristus.” (Kutipan-kutipan dari buku Dr. Sidjabat dalam artikel ini telah disesuaikan dengan EYD).

Mengikuti pemikiran tokoh Kristen Batak ini, bisa dipahami bahwa kehadiran sebuah gereja bagi kaum Kristen bukanlah sekedar persoalan “kebebasan beribadah” atau “kebebasan beragama”. Banyak kalangan Muslim dan mungkin juga kaum Kristen sendiri yang tidak paham akan eksistensi sebuah gereja. Bahwa, menurut kaum Kristen, pendirian sebuah gereja bukan sekedar pendirian sebuah tempat ibadah, tetapi juga bagian dari sebuah pekerjaan Misi Kristen; agar masyarakat di sekitarnya “mengenal dan mengikuti Yesus Kristus”.

Dikatakan dalam buku ini: “Di atas Gereja terletak tugas pekabaran Injil. Pekabaran Injil adalah dinamis. Secara dinamis Gereja bertanggung jawab akan pekabaran Injil ke dalam, kepada orang-orang yang telah menjadi anggota-anggota tubuh Kristus (“ecclesia”) dan keluar, kepada orang-orang yang sedang menunggu, mengabaikan, menolak atau tidak acuh terhadap Yesus sebagai Juruselamat mereka.” (hal. 41).

Sementara itu, bagi kaum Muslim yang sadar akan keislamannya, persoalan misi Kristen, bukanlah masalah sepele. Orang yang berganti agama, keluar dari agama Islam, dalam pandangan Islam disebut orang yang murtad dan kafir. Amal perbuatan mereka tidak diterima oleh Allah. (QS 2:217, 24:39). Al-Quran juga menegaskan, bahwa Allah SWT sangat murka jika dikatakan Dia mempunyai anak. (QS 19:88-91). Dan orang-orang yang menyatakan bahwa Allah adalah salah satu dari tiga oknum, maka orang itu disebut telah kafir (QS 5:72-75).

Dalam menjalankan misi mereka di dunia Islam, kaum Kristen sadar benar akan tantangan berat yang datang dari umat Islam. Sebab, memang, Islam adalah satu-satunya agama yang Kitab Sucinya (al-Quran) memberikan koreksi secara mendasar terhadap dasar-dasar teologi Kristen. (QS 4:157). Karena itulah, dalam bukunya, Dr. Sidjabat secara khusus, menguraikan sejarah perkembangan Islam di Indonesia, yang dinilainya merupakan tantangan berat bagi perkembangan misi Kristen di Indonesia. Sidjabat mengimbau Kaum Kristen di Indonesia tidak surut langkah dalam menjalankan misi mereka. Bahkan, kalau perlu melakukan konfrontasi. Maka, simaklah pesan-pesan penting Sidjabat kepada kaum Kristen Indonesia berikut ini:

“Saudara-saudara, kenyataan-kenyataan jang saya telah paparkan ini telah menunjukkan adanya suatu tantangan jang hebat sekali untuk ummat Kristen. Sudah pasti bahwa yang dapat saya rumuskan pada lembaran-lembaran ini hanya sebagian kecil dari realita Islam di Indonesia. Dalam hubungan ini saya hendak menunjukkan kepada ummat Kristen bahwa sekarang ini jumlah yang menunggu-nunggu Injil Kristus Yesus jauh lebih banyak daripada jumlah jang dihadapi oleh Rasul-rasul pada abad pertama tarich Masehi. Dan perlu diketengahkan bahwa jumlah tadi tidaklah hanya “jumlah” bilangan saja, tetapi manusia-manusia yang hidup, yang ingin mengetahui nilainya dan yang haus akan pengetahuan tentang haluan hidupnya, kemana ummat Islam Indonesia juga tergolong.

Di Indonesia ini, hal yang saya utarakan itu dapat dengan terang dilihat dan dihayati. Menurut pertimbangan secara insani, penduduk Indonesia masih terus lagi akan merupakan penduduk yang sebagian besar beragama Islam, sekalipun banyak yang sudah beralih kepada agama atau aliran lain, antara lain: agama Buddha, Komunisme, aliran kebatinan yang lepas dari Islam, ateisme dan lain-lain. Pekabaran Indjil di Indonesia, kalau demikian, masih akan terus menghadapi “challenge” Islam di negara gugusan ini...

Seluruhnya ini menunjukkan bahwa pertemuan Injil dengan Islam dalam bidang-cakup yang lebih luas sudah “dimulai”. Saya bilang “dimulai”, bukan dengan melupakan Pekabaran Injil kepada ummat Islam sejak abad jang ketudjuh, melainkan karena kalau kita perhatikan dengan seksama maka “konfrontasi” Injil dan agama-agama di dunia ini dalam bidang-cakup yang seluas-luasnya, dan dalam hal ini dengan Islam, barulah “dimulai” dewasa ini secara mendalam. Dan bagi orang-orang yang berkeyakinan atas kuasa Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roch Kudus, setiap konfrontasi seperti ini akan selalu dipandangnya sebagai undangan untuk turut mengerahkan jiwa dan raga memenuhi tugas demi kemuliaan Allah.”

*****


Membaca pemikiran tokoh Kristen Batak seperti ini, kaum Muslim Indonesia tentu memahami, bahwa sejak awal mula misi dijalankan, Gereja sudah menyiapkan diri untuk melakukan konfrontasi, khususnya dengan umat Islam. Bahkan, konfrontasi itu harus dilakukan dengan mengerahkan jiwa dan raga demi kemuliaan Tuhan.

Dalam konteks semacam inilah, barangkali kita bisa memahami, mengapa kaum Kristen senantiasa menolak berbagai peraturan yang mengatur tatacara pendirian rumah ibadah dan penyebaran agama, meskipun peraturan itu juga menjerat kaum Muslim di daerah-daerah minoritas Muslim.

Dalam konteks inilah kita juga memahami militansi sikap jemaat HKBP Ciketing Bekasi. Juga, kita paham, mengapa kaum Kristen Indonesia – dari berbagai sekte dan agama – seperti bersatu dalam menyikapi kasus HKBP Ciketing dan berusaha menyeret kasus ini ke isu “kebebasan beragama” dan “pluralisme”. Meskipun Gereja-gereja terus tumbuh bak cendawan di musim hujan, senantiasa dicitrakan, kaum Kristen adalah umat tertindas dan tidak punya kebebasan beragama di negeri Muslim terbesar ini.

Justru, yang sulit kita pahami adalah orang-orang yang mengaku beragama Islam tetapi – sadar atau tidak – telah menempatkan dirinya menjadi “jubir” Gereja Kristen Batak, dengan imbalan meraih gelar kehormatan “Tokoh Pluralis” dan sejenisnya.

Padahal, ambisi kalangan Kristen untuk mengkristenkan Indonesia belum pernah berakhir. Pada Catatan Akhir Pekan ke-281, kita membahas ambisi dari sekelompok kaum Kristen evangelis yang memasang target tahun 2020 sebagai masa “panen raya”. Sebuah buku berjudul Transformasi Indonesia: Pemikiran dan Proses Perubahan yang Dikaitkan dengan Kesatuan Tubuh Kristus (Jakarta: Metanoia, 2003), menggambarkan ambisi dan harapan besar kaum misionaris Kristen di Indonesia tersebut. Ditegaskan dalam buku tersebut:

”Indonesia merupakan sebuah ladang yang sedang menguning, yang besar tuaiannya! Ya, Indonesia siap mengalami transformasi yang besar. Hal ini bukan suatu kerinduan yang hampa, namun suatu pernyataan iman terhadap janji firman Tuhan. Ini juga bukan impian di siang bolong, tetapi suatu ekspresi keyakinan akan kasih dan kuasa Tuhan. Dengan memeriksa firman Tuhan, kita akan sampai kepada kesimpulan bahwa Indonesia memiliki prakondisi yang sangat cocok bagi tuaian besar yang Ia rencanakan.”

Inilah tekad kaum misionaris Kristen untuk mengkristenkan Indonesia. Segala daya upaya mereka kerahkan. Gereja-gereja terus dibangun di mana-mana untuk memuluskan misi mereka. Gereja-gereja dan gerakan misi terus bergerak untuk meraih tujuan, yang ditegaskan pada sampul belakang buku ini: ”supaya semua gereja yang ada di Indonesia dapat bersatu sehingga Indonesia dapat mengalami transformasi dan dimenangkan bagi Kristus.”

Menghadapi serbuan kaum misionaris tersebut, seharusnya kaum Muslim tidak perlu berkecil hati. Sudah saatnya umat Islam tidak bersikap menunggu dan defensif. Mungkin sudah tiba masanya, organisasi-organisasi Islam mencetak dai-dai yang tangguh, cerdas, berani, santun, dan ramah, untuk menyadarkan para pendeta Kristen dan tokoh-tokohnya, bahwa mereka sedang memeluk keyakinan yang salah (sesat/adh-dhalliin). Ajaklah mereka untuk menyembah Allah semata-mata, tidak menserikatkan Allah dengan yang lain, dan mengakui kenabian Muhammad saw. Jangan menyatakan Allah punya anak.

Jika mereka menolak, katakanlah, kami orang-orang Muslim; kita hormati keyakinan mereka, meskipun kita tidak membenarkannya. Sebab, tugas umat Muhammad saw hanyalah menyampaikan kebenaran, bukan memaksakan. Di akhirat nanti, akan terbukti, siapa yang benar dan siapa yang salah. Sebagai Muslim, kita yakin, bahwa kita benar! [adian husaini/hidayatullah.com/depok, September 2010]

Selasa, 17 Agustus 2010

Makna Kekalahan yang Sebenarnya


Banyak deskripsi tentang makna kekalahan umat Islam. Ada yang berpendapat, kekalahan umat ini terjadi ketika umat Islam tertinggal dari sisi teknologi dan ilmu pengetahuan. Sehingga ketika umat Islam tertinggal dari sisi itu, namun undang-undang dan sistem pemerintahan yang diterapkan adalah syariat Islam masih terkategori sebagai umat yang kalah.

Ada juga yang berpendapat bahwa kekalahan umat Islam adalah ketika mereka terbelakang dan lemah dari sisi ekonomi. Bagi mereka, ketika banyak negeri Islam yang berusaha menegakkan syariat Islam namun kesejahteraan rakyatnya belum terpenuhi maka dia memandangnya sebagai kekalahan. Sebaliknya, jika ada negara yang mayoritas penduduknya umat Islam namun aturan, undang-undang, dan sistem pemerintahannya mengadopsi dari negeri kafir yang bertentangan dengan syariat Islam lalu penduduknya mengalami peningkatan ekonomi maka disebut sebagai umat yang merdeka dan sejahtera. Dan masih banyak pengertian yang salah tentang makna kekalahan dan keterpurukan umat Islam. Berikut ini kami sebutkan beberapa makna kekalahan dalam perspektif Islam.

Pertama, bahwa kekalahan Umat Islam adalah apabila mereka mengikuti syariat orang-orang kafir dan aturan yang dibuat oleh hawa nafsu mereka.
Allah Ta'ala berfirman,

وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS. Al Baqarah: 120)

Dalam ayat yang lain,

وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ

"Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Baqarah: 145)

Maka ketika seorang muslim meninggalkan syariat agamanya dan menyatakan diri telah mengikuti syariat/ajaran Yahudi dan Nashrani atau ajaran kufur lainnya seperti sekularisme, atheisme, Modernisme, demokrasi, dan semisalnya, baik secara keseluruhan atau sebagiannya saja, maka inilah hakikat puncak kekalahan dan kehinaan. Sehingga suka atau tidak dia harus mengikuti kemauan dan selera Yahudi dan Nashrani serta ajaran-ajaran kafir lainnya untuk mengatur ekonomi, pemerintahan, dan perundang-undangan, walau tanpa mengikuti agama kafir mereka.

Kedua, bersikap lunak dan lembut terhadap orang-orang kafir. Allah Ta'ala berfirman,

فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

"Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)." (QS. Al-Qalam: 8-9)

Firman Allah, "Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)," adalah larangan AllahSubhanahu wa Ta'ala kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam dalam mentaati para pendusta –yaitu kafir Makkah- karena mereka menyalahi kebenaran. Imam al-Qurthubirahimahullah dalam tafsirnya (18/230) menerangkan tentang larangan Allah kepada Rasul-Nya agar tidak cenderung dan condong (sehingga bersikap lunak) terhadap kaum musyrikin. Mereka mengajak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam agar berhenti menyerang mereka sehingga merekapun berhenti mengganggunya. Kemudian Allah menjelaskan bahwa bersikap cenderung dan lunak kepada mereka adalah kekufuran. Lalu Imam al-Qurthubi menukil firman Allah Ta'ala,

وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئاً قَلِيلاً

"Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka." (QS. Al-Isra': 74) Karenanya terdapat sekelompok orang yang tersesat dengan menyangka bahwa mudahanah (sikap lunak dengan meninggalkan ketegasan Islam untuk mendapat kepentingan dunia) yang diharamkan adalah mudarah (sikap lembut untuk menghindari mafsadat yang besar) yang dibolehkan. Akhirnya mereka membuka pintu kekalahan diakibatkan kebodohan atau pura-pura bodoh sehingga mereka memasukinya dengan menamakannya sebagai mudarah syar'i.

Untuk memperjelas persoalan ini kami sampaikan bahwa Mudarah dengan Mudahanah adalah dua hal yang berbeda. Mudarah dibolehkan, beda dengan mudahanah. Dan mudarah adalah berkata lembut dan bersikap baik terhadap orang yang menyelisihi tanpa mengakui sebuah kebatilan atau membenarkannya. Jika pengakuan dan dukungan kepada kebatilan itu ada maka bukan lagi disebut mudarah, tapi mudahanan.

mudarah adalah berkata lembut dan bersikap baik terhadap orang yang menyelisihi tanpa mengakui sebuah kebatilan atau membenarkannya. Jika pengakuan dan dukungan kepada kebatilan itu ada maka bukan lagi disebut mudarah, tapi mudahanan.

Dalam sebuah hadits disebutkan, ada seorang laki-laki meminta izin kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika melihatnya, beliau bersabda: “Alangkah buruknya saudara qabilah, alangkah buruknya anak lelaki kabilah." Lalu ketika duduk, Nabi Muhammad tampak cerah wajahnya, dan melonggarkan baginya. Lalu ketika orang itu pergi Aisyah bertanya: "Ya Rasulullah, Ketika Engkau melihat orang itu Engkau katakan kepadanya, begini-begini, kemudian Engkau berwajah cerah di hadapannya, dan Engkau lapangkan baginya." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: “Ya Aisyah, kapan kamu melihatku berkata kotor? Sesungguhnya manusia paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah orang yang ditinggalkan manusia lain karena takut keburukannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan At Tirmidzi)

Lihatlah bahwa beliau tidak berkata batil dan tidak mendukung sesuatu yang batil, tidak berbuat maksiat dalam sikapnya ini. Sikap beliau ini sebagai upaya untuk menghindari keburukan dan lainnya dengan cara yang syar'i. Beliau tidak mencampur aduk dengan kemaksiatan. Sungguh telah banyak hadits yang memuji sikap mudarah terhadap orang karena sikap tersebut termasuk bagian dari akhlak yang baik dalam beberapa kondisi.

Perbedaan mendasar antara Mudarah dengan Mudahanah adalah: Bahwa mudarah mengorbankan dunia untuk kebaikan dunia atau agama atau keduanya secara bersamaan. Mudarah adalah mubah atau dibolehkan, terkadang sangat dianjurkan. Sedangkan mudahanah adalah meningalkan agama untuk mendapatkan dunia.

mudarah mengorbankan dunia untuk kebaikan dunia atau agama atau keduanya secara bersamaan.

Sebagaimana yang diungkapkan di depan bahwa kekalahan kelompok-kelompok yang menisbatkan dirinya kepada Islam pada hari ini adalah ketika mereka sudah bermudahanah terhadap musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka telah menipu diri mereka sendiri dan menipu manusia dengan mengatakan bahwa ini adalah mudarah yang syar'i. Padahal itu merupakan kekalahan dan kehinaan yang sebenarnya serta mudahanah buta dengan membalik kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran. Sikap seperti itu termasuk bentuk mengorbankan agama untuk kebaikan dunia dan kepertingan pribadi. Kalau sudah seperti ini dan tetap seperti ini, bagaimana akan datang kemenangan bagi umat Islam?

Mudahanah adalah mengorbankan agama untuk kebaikan dunia dan kepertingan pribadi.

Ketiga, condong dan cenderung kepada orang kafir dan orang-orang jahat.
Allah Ta'ala berfirman,

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا

"Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami." (QS. Al-Isra': 73-75)

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan." (QS. Huud: 113) Siapa yang cenderung atau mentaati orang-orang kafir atau dzalim, maka pasti dia mendapat ancaman dengan neraka dan siksa pedih di akhriat.

Dan siapa yang memperhatikan makna kekalahan yang sebenarnya ini dapat kita simpulkan bahwa perjuangan umat Islam di belahan bumi Afghanistan dan Irak pada khususnya bukan merupakan kekalahan. Karena mereka tidak mau mengikuti dan tunduk kepada orang-orang kafir dan sistem mereka juga tidak mau ada ketergantungan kepada orang-orang kafir sehingga tidak bisa menyetir dan menguasi mereka. Kaum mujahidin tersebut juga tidak mau menjilat dengan berkata yang membuat orang-orang kafir; Amerika, Inggris, Perancis, dan sekutu-sekutu mereka ridla.

Sebaliknya, umat Islam di belahan bumi lain yang terlihat damai dan sejahtera tapi hukum dan pemerintahan mereka di bawah kendali dan kontrol negara-negara kafir sehingga dengan suka atau tidak harus menerima dan menerapkan demokrasi dan sistem kufur lainnya merupakan umat yang kalah dan terhina.

Maka hendaknya bagi setiap muslim agar berpegang teguh dengan prinsip akidah dan agama mereka. Hendaknya pula mereka selalu merasa tinggi dan menang meskipun mereka tertimpa banyak kesusahan dan terluka. Allah Ta'ala berfirman,

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim." (QS. Ali Imran: 139-140)

Oleh: Badrul Tamam

Jum'at, 23 Jul 2010

Kamis, 13 Mei 2010

Memilih Bidang Pekerjaan di Akhir Zaman

Oleh: Muhaimin Iqbal*


ADA salah satu Ustaz saya, Ustaz Ihsan Tandjung yang sangat mendalami subyek akhir zaman. Saking banyaknya referensi beliau dalam masalah ini, sampai menulis satu situs khusus di internet.

Mendalami masalah akhir zaman, tidak harus membuat kita pesimistis dalam menghadapi kehidupan ini. Justru sebaliknya, bila kita sadar bahwa ‘boleh jadi kiamat sudah dekat’, maka kita akan berusaha mencari bekal sebanyaknya untuk hidup sesudah itu, yaitu kehidupan yang abadi di akhirat kelak.

Kesadaran akan akhir zaman juga akan membuat kita buru-buru bertaubat bila dalam perjalanan hidup kita ada hal-hal yang kita langgar – mumpung masih ada waktu! Buru-buru kita ke kembali ke jalan Allah menyambut seruan-Nya: “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS 51 :50).

Nah bagaimana dalam konteks bidang pekerjaan, bila dalam pekerjaan yang kita tekuni tersebut kita masih terlibat dalam hal yang sangat terlarang, seperti riba, riswah (suap), mengambil hak orang lain, berbuat kerusakan di bumi, menzalimi rakyat, dan lain sebagainya?

Banyak potensi pekerjaan yang bisa kita pilih, yang aman dari hal-hal yang terlarang tersebut. Bahkan banyak pula jenis pekerjaan yang bisa kita lakukan tersebut yang memiliki dasar kuat di Al-Qur’an ataupun di hadis. Kaidahnya adalah, apa yang disebutkan di Al-Qur’an ataupun hadis yang sahih adalah benar ketika diturunkan. Benar saat ini, dan akan tetap benar sampai akhir zaman.

Mengapa demikian? Karena agama ini adalah agama akhir zaman, maka segala tuntunannya pasti valid sampai akhir zaman, termasuk tuntunannya dalam hal pekerjaan ini.

Pekerjaan bertani atau bercocok tanam misalnya, akan selalu baik sampai akhir zaman karena kita bahkan diperintahkan untuk tetap menanam benih yang ada di tangan kita, walaupun seandainya proses terjadinya kiamat sudah mulai.

Contoh pekerjaan lain yang juga insy Allah valid sampai akhir zaman adalah menggembala (memelihara) kambing. Untuk yang satu ini, Imam Nawawi yang sangat mashur dengan kitab yang menjadi rujukan para juru dakwah hingga kini, membahas secara khusus dalam kitabnya Riyadhush Shalihin.

Dalam bab Beruzlah beliau menyampaikan bahwa beruzlah atau menyendiri ketika moral manusia sudah rusak, takut agama ini terfitnah, dan takut terjerumus dalam keharaman dan syubhat, adalah hal yang disunahkan. Nah ketika kita menyendiri dan takut kepada hal yang haram, lantas apa pekerjaan kita untuk menghidupi diri dan keluarga kita? Memelihara kambing, itulah salah satu jawabannya.

Untuk jawaban ini tidak tanggung-tanggung Imam Nawawi memberikan tiga hadis sahih sebagai rujukannya. Berikut adalah hadis-hadis tersebut:

Dari Abu Hurairah R.A., dari Nabi SAW, dia bersabda: "Setiap Nabi yang diutus oleh Allah adalah menggembala kambing". Sahabat-sahabat beliau bertanya: “Begitu juga engkau ?”; Rasulullah bersabda: “Ya, aku menggembalanya dengan upah beberapa qirath penduduk Mekah.” (H.R. Bukhari)

Dari Abu Said berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Hampir saja harta muslim yang terbaik adalah kambing yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau peperangan sesama muslim).” (H.R. Bukhari)

Dari Abu Hurairah R.A. dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Termasuk penghidupan manusia yang terbaik, adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Dia terbang di atasnya (dia menaikinya dengan jalan yang cepat). Setiap mendengar panggilan perang dia terbang di atasnya dengan bersemangat untuk mencari kematian dengan jalan terbunuh (dalam keadaan syahid) atau mati biasa. Atau seorang laki-laki yang menggembala kambing di puncak gunung dari atas gunung ini atau lembah dari beberapa lembah. Dia mendirikan salat, memberikan zakat, dan menyembah kepada Tuhannya hingga kematian datang kepadanya. Dia tidak mengganggu kepada manusia, dan hanya berbuat baik kepada mereka.” (H.R. Muslim).

Jadi menggembala (memelihara) kambing bukan hanya commercially feasible seperti yang sudah saya tulis sebelumnya; tetapi juga memiliki dasar yang sahih. Maka tidak malu saya berulang kali mengajak para pembaca untuk belajar menekuni profesi yang sering dianggap kuno oleh sebagian orang di zaman teknologi ini. Bagi yang berminat, silakan datang ke lokasi kandang kami di Jonggol dan mulai belajar mempersiapkan diri dengan profesi akhir Jaman. Insya Allah.

Ilustrasi:mages.com/Corbis

Penulis adalah Direktur GeraiDinar.com

Selasa, 04 Mei 2010

Tujuan Utama Dakwah Setan

At Tauhid edisi VI/01
Oleh: M. Saifudin Hakim

Di antara bentuk dosa yang dilalaikan dan dipandang remeh oleh kaum muslimin adalah dosa kesyirikan. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis akan menjelaskan sedikit tentang bahaya syirik. Semoga dengan pembahasan ini dapat mengubah pandangan kita selama ini tentang bahaya kesyirikan yang mungkin belum kita ketahui.
Syirik Merupakan Salah Satu Pembatal Islam
Di antara sebab terbesar batalnya Islam seseorang adalah berbuat syirik kepada Allah Ta’ala. Yaitu dengan beribadah kepada selain Allah Ta’ala, di samping juga beribadah kepada Allah, seperti bernadzar kepada selain Allah, bersujud kepada selain Allah, atau meminta pertolongan kepada selain Allah dalam hal-hal yang tidak ada yang bisa memenuhinya kecuali Allah Ta’ala saja. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah [5]: 72)
Allah Ta’ala berfirman yang artinya,“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang tingkatannya di bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’ [4]: 48)
Oleh karena itu, kesyirikan adalah dosa yang paling berbahaya, namun banyak dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai muslim dan mengucapkan “laa ilaaha illallah”. Mereka memang melaksanakan shalat dan puasa. Akan tetapi mereka mencampur amal ibadah mereka dengan syirik akbar, sehingga mereka pun keluar dari Islam.
Syirik Merupakan Tujuan Utama “Dakwah” Setan
Tauhid merupakan fitrah yang Allah Ta’ala ciptakan untuk manusia. Setiap manusia yang ada di dunia ini terlahir di atas fitrah tauhid, meskipun dia dilahirkan oleh orangtua yang musyrik. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,“Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari tulang punggung mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ’Bukankah Aku ini Rabb-mu? ’Mereka menjawab,’Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’” (QS. Al-A’raf [7]: 172)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidak ada satu pun anak yang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fitrah. Orang tuanya-lah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti seekor hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat (sama persis dengan induknya), apakah Engkau merasakan adanya cacat padanya?“ (HR. Bukhari no. 1385 dan Muslim no. 6926)
Karena manusia dilahirkan di atas fitrah tauhid, maka setan akan berusaha mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyesatkan manusia agar mereka menyimpang dari fitrah tauhid tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya Rabb-ku memerintahkanku untuk mengajari kalian apa-apa yang belum kalian ketahui. Di antara hal-hal yang diajarkan kepadaku hari ini adalah, setiap harta yang Aku berikan kepada hamba-Ku, maka (menjadi) halal baginya. Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-Ku seluruhnya dalam keadaan hanif (menjadi seorang muslim, pen.). Kemudian datanglah setan kepada-Nya yang menjadikan mereka keluar dari agama mereka. Serta mengharamkan hal-hal yang Aku halalkan untuk mereka. Dan juga menyuruh mereka untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak Aku turunkan keterangan tentang itu … ” (HR. Muslim no. 7386)
Setan sendiri telah berjanji di hadapan Allah Ta’ala bahwa dia akan berusaha untuk mengubah fitrah yang telah Allah Ta’ala ciptakan untuk manusia. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,“Yang dilaknati Allah dan setan itu mengatakan, ’Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang sudah ditentukan (untuk saya). Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya. Dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu mereka benar-benar mereka mengubahnya’. Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-Nisa’ [4]: 118-119)
Para ulama ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud ayat,”Dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah)”. Adapun pendapat yang paling tepat sebagaimana yang dipilih oleh Abu Ja’far Ath-Thabary rahimahullah adalah, ”Mengubah agama Allah.” (Lihat Tafsir Ath-Thabary, 9/222)
Syaikh Muhammad Asy-Syinqithi rahimahullah menjelaskan,”Sebagian ulama mengatakan bahwa makna ayat ini adalah setan menyuruh mereka untuk kafir dan mengubah fitrah agama Islam yang telah Allah Ta’ala ciptakan untuk mereka. Perkataan ini dijelaskan dan ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus’ (QS. Ar-Ruum [30] : 30). Maksudnya adalah, janganlah mengubah fitrah yang telah diciptakan atas kalian dengan (mengerjakan) kekafiran”. (Tafsir Adhwa’ul Bayan, 1/341)
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,”Sesungguhnya setiap orang dilahirkan di atas fitrah (yaitu tauhid, pent.). Akan tetapi orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nasrani, Majusi, atau yang semisalnya dari fitrah yang telah Allah tetapkan kepada hamba-Nya. Fitrah itu adalah mentauhidkan Allah, mencintai-Nya, dan mengenal-Nya. Setan akan memburu mereka dalam masalah ini sebagaimana binatang buas yang memburu seekor kambing yang terpisah dari kawanannya”. (Tafsir Taisir Karimir Rahman, hal.204)
Dari sini jelaslah bahwa tujuan utama “dakwah” setan adalah menjerumuskan manusia ke dalam kesyirikan. Karena ketika manusia sudah terjerumus ke dalamnya, maka batal-lah tauhidnya. Dan ketika tauhidnya sudah batal, maka sebanyak apa pun amal shalih yang diperbuatnya, semuanya akan menjadi sia-sia belaka. Sehingga setan pun tidak mempunyai kepentingan lagi untuk mengganggunya.
Oleh karena itu, kita kadang melihat orang-orang yang berbuat syirik dengan beribadah di makam orang-orang shalih, mereka beribadah dengan melaksanakan shalat, berdzikir, atau membaca Al Qur’an dengan penuh kekhusyu’an. Bahkan bisa jadi mereka beribadah di sisi makam tersebut semalam suntuk tanpa merasa lelah dan mengantuk. Sesuatu yang mungkin sangat sulit dilakukan oleh orang-orang selain mereka. Demikianlah, kekhusyu’an mereka itu tidak lain karena memang setan tidak lagi mempunyai kepentingan untuk mengganggu ibadahnya tersebut. Karena setan sudah mengetahui, bahwa sebanyak apa pun amal ibadah yang mereka lakukan semuanya akan sia-sia belaka dan tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala.
Syirik Merupakan Dosa yang Tidak Akan Diampuni Jika Tidak Mau Bertaubat
Allah Ta’ala berfirman,”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang tingkatannya lebih rendah dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’ [4]: 48)
Ayat ini menunjukkan betapa berbahayanya dosa syirik karena Allah Ta’ala tidak akan mengampuninya kecuali jika pelakunya bertaubat darinya. Padahal, ampunan dan rahmat Allah Ta’ala sangatlah luas dan meliputi segala sesuatu. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Hajj [22]: 60)
Hal ini diperkuat oleh hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang wanita sedang menggendong anaknya sambil memberi makan, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya,“Menurut kalian, apakah ibu ini tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Para sahabat menjawab,”Tidak, demi Allah! Dia tidak akan tega, selama dia mampu untuk tidak melemparkan anaknya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sungguh Allah lebih mengasihi para hamba-Nya dibandingkan kasih sayang ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari no. 5999 dan Muslim no. 7154)
Ayat dan hadits di atas menunjukkan betapa besar kasih sayang dan ampunan Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya, melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Akan tetapi, orang-orang musyrik tidak ikut tercakup di dalamnya. Hal ini menunjukkan begitu besarnya kejahatan dan kedzaliman yang ditimbulkan oleh kesyirikan.
Maka barangsiapa yang meninggal di atas kesyirikan, maka dia tidak akan diampuni. Sehingga hal ini menunjukkan betapa bahayanya kesyirikan. Kita wajib menghindarinya sejauh-jauhnya. Setiap dosa masih mungkin dan masih ada harapan untuk diampuni jika pelakunya tidak bertaubat, kecuali dosa syirik. Sedangkan kesyirikan tidak mungkin untuk dihindari kecuali dengan mempelajarinya dan mengetahui bahayanya. (Lihat I’anatul Mustafiid, 1/95)
Apabila seseorang berbuat syirik kemudian bertaubat dan meninggal di atas tauhid, maka Allah Ta’ala akan mengampuni dosa-dosanya, termasuk dosa syirik. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah,’Hai hamba-hambaKu yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar [39]: 53)
Inilah sebagian kecil di antara bahaya-bahaya kesyirikan. Oleh karena itu, sudah selayaknya apabila seseorang sangat takut untuk terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Dalam hal ini, Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam telah memberikan teladan kepada kita ketika beliau berdoa kepada Allah Ta’ala, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata,’Wahai Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman. Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Wahai Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan mayoritas manusia’”. (QS. Ibrahim [14]: 35-36)
Ibrahim ‘alaihis salaam berdoa seperti itu, padahal beliau telah memiliki kedudukan yang sangat tinggi sebagai kekasih Allah (khalilullah). Meskipun demikian itu keadaan Ibrahim ‘alaihis salaam, beliau tetap mengkhawatirkan apabila dirinya jatuh terjerumus ke dalam perbuatan syirik, karena hati manusia berada di antara jari-jemari Ar-Rahman. Oleh karena itulah, sebagian ulama mengatakan,”Dan siapakah yang merasa aman dari ujian setelah Ibrahim ‘alaihis salaam (tidak merasa aman)?” Karena Ibrahim ‘alaihis salaam mengkhawatirkan dirinya kalau terjerus ke dalam perbuatan syirik ketika beliau melihat banyak manusia yang terjerumus ke dalamnya. Wallahu a’lamu. [dr. M. Saifudin Hakim]

Sabtu, 01 Mei 2010

MEDIA MUJAHID ITU HARUS EKSIS DAN TERDEPAN

E-mail Print PDF

Ironisnya, Ikhwani fillah, perang media propaganda mereka ini didukung oleh media-media yang katanya “Islami”

SEGALA Puji Bagi Allah Swt atas segala karunia-Nya berupa kenikmatan iman, takwa, dan keistiqomahan buat para mujahid-mujahid yang berjuang di jalan-Nya. Sholawat dan salam buat junjungan besar kita, komandan mujahid, Muhammad Saw, beserta keluarga dan para sahabat-sahabatnya. Amma ba’du.

Dengan izin Allah, Ana bisa menulis kembali untuk ikhwah dan akhwat sekalian. Walaupun hanya sebatas kata-kata Tahridh (penyemangat), namun Insya Allah bermanfaat buat kalian dalam menjadi sosok Mujahid media ke depan.

Ikhwani Wa Akhwati fillah!

Memang perjuangan ini amatlah berat, penuh hal-hal yang membuat kaum muslimin sesak apabila melihat penindasan-penindasan kaum munafik, kafir, dan sebagainya terhadap umat ini. Penindasan yang mereka lakukan bukan saja pada fisik melalui invasi militer dan kekuatan-kekuatan yang lain. Namun juga didukung oleh media-media sekuler antek-antek Yahudi, dengan sarana propaganda jijik lagi keji melalui TV, media internet, surat kabar, dan sebagainya.

Ironisnya, Ikhwani fillah, perang media propaganda mereka ini didukung oleh media-media yang katanya “Islami”, tapi keterpihakan terhadap kaum muslimin begitu minim, bahkan tidak adil sama sekali.

Subhanallah, bagi umat Islam, terutama mujahid media Islam, netralitas kita adalah keberpihakan kita terhadap kaum muslimin dan pejuang-pejuang Islam yang membela kaum muslimin, dengan harta dan jiwa. Menabrak pakem yang telah dibuat oleh kaum sekuler dan kafir ini adalah sebuah kemuliaan buat Islam dan Izzatul Islam.

Coba Anda renungkan dengan baik saudara-saudaraku. Semua aturan media internasional itu dibikin oleh kaum zionis, dari aturan jurnalistik kenetralan, hal-hal humanis, serta keberpihakan media kepada negara-negara penjajah. Semua itu bentuk penjajahan jiwa buat jurnalis-jurnalis Islam di dunia. Mereka yang membuat sumber-sumber berita, dan kita yang mengutip untuk kita publish, seperti AP, Reuters, AFP, CNN, BBC, dan lain-lain. Kebanyakan kita berkiblat kepada sumber berita itu, mulai dari pengambilan, penyodoran, bahkan gaya atau lifestyle yang mereka buat.

Terus terang, selama lima tahun ana berkecimpung dalam dunia media ini, walaupun secara khusus ana bukan jurnalis yang hebat, bahkan masuk sekolah jurnalis saja tidak pernah, namun dengan izin Allah, dengan dibantu orang-orang yang ikhlas, ana bisa menabrak pakem yang dibuat kaum sekuler ini. Semua ini ikhwan, bisa terjadi bukan karena kita menguasai ilmu jurnalistik, tapi harus lebih dari itu.

Untuk menjadi jurnalis Islam yang hebat, itu sangat mudah. Semua itu harus bermula dari jiwa yang bersih, hati yang bersih, dan hanya meletakkan Allah Swt di atas segala-galanya. Kita bertauhid kepada-Nya, serta menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai suri tauladan hidup, dengan Al-Quran dan-Hadis sebagai pegangan hidup. Demi Allah, kalian akan hebat bilamana itu semua kalian laksanakan.

Mengapa harus memerlukan jiwa yang bersih? Karena dengan jiwa yang bersih, Allah SWT akan memberikan kita sebuah mata hati yang bisa melihat antara yang haq dan bathil, kebenaran dan kesesatan. Yang bisa membedakan, mana yang Islam dan mana yang kafir serta munafik. Tanpa hati yang bersih, maka kebatilan selalu terdepan, sedangkan kebenaran tersingkir hanya demi memuaskan musuh-musuh Allah Swt. Maka konsep cek dan ricek, atau dengan kata lain tabayyun ini sangatlah penting. Wajib bagi jurnalis-jurnalis Islam bertabayyun dalam setiap hal, dan bisa memberikan yang terbaik buat Islam dan kaum muslimin, walaupun orang kafir membenci dan memboikot. Jangan hanya gara-gara orang tidak ingin beriklan di media kita, kita sanggup mengorbankan kebenaran ke arah sesuatu yang samar-samar atau bohong.

Yang kedua, meletakkan Allah di atas segalanya. Dan poin ini sangatlah penting. Di sinilah banyak di antara kita, dari jurnalis muslim kadang ragu dalam hal kebenaran. Bahkan takut menyampaikan kebenaran itu, karena masih merasa manusia lebih besar dari Allah, takut kepada bos, pemerintah, dan penegak hukum thaghut.

Apabila kebenaran itu disampaikan, maka mungkin akan diintimidasi bahkan ditangkap. Saudaraku, ingatlah jika manusia ini berkumpul untuk memberikan kemadhorotan (mencelakakan) kepada kamu, mereka tidak akan bisa kecuali dengan izin Allah. Allahu akbar!! Allah Maha Besar, tidak ada yang lebih besar dari-Nya. Jangan takut, maka bergantunglah kepada-Nya dan bijaksanalah.

Ketiga, menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai suri tauladan. Ia benar, Nabi Muhammad Saw memberikan contoh terbaik buat umat Islam dalam segala hal, perhatikan QS. Al-Fath ayat 29.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka...”

Ayat tersebut menggambarkan sikap dan keberpihakan kita, serta loyalitas kepada sesama muslim. Keras terhadap orang kafir dan lembut terhadap sesama orang Islam. Ini perlu kebijaksanaan para mujahid itu sendiri. Intinya, sebelum menulis sesuatu berita atau artikel, kita harus mempertimbangkan dampaknya untuk kaum muslimin. Jika itu sebuah kebenaran, maka harus disampaikan walau pahit, tapi harus bijaksana dan lembut. Namun jika menyampaikan kekalahan-kekalahan orang kafir, harus tegas, karena itu akan membuat kaum muslimin bangga karena sebuah kabar gembira.

Dan terakhir, kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Apapun masalahnya atau argumentasinya, jika kita berselisih atau bingung dalam memposisikan sesuatu, maka kembalikanlah kepada kitabullah wa sunnatu rosulullah (Al Quran dan As Sunnah), karena di situlah petunjuk dari sang pencipta dan tauladan buat umat manusia. Insya Allah, jika kita istiqomah dalam segala hal ini, kita akan sukses dunia akhirat.

Ikhwah fillah!

Maka oleh itu, jangan kalian merasa kecil dan tidak bersemangat dalam membela agama Allah ini. Jika belum berkesempatan untuk berjuang di medan laga, maka kita bisa berjihad di medan maya dan sejenisnya, sehingga Dien ini hanya milik Allah.

Sebelum ana mengakhiri tahridh ini, ana ingin menukil beberapa kata dari seorang mujahid agung, Dr. Ayman Az Zawahiri dalam bukunya “At-Tabriah; Mengapa Mujahid Media Itu harus Eksis dan Media Islam Harus Menjadi Yang Terdepan.” Ada tiga poin yang dikutip:


1. Untuk menjawab syubhat-syubhat (fitnah) kaum kafir dan antek-anteknya dengan bukti yang benar.
2. Menjawab segala asumsi dan opini media kafir dan sekuler dengan fakta.
3. Membangkitkan rasa percaya diri umat ini, bahwasanya eksistensi umat itu masih ada.

Alhamdulillah, semoga tulisan ini bermanfaat saudaraku sekalian yang ana cintai karena Allah. Ikhlas, sabar, istiqomah dan optimislah untuk menjadi manusia yang terbaik untuk umat ini. Bersatulah dan pupuklah ukhuwah dengan sesama jurnalis dan kaum muslim yang lain. Selalu menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Doakan ana istiqomah dan terlepas dari fitnah yang dilemparkan musuh-musuh Islam. Allahu maulana wala maulaalahum! Allah pelindung kita dan mereka (orang kafir) tidak punya perlindungan. Wallahu ‘lam bishshawab!

Dari saudara kalian, Muhammad Jibriel AR

( suara hidayatullah/Cholis Akbar/Wednesday, 28 April 2010 )

Sabtu, 24 April 2010

PLURALISME BUKAN TOLERANSI, TAPI FAHAM SYIRIK

Oleh: Asmu'i

Sepeninggal Gusdur, banyak yang 'latah' bicara pluralisme. Mulai dari orang-orang tingkat atas (para tokoh Nasional) sampai rakyat yang ada di akar rumput.

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi memiliki definisi tersendiri tentang pluralisme. Menurutnya, yang dimaksud tidak lain adalah pluralisme sosiologis, bukan pluralisme teologis. Dalam pluralisme sosiologis ini, tegas beliau, terdapat kebersamaan 'umat' beragama dalam komunitas keduniaan atau immanent sebagai pengejawantahan Bhinneka Tunggal Ika atau unity and diversity. Setiap agama di luar teologi dan ritualnya pasti ada ruang humanisme dan di situlah umat lintas agama bertemu, tegas Hasyim kepada Republika di Jakarta, Senin (4/12).

Namun, apakah ruang gerak "pluralisme" ini benar-benar hanya pada ranah sosial? Apa sebenarnya pluralisme itu? Apakah memang ada perbedaan antara pluralisme sosiologis dan pluralisme teologis? Mari kita lihat!

Kebingungan para liberalis tentang pluralisme

Alih-alih tanggungjawab untuk menjaga dan mempererat persatuan masyarakat Indonesia, orang-orang liberal kembali angkat bicara agar faham pluralisme bisa diterima masyarakat. Wacana yang semula sempat mengendap karena ada fatwa haram dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 2005 itu, mereka 'utak-atik' lagi. Di sini, kita mulai melihat "apa sebenarnya faham ini."

Dalam tulisannya Pluralisme Pasca-Gus Dur (Kompas, 4 Januari 2010), Zuhairi Misrawi berbicara banyak masalah pluralisme ini. Kita mulai melihat bentuknya. Ia memulai tulisannya dengan 'keluhannya' terhadap fatwa haram MUI terhadap faham pluralisme. Menurutnya, fatwa ini cukup berpengaruh di 'akar rumput'. Makanya, ia resah dan gelisah. Sebab hal ini, lanjutnya, dapat mengganggu upaya membangun harmoni dan kebersamaan. Karena itu, fatwa itu ia anggap sebagai tantangan serius.

...Orang-orang liberal mencampuradukkan antara pluralisme sosiologis dengan pluralisme teologis...

Membaca tulisan Zuhairi ini, terlihat jelas betapa ia menjadikan "kusut" masalah pluralisme ini. Ia mencampuradukkan -yang oleh banyak orang dibedakan- antara pluralisme sosiologis dengan pluralisme teologis.

Mula-mula, dalam melihat 'masa depan' pluralisme di Indonesia, Zuhairi meneropongnya dari keluarnya fatwa MUI tanggal 29 Juli 2005 yang mengharamkan Pluralisme Agama. Menurutnya, fatwa tersebut acap kali dijadikan landasan untuk melarang kegiatan dan memejahijaukan kelompok minoritas dalam intra-agama dengan menggunakan Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 dan KUHP Pasal 156a tentang penodaan agama. Pandangannya ini menimbulkan pertanyaan serius. Apalagi, dalam banyak kesempatan, Zuhairi membuktikan pernyataannya ini. Kita ambil kasus terdekat, Ahmadiyah, yang mendapat penolakan dari MUI melalui pertimbangan Undang-Undang tersebut. Dalam kasus ini, dengan lantang Zuhairi Misrawi menolak fatwa MUI ini.

Jika ditarik lebih dalam, pemikiran Zuhairi tersebut lahir dari keyakinannya bahwa tidak ada truth claim. Masing-masing orang bebas beragama dan berkeyakinan. Zuhairi tidak mau memahami bahwa, soal Ahmadiyah adalah soal aqidah. Ini jelas, sebab Ahmadiyah berdiri atas dasar 'aqidah Ahmadiyah' yang bertumpu pada soal klaim kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Namun, karena memandang semua agama posisinya sama, maka Zuhairi tidak bisa atau tidak mau membedakan 'mana yang sesat dan mana yang benar'. Semuanya sama. Padahal, pada saat yang bersamaan, ia sedang tidak memberi kebebasan kepada yang lain, umat Islam untuk melaksanakan keyakinan mereka. Ia memaksa umat Islam menjadi pluralis, liberalis. Dus, ide pluralisme membuat Zuhairi bingung dan mengajak orang lain untuk ikut-ikutan 'berbingung ria.'

Di sini Zuhairi membuktikan bahwa pada dasarnya, pluralisme sosiologis dan pluralisme teologis -sebagaimana yang akan penulis buktikan lebih lanjut- maksudnya sama, tidak berbeda seperti yang dikira oleh kebanyakan masyarakat. Makanya, di kalangan orang-orang liberal, penggunaan dua istilah tersebut tidak dibeda-bedakan. Jika pun mereka melakukan pembedaan, itu sebatas untuk membuat 'seolah-olah' faham tersebut "baik-baik" saja. Namun yang cukup menggelikan, agar 'permohonannya' kepada MUI untuk mencabut 'fatwa haram' terhadap faham pluralisme, Zuhairi menyamakan masalah pluralisme yang sedang dihadapi MUI dengan diktum pendapat lama (qaul qadim) Imam Syafi'i selama beliau di Irak dan pendapat baru (qaul jadid)-nya ketika menetap di Mesir. Satu lompatan analogi yang dipaksakan. Beginilah orang liberal menjelaskan "hakikat" pluralisme itu.

Tentu, pendapat Zuhairi di atas bertolak belakang dengan maksud pluralisme yang diperjuangkan NU, sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Hasyim Muzadi. Bahkan, dalam masalah fatwa haram dari MUI terhadap faham pluralisme misalnya, NU menjadi salah satu ormas Islam yang mendukungnya. Dan jauh sebelum fatwa itu keluar, tepatnya dalam muktamar NU ke-31, NU telah menyatakan sikapnya tegasnya, yakni menolak pluralisme. Tidak cukup itu, dalam Forum kiai-kiai NU di Bahtsul Masail se Jawa dan Madura kembali mengeluarkan tausiyah (pernyataan) yang mendukung fatwa MUI tersebut. Ini menunjukkan bahwa dalam hal ini, Zuhairi tidak sedang berada di barisan yang sama dengan NU.

Walhasil, pluralisme itu bukan hanya doktrin sosial, sebab ia akan selalu menyentuh aspek teologis. Mengapa demikian? Mari kita telusuri lebih lanjut!

Definisi dan doktrin Pluralisme

Di Barat, pluralisme memiliki akar yang dapat dilacak jauh ke belakang, tapi yang paling dominan adalah akar nihilisme dan relativisme Barat postmodern. Sejak awal, postmodernisme ini menjadikan fundamentalisme sebagai musuh utamanya. Di mana dalam hal ini, postmodernisme menjadikan pluralisme sebagai senjatanya. Sebenarnya, postmodernisme itu sendiri dihidupkan oleh semangat pluralisme, kata Akbar S Ahmed dan Ernest Gelner. Tujuannya, kata Peter L Berger, pluralisme itu sebagai ganti sekularisme yang dianggap gagal. Dan dari perut pluralisme inilah, faham 'pluralisme agama' lahir.

... pluralisme itu sebagai ganti sekularisme yang dianggap gagal. Dan dari perut pluralisme inilah, faham 'pluralisme agama' lahir...

Dalam The Golier Webster Int. Dictionary Of The English Language diungkap bahwa pluralisme dipahami dalam dua makna, pertama, adanya pengakuan terhadap kualitas majemuk atau toleransi terhadap kemajemukan. Artinya, toleransi yang dimaksud adalah di mana masing-masing agama, ras, suku dan kepercayaan berpegang pada prinsip masing-masing dan menghormati prinsip dan kepercayaan orang lain. Kedua, pluralisme berupa doktrin, yakni: a). pengakuan terhadap kemajemukan prinsip tertinggi, b) dalam masalah kebenaran, tidak ada jalan untuk mengatakan hanya ada satu kebenaran tunggal tentang suatu masalah, c) berisi ancaman bahwa tidak ada pendapat yang benar, atau semua pendapat itu sama benarnya, d) teori yang sejalan dengan relativisme dan sikap curiga terhadap kebenaran (truth), e) dan terakhir, pandangan bahwa di sana tidak ada pendapat yang benar atau semua pendapat adalah sama benarnya (no view is true, or that all view are equally true). (Lihat juga dalam Oxford Advanced Lear ners’ Dictionary of Current English dan Oxford Dictionary of Philosophy).

Dari sisi definisi saja dapat diketahui bahwa pluralisme itu sendiri sudah mengandung pandangan relativitas dalam kebenaran, atau setidaknya, curiga terhadap kebenaran. Pluralisme ini tidak berpegang pada suatu dasar apa pun. Tidak boleh ada kebenaran tunggal. Bahkan dalam satu pengertian, pluralisme mengajarkan bahwa sebenarnya kebenaran itu tidak ada.

Dalam bukunya, The Desecularization of the World, Peter Ludwig Berger menyatakan, pluralisme dengan dukungan globalisasi akan mengubah pengalaman keberagamaan individu. Lambat laun, ia akan menggeser posisi agama, sebab menjadi fakta kehidupan sosial dan kesadaran individual. Agama tidak lagi menjadi sandaran, baik di tingkat internasional dengan globalisasinya dan nasional dengan demokrasi liberalnya. Akhirnya, otoritas menjadi hak setiap individu. Jika demikian, posisi pluralisme bagi masyarakat lebih kuat dari pada agama, ungkap Berger. Jelasnya, pluralisme menjadi agama baru.

Sementara itu, ungkapan lebih tegas disampaikan oleh Diana L.Eck dalam The Challenge of Pluralism. Menurutnya, pluralisme bukan sekedar toleransi antar umat beragama, tidak pula sekedar menerima pluralitas (diversity). Lebih jauh ia membayangkan bahwa, pluralisme merupakan penyatuan agama-agama, yakni realitas keagamaan yang plural (baca: From Diversity to Pluralism). Karena itu, ia menyarankan agar menerima kebenaran yang ada pada agama lain. Baginya, masing-masing agama memiliki wilayah kebenaranya sendiri. Artinya, Diana meyakini bahwa semua agama itu sama benarnya, yang satu tidak lebih benar dari yang lain. Relativisme menjadi ciri khas pemikiran Diana ini. Jika demikian, sesungguhnya 'sasaran utama' pluralisme adalah agama. Artinya, pluralisme itu tidak bergerak di ranah sosial semata, tapi juga mencakup ke aspek teologis. Oleh karena itu, pluralisme dan pluralisme agama adalah dua faham yang sama.

Selanjutnya, pluralisme agama memiliki sekurang-kurangnya dua aliran besar, yaitu aliran Kesatuan Transenden Agama-agama (transenden unity of religious) yang dicetuskan oleh Fritjhof Schuon dan aliran Teologi Global (global theology) yang dicetuskan oleh John Hick dan Wilfred Cantwell Smith.

Dalam aliran Kesatuan Transenden Agama-agama (transenden unity of religious), Schuon menawarkan ide 'pembacaan' agama menjadi dua tingkat, tingkat eksoterik dan esoterik. Perbedaan antar agama ada pada tingkat eksoterik (lahiriah), sedangkan pada aspek esoterik, agama-agama itu menyatu, memiliki Tuhan yang sama sekaligus abstrak dan tak terbatas, terangnya.

Secara kasat mata, pandangan ini sangat bertentangan dengan prinsip tauhid dalam Islam. Di mana ia malah mengajak kita, umat Islam untuk berbuat syirik. Selain itu, dalam idenya ini, Schuon tidak begitu mementingkan aspek eksoterik. Jelas-jelas ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. Padahal, aspek eksoterik (syari'ah) itu adalah salah satu misi utama kenabian. Bentuk-bentuk ibadah yang tidak sesuai dengan yang Rasulullah Saw contohkan tidaklah sah. Lebih dari itu, dalam Islam tidak dikenal pemisahan kedua aspek tersebut. Satu sama lain terkait. Untuk mencapai tingkat esoterik yang benar, seorang muslim/muslimah harus melaksanakan syariah secara benar, sebagaimana yang dicontohkan Nabi SAW.

Demikian halnya dengan aliran Teologi Global (global theology), juga memiliki problem serius. Menurut aliran ini, agama-agama yang ada harus menyesuaikan diri dengan kondisi dan perkembangan sosial budaya masyarakat hari ini. Maksudndya masyarakat yang plural. Universalisasi ideologi Barat adalah tujuan yang hendak dicapai (baca: Dr. Amir al-Roubaie). Demi universalisasi ini, John Hick dan juga Diana L Eck 'melebur' batas agama-agama (ekslusivisme). Akibatnya, ada perubahan radikal dalam masalah Ketuhanan, yaitu dari 'banyak agama' banyak Tuhan, menjadi 'banyak agama' satu Tuhan. Sementara dalam hal pengetahuan akan 'Tuhan dan kebenaran', Hick mengatakan bahwa itu sifatnya relatif (baca: An Interpretation of Religion).

..Pluralisme bukan toleransi. Ia lebih tepat dimaknai sebagai relativisme kebenaran. Semua agama benar karena menuju Tuhan yang sama...

Melihat uraian ini, pluralisme bukan toleransi. Ia lebih tepat dimaknai sebagai relativisme kebenaran. Semua agama benar karena menuju Tuhan yang sama. Miris.

Fenomena meninggalkan tauhid demi pluralisme

Melihat ini, menarik menilik 'apa' yang disampaikan oleh Prof. Dr. M. Amien Rais, tokoh senior Muhammadiyah. Beliau secara tegas mengkritik tokoh-tokoh dan aktivis Muhammadiyah yang sudah meninggalkan wacana Tauhid dengan bicara dan menyebarkan faham Pluralisme secara 'kebablasan (wawancara di Majalah Tabligh, edisi Maret 2010).

Menyadari ini, para tokoh nasional hendaknya berhati-hati dalam menggunakan istilah pluralisme. Apalagi mengajak orang lain untuk menjalankannya. Di atas segalanya, mereka harus lebih mengedepankan isu ”iman”, bukan lainnya. Dalam masalah pluralisme ini misalnya, jangan hanya karena "dipaksakan", lalu istilah itu begitu saja dipakai. Sebab, setiap istilah itu tidaklah 'tergeletak' begitu saja. Ia mengandung nilai-nilai, konsep dan ideologi bangsa yang melahirkannya. Jika datang dari Barat misalnya, maka ia mewakili nilai-nilai mereka (Barat). Demikian juga dengan istilah pluralisme.

Kita meyakini, tanpa menggunakan istilah yang 'keren-kerenan', bangsa kita bisa terus menjaga dan mempererat tali persaudaraan. Sejak awal, Islam mengakui dan menghargai perbedaan. Sampai-sampai, perbedaan dalam masalah agama tidak boleh menghalangi seorang anak untuk berbuat baik kepada orang tuanya. Namun, untuk masalah keimanan dan kemusyrikan, kita tidak mentolerir. Maksudnya, kita menginginkan perdamaian dan kerukunan. Tetapi, tauhid lebih penting. Faktanya, Islam mampu melakukan ini.

...Singkatnya, tidak dapat disangkal bahwa, pluralisme itu adalah faham syirik...

Islam mengakui perbedaan dan dialog. Namun bukan berarti kita harus melebur agama ini. Jika peleburan ini yang terjadi, justru kerukunan tidak akan pernah tercapai. Karena itu, jika ide 'pluralisme' diteruskan, semua agama dirugikan. Sebab, mereka tidak lagi bisa menjalankan ajaran agamanya. Tetapi, dipaksa untuk ikut aturan yang dibuat manusia, yaitu pluralisme yang berfungsi sebagai 'agama baru'. Singkatnya, tidak dapat disangkal bahwa, pluralisme itu adalah faham syirik. Wallahu A'lamu bi ash-Shawab.

[Penulis adalah alumnus ke-2 Program Kaderisasi Ulama (PKU) Gontor Ponorogo 2009, sekarang sedang menyelesaikan Program Pasca Sarjana di Universitas Darussalam Gontor Ponorogo, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Akidah].(Sabtu, 24 Apr 2010

Minggu, 04 April 2010

RIWAYAT KALENDER MASEHI

“Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang, agar kamu dapat mencari karunia dari Rabbmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas” (QS. al-Isra’: 12).

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas telah menjelaskan kepada manusia, bahwa Dialah Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur alam semesta seisinya dengan sempurna dan teratur, termasuk tentang waktu. Manusia dengan akal karunia-Nya telah mampu mengetahui waktu: jam, hari bulan, tahun. dan menyusunnya menjadi organisasi satuan-satuan waktu yang disebut penanggalan atau kalender.

Kalender sebagai hasil budaya manusia berguna dalam penentuan waktu bercocok tanam, berlayar, berburu, bermigrasi, beribadah dan hari-hari besar keagamaan. Ada dua macam tahun kalender di dunia saat ini, yaitu menggunakan perhitungan sistem matahari dan sistem bulan.

Pertama, berdasar putaran bumi mengitari matahari. Rotasi bumi pada porosnya sehari dalam 23 jam 56 menit 1 detik atau dibulatkan menjadi 24 jam. Peredaran bumi mengitari matahari dalam setahun 365, 2422 hari. Cara perhitungan waktu edar bumi mengelilingi matahari ini disebut Kalender Syamsiyah, (solar calendar).

Sistem kalender matahari, mulai dikenal dan diawali oleh bangsa Mesir 4236 SM; setahun terdiri atas 12 bulan, tiap bulan 30 hari, ditambah 5 hari raya agama. Bangsa Indian Maya, Olmec dan Aztec di Mexico menggunakannya sejak 580 tahun SM. Kelebihan kalender matahari ketepatannya dengan perubahan musim. Sistem inilah yang dipakai dasar kalender Masehi.

Pada masa kerajaan Jawa ada kalender yang disusun oleh Prabu Aji Saka sejak 14 Maret 78 M, disebut Tahun Saka. Sekarang masih dipakai masyarakat Hindu Bali. Sultan Agung Anjokrokusumo (Sri Sultan Muhammad) pada tahun 1555 Saka mengubah perhitungan kelender Saka disesuaikan dengan sistem bulan/qamariyah atau Hijriyah 1043 H bertepatan 1633 M, namun tahunnya tetap 1555 Saka. Putaran tahunnya diubah dengan istilah windu (8 tahun), dengan hitungan setahun qamariyah 354 3/8 hari. Jadi, setiap 8 tahun ada 3 tahun panjang (355 hari) dan 5 tahun pendek (354 hari).

Kedua, berdasar waktu edar bulan mengelilingi bumi, dari bulan sabit ke bulan sabit berikutnya dihitung 1 bulan, rata-rata 29,5 hari. Satu tahun Qamariyah 354 hari 8 jam 48 menit; dihitung dari hadirnya 12 kali bulan sabit. Perhitungan waktu cara ini disebut Kalender Qamariyah, (lunar calendar), sebagai sistem penanggalan paling tua. Keunggulan kalender bulan, yakni tanggalnya mudah diketahui dari perubahan bentuk bulan. Sistem inilah yang dipakai dalam kelender Hijrah atau Hijriyah.

Kalender Masehi/Miladiyah
Kalender yang dipakai sekarang berasal dari bangsa Romawi. Pada waktu Julius Caesar menjadi anggota Pontifex Maximus, dibantu Sosigenes, pakar astronomi dan matematik dari Yunani memelajari penanggalan berdasar musim (matahari) di Mesir. Asalnya kalender Romawi dengan sistem bulan kemudian diubah menjadi sistem matahari/syamsiyah, pada tahun 47 SM. Setahun terdiri atas 365 hari lebih 6 jam atau 365 ¼ hari. Setiap 4 tahun dijadikan tahun kabisat, yakni dengan menambah satu hari pada bulan terpendek (Februarius). Bulan Februari yang berumur 28 hari, ditambah satu hari menjadi tanggal 29.

Senat Romawi mengabadikan nama Julius sebagai ganti nama bulan ketujuh (sebelumnya Quintilis), sebagai penghormaan atas jasa Julius Caesar. dan disebut kalender Julian. Selanjutnya, Kaisar Augustus merevisi tahun kabisat sejak 8 SM – 8 M. Nama bulan Sextilis diganti menjadi Augutus, dan umur bulan menjadi 31 hari. Umur bulan ada yang 31 hari, yaitu Januarius, Martius, Maius, Julius, Augustus, October dan December; lainnya berumur 30 hari, kecuali Februari pada tahun biasa 28 hari dan pada tahun kabisat berumur 29.

Riwayat Nama 12 Bulan 7 Hari
Nama-nama bulan dan hari pada kalender Masehi diambil dari kepercayaan Romawi Kuno. Januari dari nama dewa Janus (dewa bermuka dua, wajahnya menghadap ke muka dan sebelah ke belakang). Februari dari bahasa Latin Februo, artinya menyucikan jiwa atau upacara membersihkan jiwa bangsa Romawi. Maret dari nama Mars (dewa perang). April dari bahasa Latin Aperto, artinya terbuka, terkembang. Disebut juga Easter, nama dewa musim panas. Mei dari nama Maia yakni putri dewa Atlas. Juni dari nama Juno, salah satu dewa Romawi. Juli dari nama Julius Caesar, atas jasanya menyusun kalender Masehi. Augustus dari nama Kaisar Augustus, yang telah menyempurnakan tahun kabisat.

Selanjutnya September dari bahasa Latin sextilis (tujuh), asal nama bulan ketujuh, berubah menjadi nama bulan kesembilan.. Perubahan nama tersebut menjadi salah kaprah dalam penyebutan bulan selanjutnya. Octo, Novem dan Decem (bahasa Latin, artinya 8,9, 10). Akhirnya diubah menjadi nama bulan kesepuluh, kesebelas dan kedua belas.

Kaisar Constantinus sebagai Kaisar Romawi pertama beragama Kristen, pada tahun 321 M, mengenalkan nama-nama hari dalam 7 hari. Disandarkan pada kepercayaan Kristen bercampur kepercayaan Yahudi dan Romawi Purba. Sebetulnya pembagian sepekan dalam tujuh hari dilakukan oleh bangsa Assyria (Irak Utara) dan Yahudi di Timur Tengah. Mereka percaya bahwa tujuh benda langit berpengaruh pada kehidupan di bumi.

Pengaruh benda langit itu berganti dari jam ke jam dari yang terjauh Saturnus sampai yang terdekat, yakni bulan. Oleh sebab itu hari pertama disebut Saturday (hari bintang Saturnus). Memang, bila kita hitung mundur sampai tahun 1 Masehi, maka tanggal 1 Januari bertepatan pada hari Sabtu.

Pengaruh benda langit pada jam kedua Jupiter lalu disusul Mars, Matahari, Venus, Merkurius dan Bulan, Saturnus dan seterusnya berulang. Jam pertama berikutnya dipengaruhi matahari, dalam bahasa Inggris disebut Sunday (hari matahari). Monday (hari bulan), Tuesday dari Tyr, dewa perang. Wednesday dari Woden, dewa suci. Thursday, dari nama dewa Thor (dewa halilintar) dan Friday dari Freya yakni dewa perkawinan.

Adapun kalender atau tarikh Masehi yang dipakai dewasa ini tahun pertamanya dimulai dari tahun (yang dianggap) kelahiran Isa al-Masih; yang diputuskan oleh Pimpinan gereja Roma, Dyonsius Exiguus pada tahun 525 M. Disebut kalender Masehi artinya kalender yang disusun oleh pemimpin agama Kristen, berdasar keyakinan agama Kristen.

Pada masa Paus Gregorius VIII dilakukan koreksi lagi terhadap kalender Julian. Paus dibantu Lilio Ghiraldi alias Aloysius Lilius (ahli astronomi dan fisika) dan Christoper Clavius (ahli matematika). Mereka menghitung siklus matahari, diketahui secara akurat bahwa satu tahun lamanya 365,242199 hari (365 hari, 5 jam, 48 menit, 46 detik). Padahal, pada kalender Julian 365 ¼ hari (365 hari, 6 jam). Jadi perbandingan keduanya selisih 11 menit.

Paus Gregorius memutuskan untuk mengurangi kalender Julian, bahwa bulan Oktober 1582 akan dikurangi 10 hari. Jadi, ketika hari Kamis tertanggal 4 Oktober 1582, maka besoknya (bukan tanggal 5 Oktober) tetapi ditetapkan menjadi tanggal 15 Oktober. Tahun kabisat tidak berdasar rumus angka tahun dibagi empat, tetapi dihitung bila angka tahun habis dibagi 400. Misalnya tahun 1400 bukan tahun kabisat; justru tahun 1600 menjadi tahun kabisat, karena 1600 habis dibagi 400.

Penanggalan ini diberi nama Kalender Gregorian. Awalnya hanya dipakai terbatas di kalangan penganut Katolik Roma. Kemudian diikuti Spanyol, Portugis, Jerman, Belanda dan Perancis. Penganut Protestan menggunakan kalender ini sejak tahun 1700.

Ratu Elizabeth I memerintahkan penerbitan kalender di London tahun 1571 oleh Watkin’s & Robertts. Inggris dan koloninya di Amerika baru tahun 1752 mengikuti kalender Gregorian, dengan merevisi 11 hari, bahwa tanggal 2 September esoknya dinyatakan 14 September 1752. George Washington yang lahir 11 Februari 1731 (1742 ?), setelah tahun 1752 hari ulang tahunnya berubah menjadi 22 Februari.

Di Amerika berkembang penerbitan almanac, yang memuat himpunan informasi, hari, pecan, bulan, tahun, waktu terbit matahari dan bulan, info astronomi, kewilayahan, data sejarah, ramalan hari baik, buruk dan sebagainya. James, saudara Benyamin Franklin menerbitkan almanac tahun 1728. Tahun 1752 Benyamin Franklin menerbitkan “Poor Richard Almanac”. Setidaknya 25 tahun karya itu amat laris di pasaran dan menjadi sumber kekayaan serta pengaruh Yayasan Franklin.

Perancis menggunakannya sejak 1582, tetapi saat Revolusi Perancis berganti Kalender Revolusi 24 November 1793. Napoleon Bonaparte menggantinya dan kembali menggunakan kelender Gregorian di depan Senat tanggal 9 September 1805.

Jepang tahun 1873, dengan angka tahun kalender Jepang yang disebut Syowa. Rusia sejak tahun 1918, kemudian diganti Kalender Revolusi Bolsheviks. Tahun 1940 kembali menggunakan kalender Gregorian.

Cina tahun 1912, tetapi tetap menggunakan perhitungan gabungan sistem bulan-matahari, yakni kalender qamariyah dengan memperhitungkan musim. Kalender Cina ada tahun matahari (Yang-lek) dan tahun bulan (Im-lek). Tak heran, bila tahun baru Imlek ditandai hujan, karena memang dihitung berdasar sistem musim tadi. Yunani menggunakannya sejak tahun 1924 dan Turki sejak 1927 semasa Kemal Ataturk.

Kalender Julian telah mengalami beberapa perubahan. Kalender Gregorian dari nama Paus Gregorius dengan Tahun Masehi inilah yang kini menjadi penanggalan internasional berlaku di seluruh dunia.

Kalender Indonesia

Penerbit Balai Pustaka pernah menerbitkan Almanak Rakyat bertajuk Volk Almanak, berbahasa Melayu/Indonesia dan berbahasa daerah Jawa, Sunda dan lainnya. Pihak swasta juga aktif menerbitkan. Misalnya, Almanak Nasional, tahun 1951. Dalam bahasa Jawa, ada Almanak Maha Dewa, 1951 dan Almanak Dewi Sri, 1971, Penerbit UP, Yogyakarta. Di Banda Aceh diterbitkan Almanak Umum tahun 1959, oleh penerbit Atjeh Press Service.

Dalam kalender berbahasa Indonesia penamaan bulan mengikuti Masehi, tetapi nama hari mengikuti urutan angka Arab. Ahad/Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at dan Sabtu. (Ahad, Isnain, Tsulatsa, Arba’ah, Khamsah, Sittah (Jum’ah), dan Sab’ah). Hari keenam mendapat nama khusus dari Allah, agar kaum muslimin menunaikan ibadah berjama’ah (QS Jum’ah: 9).

Penamaan hari Minggu dari bahasa Portugis Dominggo artinya hari Tuhan, yakni berkenaan dengan kepercayaan penganut Kristen bahwa pada hari itu Tuhan Pencipta alam beristirahat dan pada versi lain sebagai hari Yesus bangkit.

Demikian sekilas riwayat kalender Masehi, disusun berdasar kepercayaan Mesir Purba, Romawi Purba, yang dirumuskan (diubah dari sistem bulan ke sistem matahari) oleh Julius Caesar dan pakar astronomi. Kaisar Constantinus memasukkan nama hari yang diserap dari kepercayaan rakyat Mesir Purba dan Romawi Purba, Kristen dan Yahudi. Paus Gregorius telah menyempurnakannya dan dipakai oleh masyarakat dunia. Penggunaan kalender Masehi dibuat untuk kepentingan kepercayaan agama Kristen: tentang hari lahir al-Masih, Paskah, kebangkitan Yesus.

Setiap muslim hendaknya dapat teliti dalam kehidupan sehari-harinya. Bahwa nama bulan pada kelender Romawi, ternyata dipengaruhi kepercayaan masa purba yang tidak sesuai dengan aqidah tauhid. Yang benar dapat diambil, yang batil ditinggalkan.***(voa-islam/
Kamis, 31 Dec 2009)

MUI : PEMAIN DAN SUPORTER SEPAK BOLA DILARANG MENJAMAK SHOLAT


SURABAYA
– Kandas sudah, wacana Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang yang mengusulkan fatwa shalat jamak bagi suporter sepak bola. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur menyatakan bahwa shalat jamak demi menonton atau bermain sepak bola adalah terlarang.

Demi menonton klub sepak bola kesayangannya, para suporter biasanya meninggalkan kewajiban shalat. Kalaupun ada yang shalat, biasanya mereka menjamak shalat zuhur dengan ashar.

Terhadap orang yang menjamak shalat demi menonton sepak bola, MUI Jatim menegaskan bahwa suporter sepak bola dilarang melakukan jamak shalat (melaksanakan dua waktu shalat wajib dalam satu waktu). Kecuali bila suporter itu berasal dari kota atau daerah lain yang berjarak sekitar 96 kilometer dari stadion.

"Tidak ada hukum fikih yang memperbolehkan suporter lokal menjamak shalatnya," kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur K.H. Abdusshomad Buchori di Surabaya, Sabtu (3/4/2010).

Pernyataan Kiai Shomad itu untuk menanggapi wacana dari MUI Kota Malang yang mengusulkan dikeluarkannya fatwa tentang jamak shalat bagi suporter sepak bola.

Munculnya wacana itu dilatarbelakangi oleh dugaan banyaknya suporter sepak bola yang meninggalkan shalat asar karena menyaksikan tim kesayangannya bertanding sehingga memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjamak taqdim shalat asar dengan saat zuhur.

Hal itu juga terlihat pada saat Panitia Pelaksana Pertandingan (Panpel) Arema Malang yang mewajibkan para penonton memasuki Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, sebelum pukul 13.30 WIB, karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan rombongan menonton pertandingan antara tim tuan rumah melawan Persitara Jakarta Utara di ajang kompetisi Liga Super Indonesia, Selasa (30/3).

Menurut Kiai Shomad, suporter sepak bola yang menonton pertandingan sepak bola di lapangan tidak dalam kondisi darurat sehingga sesuai aturan syariah tidak diperkenankan menjamak shalatnya.

Begitu juga dengan pemain sepak bola, tidak ada hukum yang membolehkan menjamak shalatnya karena alasan sedang bertanding. Hal itu juga berlaku bagi suporter dan pemain cabang olah raga lainnya.

"Setiap pertandingan sepak bola ada waktu istirahat. Panitialah yang berkewajiban memberikan kesempatan kepada pemain dan penonton untuk melaksanakan shalat," katanya.

Oleh sebab itu, MUI Jatim tidak akan mengeluarkan fatwa yang membolehkan suporter dan pemain sepak bola menjamak shalat karena aturan syariah yang ada sudah jelas. [taz/ant/voa-islam/Sabtu, 03 Apr 2010]

Senin, 29 Maret 2010

Langkah Praktis Agar Remaja Muslim Bisa Berdakwah

Published by Admin on March 23, 2010

ISLAM bukanlah keyakinan yang individualistik dan ego-sentris. Kaum muslimin memiliki tugas untuk menyebarkan ajaran-ajaran agama. Islam mengajarkan bahwa setiap muslim dan muslim memiliki andil untuk berdakwah. Tak terkecuali para pemuda dan remaja muslim. Kita semua diharuskan untuk mengajak teman-teman kita agar dekat dengan Allah. Jika demikian, maka segenap pemuda dan remaja muslim memiliki peran krusial dalam dakwah. Yup, mengenai hal ini, semua pasti setuju.

Allah telah mendudukkan para remaja dan pemuda di posisi yang mungkin tidak ada orang lain yang mendudukinya. Karena mereka menjadi orang-orang dekat yang berkomunikasi dengan kawan dekat mereka dan lebih memahami mereka.

Namun, setelah kita memiliki tekad untuk berdakwah mengajak teman-teman untuk dekat dengan Allah, maka seringkali kita dihadapkan pada kendala untuk menjelaskan ajaran-ajaran dan gaya hidup Islami kepada mereka. Sebagai contoh, kita kemudian mesti menerangkan kepada teman-teman mengapa kita mengenakan jilbab? Atau untuk pria, mengapa kita harus memanjangkan jenggot dan mengenakan celana di atas mata kaki? Dan yang lainnya.

… setelah memiliki tekad untuk berdakwah mengajak teman-teman, maka seringkali kita dihadapkan pada kendala untuk menjelaskan ajaran dan gaya hidup Islami kepada mereka…

Nah, ketika kamu harus mengajak mereka agar dekat dengan Allah dan Rasul-Nya, serta mengajarkan kepada mereka prinsip-prinsip Islam, maka kamu jangan panik. Di bawah ini ada beberapa tip dan nasihat yang dapat membantu:

1. Bermaksud tanpa pamrih dan tulus

Segala tindakan dan amal yang kita lakukan harus karena Allah. Pun demikian dengan tugas untuk mendekatkan seseorang kepada Allah. Artinya, jangan dilakukan dengan penuh arogansi dan kasar. Bayangkan saja jika kamu adalah seorang guru yang harus banyak berkorban secara tulus untuk para murid. Karena sesungguhnya hidayah hanya datang dari Allah.

2. Praktikkan apa-apa yang kamu ajarkan dan nashati

Karena dengan tidak mempraktikkan apa-apa yang kamu ajarkan dan nasihati, maka hal itu adalah sebuah kekeliruan, dan kamu akan kehilangan kepercayaan dari orang-orang.

3. Jadikan Al-Qur’an dan sirah (biografi) Nabi Muhammad sebagai petunjuk dalam berdakwah.

Baca dan pahami ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang bagaimana Rasulullah mempresentasikan risalah Islam kepada umatnya. Lalu bacalah kitab-kitab sejarah Rasul untuk melihat bagaimana beliau menyajikan Islam ke banyak orang yang berbeda-beda, termasuk kepada para remaja dan pemuda ketika itu. Demikian pula, bacalah pengalaman-pengalaman para juru dakwah lainnya ketika berdakwah.

… Baca dan pahami ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang bagaimana Rasulullah mempresentasikan risalah Islam kepada umatnya…

4. Bicaralah kepada orang-orang seakan-akan kamu tidak mengetahui mereka.

Jangan mengira bahwa kamu bisa mengetahui seseorang hanya dengan melihatnya. Misalkan, kamu menyangka bahwa seorang remaja atau pemuda muslim yang tidak pernah melaksanakan shalat Jumat di sekolah atau kampus adalah seorang muslim yang buruk. Padahal, dia mungkin tidak tahu bahwa shalat Jumat itu adalah sebuah kewajiban bagi laki-laki. Maka ada baiknya jika kamu mendekatinya, bertanya dan memberitahunya mengenai hal itu.

5. Tersenyumlah

Kamu pasti tahu bahwa Rasulullah adalah sosok yang murah senyum. Namun kebanyakan muslim dan muslimah sekarang ini begitu sulit untuk menyunggingkan senyum di wajah mereka.

Tersenyum, berlaku santun dan baik merupakan bagian dari akhlak Rasulullah yang harus diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika kita ingin melakukan pendekatan kepada seseorang, maka kita harus membuat diri kita approachable (mudah didekati). Maka senyum menjadi kuncinya.

Tindakan approachable yang kita lakukan tersebut tidak berarti kita menjadi seseorang yang genit dan penggoda lawan jenis. Karena Islam mengatur bagaimana seharusnya pria dan wanita berinteraksi. Dakwah tidak bisa menjadi alasan seseorang terlibat dalam obrolan panjang dengan lawan jenisnya.

6. Ambil inisiatif dan berkumpullah bersama mereka

Ambil langkah awal dan ajaklah seseorang yang ingin kamu ajak bicara untuk makan siang bersama atau buka bersama di bulan Ramadhan. Pun demikian, mengurai kesulitan bersama, memecahkan persoalan, atau berbagi kesedihan untuk kemudian dicarikan solusinya. Be a shoulder to cry on. Ya siapkan bahumu untuk dijadikan sandarannya saat menangis. Atau menjadi teman untuk mendiskusikan beragam persoalan. Namun jika persoalan itu adalah sesuatu yang serius, semisal temanmu hendak melakukan bunuh diri atau mengonsumsi narkoba, maka ada baiknya jika kamu berkonsultasi dengan orang-orang dewasa atau para pakar.

… Be a shoulder to cry on. Ya siapkan bahumu untuk dijadikan sandarannya saat menangis. Atau menjadi teman untuk mendiskusikan beragam persoalan…

7. Tunjukkan bahwa Islam adalah agama yang relevan untuk kapan pun dan di mana pun.

Tunjukkan kepada mereka bahwa Islam adalah agama yang relevan dan up to date; untuk kapan pun dan di mana pun

Tak sedikit remaja dan pemuda yang menganggap bahwa Islam adalah kuno dan jadul (old fashoned). Maka kamu harus membuktikan bahwa asumsi mereka adalah salah besar. Tunjukkan bahwa Islam adalah sesuatu yang realistis. Seperti tentang hubungan dengan Allah, tunjukkan kepada mereka bahwa setiap muslim bisa dekat dengan Allah; di mana saja dan kapan saja. Allah bahkan bisa lebih dekat dengan mereka dari urat nadi mereka.

Dorong mereka untuk meminta pertolongan Allah setiap kali menghadapi kesulitan, ujian, atau persoalan-persoalan di rumah. Tekankan kepada mereka bahwa Islam sangat dekat dengan remaja dan pemuda. Islam sangat memperhatikan mereka dan mengerti siapa mereka dan hendak ke mana mereka melangkah. Yan mana hal-hal tersebut tidak dapat dilakukan teen culture lainnya.

8. Ajak mereka untuk terlibat dalam kerja-kerja sukarelawan denganmu.

Jika kamu sudah terlebih dulu bergabung dalam sebuah komunitas, maka bantulah teman-temanmu untuk juga terlibat dalam komunitas-komunitas yang positif. Libatkan mereka dalam curah gagasan mengenai aktivitas sekolah, rohis, dan lainnya. Karena dengan begitu, teman-temanmu merasa bahwa mereka adalah bagian dari komunitas muslim dan memiliki potensi serta andil.

… Jika kamu sudah terlebih dulu bergabung dalam sebuah komunitas, maka bantulah teman-temanmu untuk juga terlibat dalam komunitas-komunitas yang positif…

9. Lontarkan 4 pertanyaan pokok kepada mereka.

Ketika relasi pertemananmu semakin berkembang, maka kamu bisa melemparkan beberapa isu atau topik yang serius. Sebagai contoh, kamu bisa mendiskusikan tentang tujuan-tujuan dan rencana-rencana masa depan. Dengan demikian, sedikitnya ada 4 pertanyaan yang dapat mengantarkan tema menuju Allah dan Islam. Pertama, apa tujuan hidupku dan apa yang dapat mendatangkan kebahagiaan dalam hidupku? Kedua, apa yang harus aku yakini? Ketiga, kepada siapa aku harus berterimakasih dan bersyukur? Keempat, bisakah aku sampai di posisi di mana aku berada tanpa bantuan siapa pun?

10. Tekankan pentingnya kewajiban shalat lima kali

Sebelum mendiskusikan atau mengajak mereka melakukan berbagai aspek di dalam Islam, tekankan pentingnya kewajiban shalat lima kali dalam sehari kepada mereka.

Dalam basis ibadah sehari-hari, hubungan seseorang dengan Allah dilihat dari shalat yang dilakukan lima kali sehari. Jangan melontarkan berbagai aspek Islam lain sebelum teman-temanmu bertekad untuk menjaga shalatnya. Beritahu mereka bahwa hubungan langsung seseorang dengan Allah ada pada shalat. Apabila mereka menghadapi kesulitan, ajarkan kepada mereka bagaimana shalat yang benar sesuai petunjuk Nabi Muhammad. Jika memungkinkan, lakukanlah shalat berjamaah pada saat kalian berkumpul atau bepergian. Jika mereka sudah rajin shalat, barulah lontarkan ajaran-ajaran Islam lainnya kepada mereka.

… Jangan melontarkan berbagai aspek Islam lain sebelum teman-temanmu bertekad untuk menjaga shalatnya. Beritahu mereka bahwa hubungan langsung seseorang dengan Allah ada pada shalat…

11. Selalu mendukung mereka

Ingatlah bahwa ketika seseorang semakin sering mempraktikkan ajaran-ajaran Islam, maka hal ini tidak berarti mereka telah sempurna berislam dan akan giat seterusnya. Karena tetap akan ada masa-masa yang sulit. Terkadang ada waktu ketika teman-temanmu memiliki keraguan atas ajaran-ajaran Islam. Jadi, tetaplah mendukung mereka dan ‘tenangkanlah’ mereka. Selamat mencoba.(Published by Admin on March 23, 2010)