sampaikanlah walau satu ayat

Selasa, 17 Agustus 2010

Tujuan Utama Dakwah Setan

Di antara bentuk dosa yang dilalaikan dan dipandang remeh oleh kaum muslimin adalah dosa kesyirikan. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis akan menjelaskan sedikit tentang bahaya syirik. Semoga dengan pembahasan ini dapat mengubah pandangan kita selama ini tentang bahaya kesyirikan yang mungkin belum kita ketahui.

Syirik Merupakan Salah Satu Pembatal Islam

Di antara sebab terbesar batalnya Islam seseorang adalah berbuat syirik kepada Allah Ta’ala. Yaitu dengan beribadah kepada selain Allah Ta’ala, di samping juga beribadah kepada Allah, seperti bernadzar kepada selain Allah, bersujud kepada selain Allah, atau meminta pertolongan kepada selain Allah dalam hal-hal yang tidak ada yang bisa memenuhinya kecuali Allah Ta’ala saja. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. (QS. Al-Maidah [5]: 72)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya,“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang tingkatannya di bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’ [4]: 48)

Oleh karena itu, kesyirikan adalah dosa yang paling berbahaya, namun banyak dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai muslim dan mengucapkan “laa ilaaha illallah”. Mereka memang melaksanakan shalat dan puasa. Akan tetapi mereka mencampur amal ibadah mereka dengan syirik akbar, sehingga mereka pun keluar dari Islam.

Syirik Merupakan Tujuan Utama “Dakwah” Setan

Tauhid merupakan fitrah yang Allah Ta’ala ciptakan untuk manusia. Setiap manusia yang ada di dunia ini terlahir di atas fitrah tauhid, meskipun dia dilahirkan oleh orangtua yang musyrik. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,“Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari tulang punggung mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ’Bukankah Aku ini Rabb-mu? ’Mereka menjawab,’Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’” (QS. Al-A’raf [7]: 172)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidak ada satu pun anak yang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fitrah. Orang tuanya-lah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti seekor hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat (sama persis dengan induknya), apakah Engkau merasakan adanya cacat padanya?“ (HR. Bukhari no. 1385 dan Muslim no. 6926)

Karena manusia dilahirkan di atas fitrah tauhid, maka setan akan berusaha mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyesatkan manusia agar mereka menyimpang dari fitrah tauhid tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya Rabb-ku memerintahkanku untuk mengajari kalian apa-apa yang belum kalian ketahui. Di antara hal-hal yang diajarkan kepadaku hari ini adalah, setiap harta yang Aku berikan kepada hamba-Ku, maka (menjadi) halal baginya. Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-Ku seluruhnya dalam keadaan hanif (menjadi seorang muslim,pen.). Kemudian datanglah setan kepada-Nya yang menjadikan mereka keluar dari agama mereka. Serta mengharamkan hal-hal yang Aku halalkan untuk mereka. Dan juga menyuruh mereka untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak Aku turunkan keterangan tentang itu … ” (HR. Muslim no. 7386)

Setan sendiri telah berjanji di hadapan Allah Ta’ala bahwa dia akan berusaha untuk mengubah fitrah yang telah AllahTa’ala ciptakan untuk manusia. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,“Yang dilaknati Allah dan setan itu mengatakan, ’Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang sudah ditentukan (untuk saya). Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya. Dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu mereka benar-benar mereka mengubahnya’. Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-Nisa’ [4]: 118-119)

Para ulama ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud ayat,”Dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah)”.Adapun pendapat yang paling tepat sebagaimana yang dipilih oleh Abu Ja’far Ath-Thabary rahimahullah adalah,”Mengubah agama Allah.” (Lihat Tafsir Ath-Thabary, 9/222)

Syaikh Muhammad Asy-Syinqithi rahimahullah menjelaskan,”Sebagian ulama mengatakan bahwa makna ayat ini adalahsetan menyuruh mereka untuk kafir dan mengubah fitrah agama Islam yang telah Allah Ta’ala ciptakan untuk mereka. Perkataan ini dijelaskan dan ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus’ (QS. Ar-Ruum [30] : 30). Maksudnya adalah, janganlah mengubah fitrah yang telah diciptakan atas kalian dengan (mengerjakan) kekafiran”. (Tafsir Adhwa’ul Bayan, 1/341)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,”Sesungguhnya setiap orang dilahirkan di atas fitrah (yaitu tauhid,pent.). Akan tetapi orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nasrani, Majusi, atau yang semisalnya dari fitrah yang telah Allah tetapkan kepada hamba-Nya. Fitrah itu adalah mentauhidkan Allah, mencintai-Nya, dan mengenal-Nya. Setan akan memburu mereka dalam masalah ini sebagaimana binatang buas yang memburu seekor kambing yang terpisah dari kawanannya”. (Tafsir Taisir Karimir Rahman, hal.204)

Dari sini jelaslah bahwa tujuan utama “dakwah” setan adalah menjerumuskan manusia ke dalam kesyirikan. Karena ketika manusia sudah terjerumus ke dalamnya, maka batal-lah tauhidnya. Dan ketika tauhidnya sudah batal, maka sebanyak apa pun amal shalih yang diperbuatnya, semuanya akan menjadi sia-sia belaka. Sehingga setan pun tidak mempunyai kepentingan lagi untuk mengganggunya.

Oleh karena itu, kita kadang melihat orang-orang yang berbuat syirik dengan beribadah di makam orang-orang shalih, mereka beribadah dengan melaksanakan shalat, berdzikir, atau membaca Al Qur’an dengan penuh kekhusyu’an. Bahkan bisa jadi mereka beribadah di sisi makam tersebut semalam suntuk tanpa merasa lelah dan mengantuk. Sesuatu yang mungkin sangat sulit dilakukan oleh orang-orang selain mereka. Demikianlah, kekhusyu’an mereka itu tidak lain karena memang setan tidak lagi mempunyai kepentingan untuk mengganggu ibadahnya tersebut. Karena setan sudah mengetahui, bahwa sebanyak apa pun amal ibadah yang mereka lakukan semuanya akan sia-sia belaka dan tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala.

Syirik Merupakan Dosa yang Tidak Akan Diampuni Jika Tidak Mau Bertaubat

Allah Ta’ala berfirman,Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang tingkatannya lebih rendah dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’ [4]: 48)

Ayat ini menunjukkan betapa berbahayanya dosa syirik karena Allah Ta’ala tidak akan mengampuninya kecuali jika pelakunya bertaubat darinya. Padahal, ampunan dan rahmat Allah Ta’ala sangatlah luas dan meliputi segala sesuatu. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Hajj [22]: 60)

Hal ini diperkuat oleh hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang wanita sedang menggendong anaknya sambil memberi makan, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya,“Menurut kalian, apakah ibu ini tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Para sahabat menjawab,”Tidak, demi Allah! Dia tidak akan tega, selama dia mampu untuk tidak melemparkan anaknya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Sungguh Allah lebih mengasihi para hamba-Nya dibandingkan kasih sayang ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari no. 5999 dan Muslim no. 7154)

Ayat dan hadits di atas menunjukkan betapa besar kasih sayang dan ampunan Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya, melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Akan tetapi, orang-orang musyrik tidak ikut tercakup di dalamnya. Hal ini menunjukkan begitu besarnya kejahatan dan kedzaliman yang ditimbulkan oleh kesyirikan.

Maka barangsiapa yang meninggal di atas kesyirikan, maka dia tidak akan diampuni. Sehingga hal ini menunjukkan betapa bahayanya kesyirikan. Kita wajib menghindarinya sejauh-jauhnya. Setiap dosa masih mungkin dan masih ada harapan untuk diampuni jika pelakunya tidak bertaubat, kecuali dosa syirik. Sedangkan kesyirikan tidak mungkin untuk dihindari kecuali dengan mempelajarinya dan mengetahui bahayanya. (Lihat I’anatul Mustafiid, 1/95)

Apabila seseorang berbuat syirik kemudian bertaubat dan meninggal di atas tauhid, maka Allah Ta’ala akan mengampuni dosa-dosanya, termasuk dosa syirik. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah,’Hai hamba-hambaKu yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar [39]: 53)

Inilah sebagian kecil di antara bahaya-bahaya kesyirikan. Oleh karena itu, sudah selayaknya apabila seseorang sangat takut untuk terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Dalam hal ini, Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam telah memberikan teladan kepada kita ketika beliau berdoa kepada Allah Ta’ala, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata,’Wahai Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman. Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Wahai Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan mayoritas manusia’”. (QS. Ibrahim [14]: 35-36)

Ibrahim ‘alaihis salaam berdoa seperti itu, padahal beliau telah memiliki kedudukan yang sangat tinggi sebagai kekasih Allah (khalilullah). Meskipun demikian itu keadaan Ibrahim ‘alaihis salaam, beliau tetap mengkhawatirkan apabila dirinya jatuh terjerumus ke dalam perbuatan syirik, karena hati manusia berada di antara jari-jemari Ar-Rahman. Oleh karena itulah, sebagian ulama mengatakan,”Dan siapakah yang merasa aman dari ujian setelah Ibrahim ‘alaihis salaam (tidak merasa aman)?” Karena Ibrahim ‘alaihis salaam mengkhawatirkan dirinya kalau terjerus ke dalam perbuatan syirik ketika beliau melihat banyak manusia yang terjerumus ke dalamnya. Wallahu a’lamu. [At Tauhid edisi VI/01 / 31 December 2009]

Kirim buletin ini Kirim buletin ini Cetak buletin ini Cetak buletin ini


Makna Kekalahan yang Sebenarnya


Banyak deskripsi tentang makna kekalahan umat Islam. Ada yang berpendapat, kekalahan umat ini terjadi ketika umat Islam tertinggal dari sisi teknologi dan ilmu pengetahuan. Sehingga ketika umat Islam tertinggal dari sisi itu, namun undang-undang dan sistem pemerintahan yang diterapkan adalah syariat Islam masih terkategori sebagai umat yang kalah.

Ada juga yang berpendapat bahwa kekalahan umat Islam adalah ketika mereka terbelakang dan lemah dari sisi ekonomi. Bagi mereka, ketika banyak negeri Islam yang berusaha menegakkan syariat Islam namun kesejahteraan rakyatnya belum terpenuhi maka dia memandangnya sebagai kekalahan. Sebaliknya, jika ada negara yang mayoritas penduduknya umat Islam namun aturan, undang-undang, dan sistem pemerintahannya mengadopsi dari negeri kafir yang bertentangan dengan syariat Islam lalu penduduknya mengalami peningkatan ekonomi maka disebut sebagai umat yang merdeka dan sejahtera. Dan masih banyak pengertian yang salah tentang makna kekalahan dan keterpurukan umat Islam. Berikut ini kami sebutkan beberapa makna kekalahan dalam perspektif Islam.

Pertama, bahwa kekalahan Umat Islam adalah apabila mereka mengikuti syariat orang-orang kafir dan aturan yang dibuat oleh hawa nafsu mereka.
Allah Ta'ala berfirman,

وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS. Al Baqarah: 120)

Dalam ayat yang lain,

وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ

"Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Baqarah: 145)

Maka ketika seorang muslim meninggalkan syariat agamanya dan menyatakan diri telah mengikuti syariat/ajaran Yahudi dan Nashrani atau ajaran kufur lainnya seperti sekularisme, atheisme, Modernisme, demokrasi, dan semisalnya, baik secara keseluruhan atau sebagiannya saja, maka inilah hakikat puncak kekalahan dan kehinaan. Sehingga suka atau tidak dia harus mengikuti kemauan dan selera Yahudi dan Nashrani serta ajaran-ajaran kafir lainnya untuk mengatur ekonomi, pemerintahan, dan perundang-undangan, walau tanpa mengikuti agama kafir mereka.

Kedua, bersikap lunak dan lembut terhadap orang-orang kafir. Allah Ta'ala berfirman,

فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

"Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)." (QS. Al-Qalam: 8-9)

Firman Allah, "Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)," adalah larangan AllahSubhanahu wa Ta'ala kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam dalam mentaati para pendusta –yaitu kafir Makkah- karena mereka menyalahi kebenaran. Imam al-Qurthubirahimahullah dalam tafsirnya (18/230) menerangkan tentang larangan Allah kepada Rasul-Nya agar tidak cenderung dan condong (sehingga bersikap lunak) terhadap kaum musyrikin. Mereka mengajak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam agar berhenti menyerang mereka sehingga merekapun berhenti mengganggunya. Kemudian Allah menjelaskan bahwa bersikap cenderung dan lunak kepada mereka adalah kekufuran. Lalu Imam al-Qurthubi menukil firman Allah Ta'ala,

وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئاً قَلِيلاً

"Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka." (QS. Al-Isra': 74) Karenanya terdapat sekelompok orang yang tersesat dengan menyangka bahwa mudahanah (sikap lunak dengan meninggalkan ketegasan Islam untuk mendapat kepentingan dunia) yang diharamkan adalah mudarah (sikap lembut untuk menghindari mafsadat yang besar) yang dibolehkan. Akhirnya mereka membuka pintu kekalahan diakibatkan kebodohan atau pura-pura bodoh sehingga mereka memasukinya dengan menamakannya sebagai mudarah syar'i.

Untuk memperjelas persoalan ini kami sampaikan bahwa Mudarah dengan Mudahanah adalah dua hal yang berbeda. Mudarah dibolehkan, beda dengan mudahanah. Dan mudarah adalah berkata lembut dan bersikap baik terhadap orang yang menyelisihi tanpa mengakui sebuah kebatilan atau membenarkannya. Jika pengakuan dan dukungan kepada kebatilan itu ada maka bukan lagi disebut mudarah, tapi mudahanan.

mudarah adalah berkata lembut dan bersikap baik terhadap orang yang menyelisihi tanpa mengakui sebuah kebatilan atau membenarkannya. Jika pengakuan dan dukungan kepada kebatilan itu ada maka bukan lagi disebut mudarah, tapi mudahanan.

Dalam sebuah hadits disebutkan, ada seorang laki-laki meminta izin kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika melihatnya, beliau bersabda: “Alangkah buruknya saudara qabilah, alangkah buruknya anak lelaki kabilah." Lalu ketika duduk, Nabi Muhammad tampak cerah wajahnya, dan melonggarkan baginya. Lalu ketika orang itu pergi Aisyah bertanya: "Ya Rasulullah, Ketika Engkau melihat orang itu Engkau katakan kepadanya, begini-begini, kemudian Engkau berwajah cerah di hadapannya, dan Engkau lapangkan baginya." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: “Ya Aisyah, kapan kamu melihatku berkata kotor? Sesungguhnya manusia paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah orang yang ditinggalkan manusia lain karena takut keburukannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan At Tirmidzi)

Lihatlah bahwa beliau tidak berkata batil dan tidak mendukung sesuatu yang batil, tidak berbuat maksiat dalam sikapnya ini. Sikap beliau ini sebagai upaya untuk menghindari keburukan dan lainnya dengan cara yang syar'i. Beliau tidak mencampur aduk dengan kemaksiatan. Sungguh telah banyak hadits yang memuji sikap mudarah terhadap orang karena sikap tersebut termasuk bagian dari akhlak yang baik dalam beberapa kondisi.

Perbedaan mendasar antara Mudarah dengan Mudahanah adalah: Bahwa mudarah mengorbankan dunia untuk kebaikan dunia atau agama atau keduanya secara bersamaan. Mudarah adalah mubah atau dibolehkan, terkadang sangat dianjurkan. Sedangkan mudahanah adalah meningalkan agama untuk mendapatkan dunia.

mudarah mengorbankan dunia untuk kebaikan dunia atau agama atau keduanya secara bersamaan.

Sebagaimana yang diungkapkan di depan bahwa kekalahan kelompok-kelompok yang menisbatkan dirinya kepada Islam pada hari ini adalah ketika mereka sudah bermudahanah terhadap musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka telah menipu diri mereka sendiri dan menipu manusia dengan mengatakan bahwa ini adalah mudarah yang syar'i. Padahal itu merupakan kekalahan dan kehinaan yang sebenarnya serta mudahanah buta dengan membalik kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran. Sikap seperti itu termasuk bentuk mengorbankan agama untuk kebaikan dunia dan kepertingan pribadi. Kalau sudah seperti ini dan tetap seperti ini, bagaimana akan datang kemenangan bagi umat Islam?

Mudahanah adalah mengorbankan agama untuk kebaikan dunia dan kepertingan pribadi.

Ketiga, condong dan cenderung kepada orang kafir dan orang-orang jahat.
Allah Ta'ala berfirman,

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا

"Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami." (QS. Al-Isra': 73-75)

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan." (QS. Huud: 113) Siapa yang cenderung atau mentaati orang-orang kafir atau dzalim, maka pasti dia mendapat ancaman dengan neraka dan siksa pedih di akhriat.

Dan siapa yang memperhatikan makna kekalahan yang sebenarnya ini dapat kita simpulkan bahwa perjuangan umat Islam di belahan bumi Afghanistan dan Irak pada khususnya bukan merupakan kekalahan. Karena mereka tidak mau mengikuti dan tunduk kepada orang-orang kafir dan sistem mereka juga tidak mau ada ketergantungan kepada orang-orang kafir sehingga tidak bisa menyetir dan menguasi mereka. Kaum mujahidin tersebut juga tidak mau menjilat dengan berkata yang membuat orang-orang kafir; Amerika, Inggris, Perancis, dan sekutu-sekutu mereka ridla.

Sebaliknya, umat Islam di belahan bumi lain yang terlihat damai dan sejahtera tapi hukum dan pemerintahan mereka di bawah kendali dan kontrol negara-negara kafir sehingga dengan suka atau tidak harus menerima dan menerapkan demokrasi dan sistem kufur lainnya merupakan umat yang kalah dan terhina.

Maka hendaknya bagi setiap muslim agar berpegang teguh dengan prinsip akidah dan agama mereka. Hendaknya pula mereka selalu merasa tinggi dan menang meskipun mereka tertimpa banyak kesusahan dan terluka. Allah Ta'ala berfirman,

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim." (QS. Ali Imran: 139-140)

Oleh: Badrul Tamam

Jum'at, 23 Jul 2010

Senin, 16 Agustus 2010

Nasihat dan Doa Ulama Untuk Menolong Gaza

Ulama ibarat pembawa cahaya yang akan menyinari umat manusia dari kegelapan. Melalui mereka, manusia akan terbimbing di atas hidayah dan terselamatkan dari kesesatan. Semua itu karena mereka mewarisi petunjuk Nabishallallahu 'alaihi wasallam, yaitu ilmu Al-Kitab dan hikmah.

Dalam melihat persoalan yang menimpa suadara kita di Gaza yang menderita karena kebiadaban Israel, kita juga membutuhkan arahan dari para ulama. Dengan arahan mereka yang bersandar kepada Al-Qur'an dan Sunnah, kita berharap tepat dalam bersikap sehingga tidak terombang-ambing oleh permainan dan penyesatan opini musuh-musuh Islam di dunia Barat.

Salah satu persoalan yang berusaha dirusak dan dimatikan adalah amal jihad di Gaza. Musuh-musuh Islam selalu berupaya melakukan tasykik (membuat ragu) dan menanamkan syubuhat (salah memahami) akan keabsahan amal jihad di Gaza, kewajiban menolong dan mendoakan para mujahidin dan kaum muslimin di sana.

Keberhasilan musuh-musuh Islam dalam menanamkan tasykik dan syubuhat tadi terlihat dengan munculnya beberapa tokoh atau kelompok di tengah-tengah umat yang sangat meremahkan kondisi umat Islam di Gaza dan membatilkan amal jihad di sana. Akibatnya mereka memandang para mujahidin yang melawan tentara zionis Israel sebagai orang yang salah dalam melakukan jihad fi sabilillah sehingga tidak layak di tolong dan didoakan.

Berikut ini sebuah fatwa dari Syaikh Abdullah bin abdurrahman al-Jibrin hafidzahullah yang dinukil dari salah satu situs.

________________

سم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, Rabba semesta alam. Shalawat dan salah semoga terlimpah kepada rasul termulia, nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya . . .

Sesungguhnya Allah Ta'ala telah mengikat tali ukhuwah (persaudaraan) di antara kaum muslimin, sebagaimana yang Allah Ta'ala firmankan,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara." (QS. Al Hujurat: 10)

فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

"Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara." (QS. Ali Imran: 103)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ

"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak mendzalimi saudaranya, tidak menyerahkannya kepada musuh, tidak menelantarkannya (tidak menolong dan membantunya), dan tidak meremehkannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

"Seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan yang saling menopang." (Muttafaqun ‘Alaihi)

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

"Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan sakit dan tidak bisa tidur." (HR. Muslim) dan dalil-dalil lainnya.

Apa yang menimpa kaum muslimin di jalur Gaza-Palestina sudah sama-sama diketahui pada beberapa tahun terakhir dan dalam beberapa waktu mendatang berupa blokade ekonomi dahsyat dan parah yang diperbuat oleh Negara kafir Zionis dan negara-negara kafir lainnya yang bersatu padu membantunya. Sehingga warga yang tinggal di Jalur Gaza terkena dampak parah dari embargo yang telah menyiksa dan melemahkan mereka.

Ketika Kafir Zionis menyadari ketidakberdayaan, kemiskinan, dan kelemahan penduduk Gaza, -penduduk negeri dekat mereka pada beberapa hari ini juga terancam- tentara Zionis menyerang mereka dengan rudal dan bom, merusak pertanian dan peternakan, membunuh dan melukai lebih dari seribu orang dari warga sipil maupun militer, wanita dan anak-anak. Maksud semua ini adalah untuk melakukan genosida kaum muslimin yang memiliki kecintaan terhadap negaranya.

Zionis menyebut mereka sebagai teroris karena agama Islam yang mereka peluk dan pembelaan mereka terhadap diri dan keluarga, yaitu membela yang lemah dengan semampu mereka. Tidak diragukan lagi bahwa Yahudi adalah musuh Islam sebagaimana yang difirmankan Allah Ta'ala:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik." (QS. Al-Maidah: 82)

Tidak diragukan lagi bahwa Yahudi adalah musuh Islam . .

Atas semua ini, bagi mereka kaum muslimin yang terkena musibah agar bersabar dan berharap pahala dalam musibah yang menimpa mereka ini dan selalu mengingat firman Allah Ta'ala:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan." (QS. Ali Imran: 186)

Dan firman Allah Ta'ala:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 185)

Kami juga berpesan kepada mereka agar bangkit melakukan perlawanan dan pembelaan semampu mereka, bergantung dan meminta kepada Rabb mereka kemenangan atas musuh, dan yakin akan datangnya pertolongan Allah Ta'ala. Karena Allah telah mengatakan hal itu dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)

وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

"Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Anfal: 10)

Mereka harus melaksanakan hak-hak Rabb mereka yang telah diwajibkan atas mereka, yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, komitmen terhadap Syariah, merealisasikan nilai-nilai keimanan, dan tidak takut kecuali kepada Allah semata, serta senantiasa mengingat firman Allah Ta'ala:

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ

"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS. Ali Imran: 175)

Kami juga berpesan kepada mereka agar bangkit melakukan perlawanan dan pembelaan semampu mereka, . .

Kemudian kami mengingatkan kepada kaum muslimin di mana saja agar menjaga hak-hak ukhuwah Islamiyah secara umum. Sesungguhnya kaum muslimin di manapun mereka berada adalah saling bersaudara. Dan bahwa kaum muslimin penduduk Gaza adalah umat Islam yang paling sangat membutuhkan pertolongan saudara-saudara mereka kaum muslimin sesuai kemampuan mereka, sehingga lenyap kedzaliman dan kejahatan musuh dari mereka. Juga menuntut musuh dalam setiap forum untuk menghilangkan kedzaliman dan ketidakadilan yang tidak memiliki pembenaran atau alasan-alasan kuat. Juga mengancam mereka dengan sangsi keras akan kedzaliman dan kejahatan ini.

Kami juga berpesan kepada kaum muslimin di manapun berada untuk selalu mendoakan saudara-saudara mereka di Gaza agar meraih kemenangan dan kemerdekaan. Bisa kita kerjakan pada doa Qunut dalam setiap shalat secara keseluruhan, atau pada shalat Maghrib dan Shubuh. Yaitu mendoakan kebaikan untuk kaum muslimin yang tertindas dan mendoakan kehancuran atas para agresor dan orang-orang dzalim.

Kami juga berpesan kepada kaum muslimin di manapun berada untuk selalu mendoakan saudara-saudara mereka di Gaza agar meraih kemenangan dan kemerdekaan. . .

Yaitu mendoakan kebaikan untuk kaum muslimin yang tertindas dan mendoakan kehancuran atas para agresor dan orang-orang dzalim.

Sebagaimana kami juga berpesan agar bersegera membantu mereka baik materi ataupun moril kalau mungkin, seperti menyumbang dana untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka, karena musuh telah menghancurkan pertanian dan peternakan mereka. Begitu juga kami anjurkan melakukan donor darah untuk kebutuhan mereka yang terluka, mengobati orang-orang sakit dan yang terluka mereka sesuai dengan kemampuan, dengan harapan agar mereka bisa hidup dan kembali bergembira dengan anak dan keluarga mereka. Begitu juga untuk mengirim bantuan materi, seperti pakaian, makanan, peralatan-peralatan, dan segala yang mereka butuhkan.

Kami sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah bergegas untuk membantu saudara-saudara kita di Gaza yang terluka untuk dirawat di rumah sakit-rumah sakit. Dengan demikian mengringankan beban mereka. Begitu juga kami berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah mengirim pertolongan dan bantuan kepada mereka, sebagaimana yang dilakukan raja Saudi Abdullah bin Abdul Aziz. Kami juga menyeru kepada pemimpin-pemimpin kaum muslimin agar segera melakukan lobi politik dan sangsi ekonomi untuk menghentikan kejahatan para agresor dan menampakkan kekuatan kaum muslimin. Kami memohon kepada Allah agar menghilangkan kesusahan kaum muslimin, mengangkat musibah yang menimpa mereka, dan menyelamatkan mereka dari tipu daya dan agresor musuh-musuh Islam, serta mempercepat kemenangan untuk mereka. Wallahu a'lam, shalawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad . . (PurWD/voa-islam/saudistudents.org)

Senin, 07 Jun 2010


TANGKAP ORANG SEMBARANGAN , POLISI PARANOID JUSTRU SEBAR TEROR

Melakukan upaya pencegahan dengan memeriksa orang mencurigakan terkait teroris boleh-boleh saja. Tapi menduga dan memeriksa seseorang terlibat terorisme tidak boleh sembarangan karena ini menjadi paranoid, selain itu, hal ini bisa menimbulkan efek teror baru bagi masyarakat dengan adanya UU Pemberantasan Terorisme.

"Terkait teroris, polisi tentu harus punya dulu data intelijen. Artinya tidak bisa sembarangan memeriksa seseorang yang akhirnya tidak terlibat. Kalau orang cuma foto-foto diperiksa terus diduga teroris, itu namanya berlebihan, paranoid itu," ujar pengamat kepolisian, Bambang Widodo Umar, Senin (16/8/2010) malam.

Bambang percaya, setiap tindakan polisi selalu dilandasi sikap waspada. Namun sampai pada dugaan atau kecurigaan tertentu, perlu data yang lebih akurat. "Tidak bisa asal main tangkap, main tahan, main periksa terus tidak terbukti lepas," imbuhnya.

Terkait 3 pemuda yang ditangkap satpam Ritz-Carlton saat sedang berfoto ria, Bambang mengingatkan agar polisi tidak gegabah. Kewenangan memeriksa seseorang terduga teroris selama 7x24 jam tidak bisa dilakukan semena-mena. "Jangan sampai UU Pemberantasan Terorisme malah menebar teror di masyarakat," tandasnya.

Nukul, Wasit dan Khaerudin ditangkap petugas keamanan Ritz-Carlton saat sedang mengabadikan hotel yang pernah menjadi sasaran bom 17 Juli 2009 lalu. Ketiganya kemudian diperiksa Densus 88 karena diduga terlibat jaringan teroris meski akhirnya dilepaskan karena tidak terbukti. (Ibnudzar/dto)
Jakarta (voa-islam.com) - Selasa, 17 Aug 2010

Inilah Kronologi Terorisasi Aceh yang Dipakai untuk Menjerat Ba'asyir

Penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir dikaitkan dengan tudingan terlibat kegiatan terorisme di Aceh. Inilah kronologi terorisasi di Aceh yang didalangi oleh seorang desertir Brimob:

DESEMBER 2008

Israel melakukan agresi terhadap Gaza untuk yang kesekian kalinya tepatnya 27 Desember 2008 sampai 18 Januari 2009. Dalam serangan agresi ini, Israel menggunakan bom phosphor dan senjata kimia lainnya yang melanggar hukum internasional. Atas serangan agresi membabi-buta tersebut dunia merespon dengan mengeluarkan kecaman. Dunia Islam khususnya memberikan reaksi yang keras atas agresi tersebut. FPI sebagai ormas Islam yang berkedudukan di Indonesia merespon dengan mengumumkan membuka posko-posko untuk pendaftaran mujahidin guna dikirim ke Gaza.

JANUARI 2009

FPI Aceh sebagai salah satu ujung tombak dalam organisasi adalah salah satu yang menjadi pelaksana dari program rekruitmen mujahidin tersebut. Secara resmi, DPD FPI Aceh membuka posko pendaftaran pada tanggal 10 Januari 2009, bertempat di Mushola Nurul Muttaqin, desa Bathoh Banda Aceh dan Pondok Pesantren Darul Mujahidin Lhokseumawe.

Dari hasil pendaftaran tersebut berhasil menjaring sebanyak 125 orang mujahidin untuk dilatih dan kemudian bila memenuhi kriteria dan sesuai kemampuan yang dimiliki organisasi akan diberangkatkan ke Gaza. Pelatihan dilaksanakan pada tanggal 23-27 Januari 2009 di pesantren Darul Mujahidin Lhokseumawe. Pelatihan tersebut berlangsung terbuka dan mendapat liputan dari media lokal khususnya.

Instruktur dalam pelatihan tersebut adalah seorang yang menawarkan diri untuk menjadi pelatih yaitu Sofyan Tsauri, deserter Polisi yang pernah bertugas di Polda Jabar.

FEBRUARI 2009

Para peserta pelatihan di Aceh, yang berjumlah lebih kurang 15 orang datang ke Jakarta untuk persiapan berangkat ke Gaza.

15 Februari 2009, sebagian peserta pelatihan di Aceh yang tengah berada di Jakarta, secara individual tanpa diketahui pimpinan rombongan pergi ke Depok menemui mantan pelatih mereka yaitu Sofyan Tsauri.

21 Februari 2009, selesai persiapan untuk keberangkatan ke Gaza yang ditunda karena berbagai alasan, salah satunya serangan Israel atas Gaza telah berhenti, para mujahidin diminta untuk pulang terlebih dahulu ke Aceh, menunggu instruksi dan perkembangan situasi di Gaza lebih lanjut.

Dari 15 orang mujahidin yang datang ke Jakarta, 5 orang pulang ke Aceh dan 10 orang secara diam-diam, tanpa pemberitahuan ke DPP FPI, pergi ke Depok, rumah tempat tinggal Sofyan Tsauri, mantan pelatih mereka di Aceh.

10 orang tersebut tinggal selama lebih kurang 1 bulan di rumah Sofyan Tsauri dengan biaya yang sepenuhnya ditanggung oleh Sofyan Tsauri, termasuk uang saku dan biaya makan serta kebutuhan lainnya.

FEBRUARI-MARET 2009

Selama kurun waktu akhir Februari hingga akhir Maret 2009, 10 orang yang berasal dari Aceh tersebut dilatih dan diindoktrinasi oleh Sofyan Tsauri. Adapun salah satu bentuk indoktrinasi tersebut adalah membolehkan cara-cara perampokan untuk membiayai jihad, menyebarkan kebencian dan permusuhan semata-mata atas dasar orang asing.

Adapun pelatihan yang dilakukan adalah melakukan pelatihan menembak dengan menggunakan peluru tajam (peluru asli) di dalam Markas Komando Brimob Kelapa Dua. Masing-masing peserta pelatihan diberikan sekitar 30 hingga 40 peluru tajam untuk latihan menembak tersebut.

Peserta latih juga diberikan uang saku perminggu selama proses pelatihan tersebut.

Dari informasi yang didapatkan peserta latih, Sofyan Tsauri ini secara sengaja meletakkan surat pemecatan dari kepolisian untuk dibaca oleh peserta latih, yang berisi bahwa yang bersangkutan dipecat karena terlibat dalam kegiatan jihad, melakukan poligami dan jarang masuk kerja.

JANUARI 2010

6 orang dari 10 orang yang mengikuti pelatihan di Depok, kediaman Sofyan Tsauri, ikut serta dalam pelatihan militer di Jantho Aceh Besar. Pelatihan kali ini juga difasilitasi oleh Sofyan Tsauri.

FEBRUARI 2010

Pelatihan militer di Jantho Aceh Besar disergap oleh aparat keamanan.

MEI 2010

Pelatihan Militer di Jantho Aceh Besar dihubungkan dengan penggerebekan kelompok Dulmatin di Pamulang, dan diekspos oleh kepolisian dan media massa sebagai pelatihan untuk persiapan kegiatan terorisme. [taz/SI] voa-islam.com Jum'at, 13 Aug 2010

TPM: Latihan Militer Tidak Termasuk Tindak Pidana Terorisme

Kuasa Hukum Amir Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) Abu Bakar Ba'asyir mengaku ada sepuluh kejanggalan hukum dalam penangkapan kliennya. Menurut Mahendradatta, dewan pembina Tim Pengacara Muslim (TPM), kejanggalan paling mendasar yaitu tentang kedudukan hukum latihan militer Aceh.

"Pada Bab III UU 15 tahun 2003 juncto Perppu nomor 1 tahun 2002 yang mengatur tindak pidana terorisme, sebuah latihan militer tidak termasuk sebagai suatu tindak pidana terorisme," kata Mahendradatta, Minggu.

Menurut dia, permasalahan yang membelit kliennya juga harus didekati dalam kerangka penegakan hukum. Sayang dia tidak menyebutkan secara detil kejanggalan-kejanggalan lainnya.

Selain itu, Mahendradatta juga menyayangkan selama ini media seolah hanya mengamini stigma yang dipropagandakan kepolisian. "Kalau mau penegakan hukum mari berpikir kritis," ujarnya.

Ia mengaku khawatir, polisi menggunakan cara-cara di luar pengadilan agar latihan militer di Aceh dikategorikan sebagai tindak pidana terorisme. Untuk itu, dia mengimbau pengadilan menjaga kemandirian.

"Kalau latihan militer dianggap kegiatan terorisme, pastinya banyak yang kena tindak pidana terorisme. Satpol PP itu juga suka latihan militer," ujar Mahendradatta.

Minggu kemarin Mahendradatta menjenguk Abu Bakar Baasyir sekaligus berbuka bersama ditemani anggota TPM lainnya yaitu Munarman dan Ahmad Michdan. Mereka dipanggil ke Mabes terkait perpanjangan penahanan Ba'asyir selama empat bulan. (Ibnudzar/vvo) / Jakarta (voa-islam.com) Senin, 16 Aug 2010

KETIMPANGAN HUKUM ANTARA USTADZ BA'ASYIR DAN PEZINA PETERPAN

Sobat muda, masih ingatkah kamu dengan kasus video porno tiga artis yaitu Ariel, Luna Maya dan Cut Tari? Yupz, tiga orang ini adalah pelaku pornoaksi yang efeknya langsung terasa yaitu perkosaan semakin meningkat setelah pelaku menonton video mesum ini. Tak tanggung-tanggung, pelakunya adalah anak di bawah umur sedangkan korbannya adalah gadis cilik di bawah umur pula. Sedikitnya 35 kasus yang diterima oleh Komisi Perlindungan Anak. Ini yang tereskpos. Berapa banyak kasus yang tidak dilaporkan dan menjadi bara dalam sekam dalam merusak moral generasi muda kita?

Coba kamu bandingkan dengan penangkapan Abu Bakar Ba’asyir. Belum ada bukti nyata nan kuat, namun ulama yang sudah tua renta ini malah diperlakukan bak penjahat kelas kakap. Tim penangkap memakai penutup muka lengkap yang hanya kelihatan kedua mata saja. Senjata tertodong seolah-olah korban adalah sosok yang sangat berbahaya. Ustadz Ba’asyir dan teman-temannya diperlakukan sedemikian menghinakan. Masyarakat pun bertanya-tanya, ada apa ini?

Ya, ada apa ini? Awal-awal Ramadhan, umat Islam Indonesia diberi ‘surprise’ pahit oleh kepolisian. Seorang ulama yang sudah sepuh ditangkap lagi, masih dengan alasan yang sama. GeJe alias gak jelas. Alasannya sih nanti di pengadilan saja digelar bukti-bukti yang mengarah Baasyir dituduh menyuport dan mendanai terorisme Aceh. Sikap ini seolah-olah menganggap masyarakat Indonesia bodoh dan mudah dibodohi oleh pihak yang berwajib.

Kasus yang lalu saja masih segar dalam ingatan bahwa penangkapan Ba’asyir sangat kental sekadar memenuhi pesanan sang majikan yaitu Amerika. Beberapa kali sidang pengadilan digelar namun tak ada satu bukti pun bisa menjerat Ba’asyir. Akhirnya ujung-ujungnya dalih pemalsuan dokumen dijadikan alasan. Kalau sekadar pemalsuan dokumen, masa iya sih perlu penangkapan memakai todongan popor senjata segala? Padahal banyak tuh warga negara lain yang memalsukan dokumen juga aman-aman saja tak bisa disentuh hukum sama sekali.

Mengapa pula hal ini penting untuk diketahui oleh kamu para remaja? Hal ini penting untuk dibahas agar kamu semua nyadar bahwa negeri yang kita cintai ini sedang dalam kondisi terjajah. Di tengah nuansa persiapan hari kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus yang akan datang, ternyata kita ini masih masuk kategori negara yang belum merdeka. At least, kepastian dan kemerdekaan hukum masih mahal harganya di sini.

Ariel, Luna Maya dan Cut Tari yang mempopulerkan nama bangsa secara negatif hingga ke luar negeri sana, tak segera diselesaikan secara hukum kasusnya. Bahkan muncul banyak pembela kemesuman mereka dengan dalih HAM. Mereka lupa bahwa HAM yang mereka agung-agungkan itu telah memakan korban dan menodai banyak gadis cilik berusia di bawah 10 tahun. Andai anak mereka sendiri yang mengalami hal tersebut, apa iya HAM masih didengungkan?

Pihak kepolisian menyatakan bahwa penangkapan Ba’asyir demi untuk mengamankan kepentingan masyarakat yang lebih luas. Pernah nggak kepolisian bertindak cepat menangkap Ariel, Luna Maya dan Cut Tari dengan alasan yang sama? Bukankah tindakan tiga orang ini sudah sangat meresahkan masyarakat sehingga perlu diamankan untuk kepentingan bersama? Tapi mana buktinya?

Ariel tidak ditangkap tapi dia datang sendiri ke Mabes Polri menyerahkan diri. Entah siapa pula yang menyuruh dia untuk mengambil langkah tersebut. Ditengarai ada pihak-pihak tertentu yang mendesak Ariel menyerahkan diri setelah Presiden SBY turut campur berkomentar tentang videonya tersebut. Luna Maya bagaimana? Dia masih lenggang kangkung menghadiri pernikahan salah satu teman artis tanpa rasa malu sedikit pun tampil di depan umum. Meskipun untuk Cut Tari, lumayan terpukul dengan kasus video mesum tersebut. Ya iyalah, statusnya kan sebagai seorang istri. Bila syariat Islam diterapkan atas dirinya, hukum rajam hingga mati adalah solusinya.

Di sini jelas, ketimpangan hukum diberlakukan atas keduanya alias berat sebelah. Di satu sisi hukum berpihak pada Ariel sang artis dengan jutaan penggemar, di sisi lain Ba’asyir terzalimi hanya karena ia berdakwah dan membela Islam. Membela sebuah keyakinan yang katanya dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia. Tapi nyatanya, mayoritas penduduk Indonesia yang katanya muslim itu malah lebih membela Ariel si Peterporn daripada Ba’asyir. Begitu juga sikap kepolisian dalam dua kasus yang berbeda ini. Namun yakinlah, kebenaran itu akan tampak sebagaimana kepolisian telah malu hati untuk penangkapan sebelumnya ketika bukti itu tak juga bisa dihadirkan di pengadilan. Maka, makar siapakah yang lebih baik? Sesungguhnya, Allah adalah sebaik-baik pembuat makar. Kita tunggu dan lihat saja perkembangan kasus ini selanjutnya. Wallahu ‘alam. [riafariana/voa-islam.com] Senin, 16 Aug 2010. Cetak | Kirim